Lompat ke isi

2019 Otoritas Agama Ulama Perempuan: Relevansi Pemikiran Nyai Masriyah Amva Terhadap Kesetaraan Gender Dan Pluralisme: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|editor=|publisher=|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|italic title=PALASTREN: Jurnal Studi Gender IAIN Kudus|isbn=|pub_date=Desember 2019|cover_artist=|pages=|se...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 19: Baris 19:
|Penulis
|Penulis
|:
|:
| ''Jamilatul Nuril Azizah (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta)''
| ''Yusron Razak (Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta), Ilham Mundzir (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)''
|}
|}
'''Abstract'''
'''''Abstract:'''''


Dalam Kompilasi Hukum Islam, pengertian nusyuz secara eksklusif mengatur tentang nusyuz yang dilakukan oleh istri. Kompilasi Hukum Islam yang menganut hukum nusyuz tetap berpijak pada fikih patriarki yang berlandaskan pada ajaran agama yang mendasar.  Dari segi metodologi, KHI tetap menyerupai gagasan para peneliti sebelumnya.  Perspektif dan konteks umat Islam Indonesia belum tertanam secara baik dalam rumusan perundang-undangan KHI.  Kandungan materiilnya, sebagai hukum positif di Indonesia, adalah keabsahan [[fiqh]] yang memberikan kedudukan tersendiri bagi perempuan. Kajian penelitian dilakukan melalui pendekatan konseptual (conceptual appoarch). Disamping itu penelitian ini juga menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Al-Qur'an memperlakukan nusyuz dari dua sudut pandang, sehingga menjadikannya sebagai penghujatan dalam kaitannya dengan nusyuz.  Dengan kata lain, nusyuz itu ada dua macam: satu dari istri (QS. an-Nisa [4]: ​​34) dan satu lagi dari suami (QS. an-Nisa [4]: ​​128). Cara apapun (mauizhatul hasanah, hajrun, dhorbun, islah, ihsan, taqwa) dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
''This article is aimed to explore the relation between the piety with the initiative and realization of female religious scholar self empowering by using the piety theory of Saba Mahmood. Empirically in the ethnography towards religious authority of Nyai [[Masriyah Amva]] in Cirebon Regency, West Java Province, Indonesia. This article concluded two things. First, analyzing the Nyai Masriyah transformation, by her piety, determination, and creativity, is able to establish her religion authority and develop Kebon Jambi Al-Islami Islamic Boarding School in Cirebon West Java. Second, the works of Nyai Masriyah pinpointed the feminism realization by reflecting her experience and business as the woman and religious scholar rooting to the powerful, independent, and tolerance in variety boarding school tradition. The Nyai Masriyah’s thought is important to strengthen the establishment of moderate Islam in Indonesia which is now facing the big narration of conservative reinforcement (conservative turn).''


'''Keywords:''' ''Religion Authority, Female Religious Scholar, Gender, Tolerance, Islamic Moderation''


'''Abstrak:'''


Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara kesalehan dengan inisiatif dan realisasi pemberdayaan diri seorang ulama perempuan dengan menggunakan teori kesalehan Saba Mahmood. Didasarkan secara empiris pada penelitian etnografis terhadap transformasi otoritas keagamaan Nyai Masriyah Amva di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Artikel ini menyimpulkan dua hal. Pertama, menganalisis transformasi Nyai Masriyah, yang dengan kesalihan, keteguhan, dan kreativitasnya mampu membangun otoritas agamanya dan mengembangan Pesantren [[Kebon Jambu Al-Islamy]] di Cirebon, Jawa Barat. Kedua, karya-karya Nyai Masriyah menunjuk kesadaran feminisme dengan merefleksikan pengalaman dan usaha pribadinya sebagai perempuan dan ulama dengan akar pada [[tradisi]] pesantren yang berdaya, mandiri, dan toleran dengan keragaman. Pemikiran Nyai Masriyah penting untuk memperkuat bangunan moderasi Islam di Indonesia yang saat ini dihadapkan pada narasi besar menguatnya konservatisme.


'''Kata Kunci:''' ''Otoritas Agama, [[Ulama Perempuan]], Gender, Toleransi, Moderasi Islam''




'''''Keywords:''' Nusyuz, KHI, [[Mubadalah]]''


Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: '''''http://dx.doi.org/10.21043/palastren.v12i2.5981'''''
Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: '''''http://dx.doi.org/10.21043/palastren.v12i2.5981'''''