Lompat ke isi

Pra Musyawarah Keagamaan tentang Peran Perempuan dalam Melindungi NKRI dari Bahaya Ekstremisme Beragama: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi 'Merawat negara adalah kewajiban setiap warga negara, baik laki-laki maupun perempuan.  Menanamkan nilai-nilai kebangsaan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme pada gene...'
 
Baris 11: Baris 11:
Sepanjang sejarah pergerakan perempuan Indonesia, nilai-nilai Pancasila ikut mempengaruhi pembentukan identitas perempuan Indonesia.  Jika membaca kembali sejarah gerakan perempuan, sesungguhnya perempuan Indonesia sudah lama berkontribusi dalam upaya kemerdekaan Indonesia. Salah satu momentumnya adalah Kongres Perempuan Indonesia pada tahun 1928.
Sepanjang sejarah pergerakan perempuan Indonesia, nilai-nilai Pancasila ikut mempengaruhi pembentukan identitas perempuan Indonesia.  Jika membaca kembali sejarah gerakan perempuan, sesungguhnya perempuan Indonesia sudah lama berkontribusi dalam upaya kemerdekaan Indonesia. Salah satu momentumnya adalah Kongres Perempuan Indonesia pada tahun 1928.


Dalam kaitannya dengan pencegahan ekstremisme beragama, peran penting ulama perempuan menjadi sangat krusial dalam memberikan pemahaman terhadap narasi-narasi keagamaan yang terkait dengan [[fiqh]] jihad.
Dalam kaitannya dengan pencegahan ekstremisme beragama, peran penting [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] menjadi sangat krusial dalam memberikan pemahaman terhadap narasi-narasi keagamaan yang terkait dengan [[fiqh]] jihad.


Pada tanggal 25 November 2022 dalam Halaqah paralel, forum dibuka oleh Siti Rofi’ah dengan bertawassul kepada para ulama dan para pejuang [[KUPI]] yang telah mendahului kita semua. Selanjutnya diberikan kepada moderator acara yaitu [[Kamilia Hamidah]].
Pada tanggal 25 November 2022 dalam [[Halaqah Paralel|Halaqah paralel]], forum dibuka oleh Siti Rofi’ah dengan bertawassul kepada para ulama dan para pejuang [[KUPI]] yang telah mendahului kita semua. Selanjutnya diberikan kepada moderator acara yaitu [[Kamilia Hamidah]].


Kamilia Hamidah memberi pengantar terkait mengapa KUPI penting mengangkat isu peminggiran perempuan dalam menjaga NKRI dari bahaya kekerasan atas nama agama. Peran perempuan masih kurang maksimal dalam pencegahan ekstrimisme, sebelum KUPI proses pembahasan isu ini telah melalui perjalanan panjang melalui berbagai Halaqah, baik regional maupun nasional. Selanjutnya kesempatan diberikan kepada narasumber masing-masing 10 menit. Poin-poin kunci yang disampaikan adalah ekstrimisme selalu dipertentangkan dan tidak ada definisi pasti terkait istilah itu, ekstremisme bisa jadi sangat subjektif dan memiliki bagasi politik tertentu terkait bagaimana negara menerjemahkan. Peran negara dan bagaimana mengartikulasikan istilah ekstremisme ini juga tergantung pada suatu kondisi khusus. Negara bisa jadi akan mengeluarkan pandangan karena misi pertaruhan perebutan kekuasaan. Ekstremisme agama di Indonesia juga sangat dipengaruhi olehnya. Ekstrimisme bisa dilihat dan diidentifikasi, karena seseorang yang terpapar paham ekstrimisme akan mengalami atau melewati proses radikalisasi seperti keyakinan boleh mendominasi orang lain, internalisasi intoleransi, keengganan berkomunikasi dan berelasi dengan orang yang berbeda cara pandang keagamaan dan agama, menyetujui penggunaan kekerasan sebagai alat politik, dan keterlibatan perempuan digunakan sebagai pengalih, mereka akan lebih luput dilihat dari aparat keamanan, karena perempuan dinilai lebih tidak mungkin untuk melakukan kekerasan / ekstremisme.
Kamilia Hamidah memberi pengantar terkait mengapa KUPI penting mengangkat isu peminggiran perempuan dalam menjaga NKRI dari bahaya kekerasan atas nama agama. Peran perempuan masih kurang maksimal dalam pencegahan ekstrimisme, sebelum KUPI proses pembahasan isu ini telah melalui perjalanan panjang melalui berbagai Halaqah, baik regional maupun nasional. Selanjutnya kesempatan diberikan kepada narasumber masing-masing 10 menit. Poin-poin kunci yang disampaikan adalah ekstrimisme selalu dipertentangkan dan tidak ada definisi pasti terkait istilah itu, ekstremisme bisa jadi sangat subjektif dan memiliki bagasi politik tertentu terkait bagaimana negara menerjemahkan. Peran negara dan bagaimana mengartikulasikan istilah ekstremisme ini juga tergantung pada suatu kondisi khusus. Negara bisa jadi akan mengeluarkan pandangan karena misi pertaruhan perebutan kekuasaan. Ekstremisme agama di Indonesia juga sangat dipengaruhi olehnya. Ekstrimisme bisa dilihat dan diidentifikasi, karena seseorang yang terpapar paham ekstrimisme akan mengalami atau melewati proses radikalisasi seperti keyakinan boleh mendominasi orang lain, internalisasi intoleransi, keengganan berkomunikasi dan berelasi dengan orang yang berbeda cara pandang keagamaan dan agama, menyetujui penggunaan kekerasan sebagai alat politik, dan keterlibatan perempuan digunakan sebagai pengalih, mereka akan lebih luput dilihat dari aparat keamanan, karena perempuan dinilai lebih tidak mungkin untuk melakukan kekerasan / ekstremisme.
Baris 20: Baris 20:


Kekerasan atas nama agama mengancam esensi negara. Mengarah pada penghancuran pilar kebangsaan. Sesi dilanjutkan dengan diskusi peserta dan narasumber. [] '''(ZA)'''
Kekerasan atas nama agama mengancam esensi negara. Mengarah pada penghancuran pilar kebangsaan. Sesi dilanjutkan dengan diskusi peserta dan narasumber. [] '''(ZA)'''
=== Dokumen Kegiatan: ===
{| class="wikitable"
|Materi
|:
|[https://kupipedia.id/images/a/a1/Mtrparalel2%281%29.pdf 1. Agenda (Ulama) Perempuan Merawat NKRI dari Ekstremisme Beragama: Isu Krusial dan Area Perubahan]
|-
|Notulensi
|:
|[https://kupipedia.id/images/f/fa/Nothlqprl1%282%29.pdf Download]
|-
|Rekaman Suara
|:
|Download
|-
|Galeri Foto
|:
|[https://kupipedia.id/index.php/Galeri_Foto_Halaqah_Paralel_Sesi_1;_Pra_Musyawarah_Keagamaan_tentang_Peran_Perempuan_dalam_Melindungi_NKRI_dari_Bahaya_Ekstremisme_Beragama Download]
|-
|Laporan Narasi
|:
|Download
|}
[[Kategori:Proses KUPI2]]
[[Kategori:Proses KUPI2]]