Halaqah Paralel tentang Membangun Pengetahuan dan Kesadaran Kritis Soal Gender dan Radikalisme Agama: Perbedaan antara revisi
Tampilan
←Membuat halaman berisi 'Lima tahun terakhir ada pergeseran pelibatan perempuan yang semula sebagai korban, kemudian pendukung, dan merambah menjadi pelaku atau aktor intoleransi, yang berhijr...' |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 5: | Baris 5: | ||
Dari kondisi tersebut, perempuan dipandang lebih mudah di doktrinasi, dipengaruhi untuk terlibat dalam aksi radikalisme dan intoleransi. Perempuan juga dianggap lebih lembut dan halus dalam melakukan upaya radikalisme” bukan saja terkait pemahaman keagamaan yang sempit dan keliru, tindakan radikalisme juga dipengaruhi apa yang dialami mereka. Misalnya, kekerasan, konflik, peperangan, kemiskinan, ketimpangan, ketidakadilan, diskriminasi gender. Selain itu, nilai-nilai dan tatanan kehidupan yang ada dianggap gagal mewujudkan perdamaian, kesejahteraan, dan keadilan abadi. Akibatnya, ideologi radikalisme dan intoleransi yang sekarang ini dikemas dalam materi lebih sistematis, bahkan mudah diakses secara online maupun offline, membuat mereka mudah terpengaruh. Sebenarnya perempuan bisa menjadi agen perdana dan agen toleransi, jika ini mau diupayakan. Karena itu Kongres [[Ulama Perempuan]] ke 2 telah menggelar salah satu tema dalam paralel nya adalah Membangun Pengetahuan dan Kesadaran Kritis Soal Gender dan Radikalisme Agama. | Dari kondisi tersebut, perempuan dipandang lebih mudah di doktrinasi, dipengaruhi untuk terlibat dalam aksi radikalisme dan intoleransi. Perempuan juga dianggap lebih lembut dan halus dalam melakukan upaya radikalisme” bukan saja terkait pemahaman keagamaan yang sempit dan keliru, tindakan radikalisme juga dipengaruhi apa yang dialami mereka. Misalnya, kekerasan, konflik, peperangan, kemiskinan, ketimpangan, ketidakadilan, diskriminasi gender. Selain itu, nilai-nilai dan tatanan kehidupan yang ada dianggap gagal mewujudkan perdamaian, kesejahteraan, dan keadilan abadi. Akibatnya, ideologi radikalisme dan intoleransi yang sekarang ini dikemas dalam materi lebih sistematis, bahkan mudah diakses secara online maupun offline, membuat mereka mudah terpengaruh. Sebenarnya perempuan bisa menjadi agen perdana dan agen toleransi, jika ini mau diupayakan. Karena itu Kongres [[Ulama Perempuan]] ke 2 telah menggelar salah satu tema dalam paralel nya adalah Membangun Pengetahuan dan Kesadaran Kritis Soal Gender dan Radikalisme Agama. | ||
Laporan ini merupakan laporan khusus kelas paralel “Membangun Pengetahuan dan Kesadaran Kritis Soal Gender dan Radikalisme Agama” yang diselenggarakan dalam serial halaqah paralel Kongres Ulama Perempuan Indonesia ([[KUPI]]) 2 di halaman MTs Pondok Pesantren [[Hasyim Asy'ari Bangsri]] Jepara, pada tanggal 25 november 2022. | Laporan ini merupakan laporan khusus kelas paralel “Membangun Pengetahuan dan Kesadaran Kritis Soal Gender dan Radikalisme Agama” yang diselenggarakan dalam serial [[Halaqah Paralel|halaqah paralel]] Kongres Ulama Perempuan Indonesia ([[KUPI]]) 2 di halaman MTs Pondok Pesantren [[Hasyim Asy'ari Bangsri]] Jepara, pada tanggal 25 november 2022. | ||
Masuk pada Materi “krisis global dan fenomena radikalisme serta dampaknya kepada perempuan: Bagaimana membangun strategi dan mengatasinya?” yang disampaikan oleh [[Kamala Chandrakirana]]. Kamala memulai dengan menyampaikan gambaran gerakan global dan mengaitkannya dengan radikalisme dan kepemimpinan perempuan. Pertama-tama, Kamala menampilan foto Nazi dan Demo 212 Jakarta. Kamala menegaskan bahwa Nazi adalah sebuah gerakan ekstrem-radikal (far night). Sementara Demo 212 Jakarta menggunakan simbol-simbol dan cukup intens, juga dapat disebut sebagai gerakan ekstrimis-radikal. Menurut Kamala, radikalisme bukanlah fenomena baru, sehingga bentuknya selalu beragam dan kontekstual. Fenomena yang saat ini kita hadapi tidak terlepas dari konteks-konteks serupa yang terjadi di belahan negara lain. | Masuk pada Materi “krisis global dan fenomena radikalisme serta dampaknya kepada perempuan: Bagaimana membangun strategi dan mengatasinya?” yang disampaikan oleh [[Kamala Chandrakirana]]. Kamala memulai dengan menyampaikan gambaran gerakan global dan mengaitkannya dengan radikalisme dan kepemimpinan perempuan. Pertama-tama, Kamala menampilan foto Nazi dan Demo 212 Jakarta. Kamala menegaskan bahwa Nazi adalah sebuah gerakan ekstrem-radikal (far night). Sementara Demo 212 Jakarta menggunakan simbol-simbol dan cukup intens, juga dapat disebut sebagai gerakan ekstrimis-radikal. Menurut Kamala, radikalisme bukanlah fenomena baru, sehingga bentuknya selalu beragam dan kontekstual. Fenomena yang saat ini kita hadapi tidak terlepas dari konteks-konteks serupa yang terjadi di belahan negara lain. | ||
| Baris 47: | Baris 47: | ||
Kelas diakhiri dengan sesi tanya jawab dan diskusi terkait narasi jihad yang terus berkembang baik di pesantren, diskriminasi terhadap kelompok Syiah yang dianggap kafir, dan variasi narasi dominan di media sosial. Menurut Lies, hal yang dominan adalah gagasan bagaimana menjadi lelaki yang akan membawa dirinya dan keluarganya ke surge. Narasi yang digunakan adalah Surat Yusuf, dimana cerita tentang Nabi Yusuf diterjemahkan dan di cocok-cocokkan dengan perjuangan seorang jihadis. Seorang jihadis berhadapan dengan thaghut. Narasi itu dimaknai sebagai narasi tunggal terkait radikalisme (single story about radicalism). Hal itu juga yang terus-terusan dinarasikan di media sosial. [] '''(ZA)''' | Kelas diakhiri dengan sesi tanya jawab dan diskusi terkait narasi jihad yang terus berkembang baik di pesantren, diskriminasi terhadap kelompok Syiah yang dianggap kafir, dan variasi narasi dominan di media sosial. Menurut Lies, hal yang dominan adalah gagasan bagaimana menjadi lelaki yang akan membawa dirinya dan keluarganya ke surge. Narasi yang digunakan adalah Surat Yusuf, dimana cerita tentang Nabi Yusuf diterjemahkan dan di cocok-cocokkan dengan perjuangan seorang jihadis. Seorang jihadis berhadapan dengan thaghut. Narasi itu dimaknai sebagai narasi tunggal terkait radikalisme (single story about radicalism). Hal itu juga yang terus-terusan dinarasikan di media sosial. [] '''(ZA)''' | ||
Selengkapnya untuk mendapatkan informasi tentang dokumen-dokumen pendukung kegiatan ini bisa lihat di [[Dokumen Kegiatan Halaqah Paralel tentang Membangun Pengetahuan dan Kesadaran Kritis Soal Gender dan Radikalisme Agama]]. | |||
[[Kategori:Proses KUPI2]] | [[Kategori:Proses KUPI2]] | ||