Lompat ke isi

2020 The Concept Of 'Ihdad Husband Who Lived With Their Wife (Analytical Study Of Qiraah Mubadalah's Interpretation): Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|editor=|publisher=|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|italic title=Nurani; Jurnal Kajian Syari'ah dan Masyarakat|isbn=2460-9102|pub_date=Dec 31, 2020|cover_artis...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 15: Baris 15:
|Judul Tulisan
|Judul Tulisan
|:
|:
|''[https://doi.org/10.31933/unesrev.v6i3.1783 Konsep Nusyuz dalam Khi dan Penyelesainya Prespektif Mubadalah]''
|''[https://doi.org/10.19109/nurani.v20i2.5536 The Concept of 'Ihdad Husband Who Lived With Their Wife (Analytical Study Of Qiraah Mubadalah's Interpretation)]''
|-
|-
|Penulis
|Penulis
Baris 21: Baris 21:
| ''Laili Izza Syahriyati (Institut Agama Islam Negeri Tulungagung)''
| ''Laili Izza Syahriyati (Institut Agama Islam Negeri Tulungagung)''
|}
|}
'''Abstract'''
'''''Abstract:'''''  


Dalam Kompilasi Hukum Islam, pengertian nusyuz secara eksklusif mengatur tentang nusyuz yang dilakukan oleh istri. Kompilasi Hukum Islam yang menganut hukum nusyuz tetap berpijak pada fikih patriarki yang berlandaskan pada ajaran agama yang mendasar. Dari segi metodologi, KHI tetap menyerupai gagasan para peneliti sebelumnya. Perspektif dan konteks umat Islam Indonesia belum tertanam secara baik dalam rumusan perundang-undangan KHI. Kandungan materiilnya, sebagai hukum positif di Indonesia, adalah keabsahan [[fiqh]] yang memberikan kedudukan tersendiri bagi perempuan. Kajian penelitian dilakukan melalui pendekatan konseptual (conceptual appoarch). Disamping itu penelitian ini juga menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Al-Qur'an memperlakukan nusyuz dari dua sudut pandang, sehingga menjadikannya sebagai penghujatan dalam kaitannya dengan nusyuz. Dengan kata lain, nusyuz itu ada dua macam: satu dari istri (QS. an-Nisa [4]: ​​34) dan satu lagi dari suami (QS. an-Nisa [4]: ​​128). Cara apapun (mauizhatul hasanah, hajrun, dhorbun, islah, ihsan, taqwa) dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
''The purpose of the research is implementation of ihdad husband whose wife died. The interpretation of ihdad was assessed as gender biased because it only talks about women. Women whose husbands die have a period of iddah and ihdad. Al-Quran texts and hadith explain about some of the prohibitions of ihdad women. Classical [[Fiqh]] has nothing to say about ihdad for husbands. Next about ihdad husband will relation with Qira'ah [[mubadalah]]. This research uses this type of research Yuridis-Normative. Qira'ah mubadalah expalin about method of interpretation with in parallel subject text. That is Islamic texts that discuss the subject of women and men have the same meaning. the implementation of ihdad has a main goal is remember and respect and protect the feelings of the family who died. If hikmatuttasyri like that and then ihdad law not only apply to women, but applies also to men. The standart of husband’s ihdad according to costums in society.''


'''''Keywords:''' Ihdad, husband whose wife died, Qiraah Mubadalah''








 
Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: https://doi.org/10.19109/nurani.v20i2.5536
'''''Keywords:''' Nusyuz, KHI, [[Mubadalah]]''
 
Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: '''''https://doi.org/10.31933/unesrev.v6i3.1783'''''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]