2022 Mubadalah dalam Hak Cerai: Interpretasi QS. an-Nisa Ayat 128-130 Perspektif Nalar Keadilan Gender: Perbedaan antara revisi
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox book|editor=|publisher=|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|italic title= | {{Infobox book|editor=|publisher=|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|italic title=Aqwal; Journal of Qur'an and Hadis Studies|isbn=2986-4585|pub_date=2022-06-23|cover_artist=|pages=|series=Vol. 3 No. 1 (2022)|author=|title_orig=Aqwal; Journal of Qur'an and Hadis Studies}} | ||
{| | {| | ||
|Nama Jurnal | |Nama Jurnal | ||
| Baris 15: | Baris 15: | ||
|Judul Tulisan | |Judul Tulisan | ||
|: | |: | ||
|''Mubadalah dalam Hak Cerai: Interpretasi QS. an-Nisa Ayat 128-130 Perspektif Nalar Keadilan Gender'' | |''[https://doi.org/10.28918/aqwal.v3i1.5700 Mubadalah dalam Hak Cerai: Interpretasi QS. an-Nisa Ayat 128-130 Perspektif Nalar Keadilan Gender]'' | ||
|- | |- | ||
|Penulis | |Penulis | ||
|: | |: | ||
|''Matsna Khuzaimah (UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan | |''Matsna Khuzaimah (UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan), Shinta Nurani(UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan)'' | ||
|} | |} | ||
'''Abstract''' | '''Abstract''' | ||
Artikel ini membahas tentang keadilan gender dalam hak cerai dalam QS. an-Nisa ayat 128-130 perspektif mafhum [[mubadalah]] [[Faqihuddin Abdul Kodir]]. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penafsiran QS. an-Nisa ayat 128-130 menurut Faqihuddin Abdul Kodir dan konsep hak cerai dalam bingkai keadilan gender perspektif mafhum mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan Teori Interpretasi Hermenutika Jorge G Gracia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran QS. an-Nisa ayat 128-130 menurut Faqihuddin Abdul Kodir yaitu tentang berpalingnya suami dari sang istri (QS. an-Nisa: 128), berpoligami (QS. an-Nisa: 129), dan jalan meminta cerai (QS. an-Nisa: 130). Oleh sebab itu ''mafhum'' mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan gender. Dimana menurut beliau keadilan yang sebenarnya adalah menempatkan perempuan dan laki-laki pada hak mereka, tanpa menyakiti dirinya, anak dan juga keluarga disekitarnya. Sehaingga penafsirannya pada QS. an-Nisa ayat 128-130 sesuai dengan bingkai keadilan gender, yaitu menempatkan setiap orang pada haknya, tanpa menyakiti pihak lainnya. | |||
'' | |||
'''''Keywords:''' | '''''Keywords:''' Gender, Cerai, Mubadalah, Interpretasi Jorge G Gracia'' | ||
Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: '''''https://doi.org/10. | Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: '''''https://doi.org/10.28918/aqwal.v3i1.5700''''' | ||
[[Kategori:Khazanah]] | [[Kategori:Khazanah]] | ||
[[Kategori:Artikel Jurnal]] | [[Kategori:Artikel Jurnal]] | ||
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]] | [[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]] | ||
Revisi per 26 Juni 2024 10.18
| Nama Jurnal | : | Aqwal; Journal of Qur'an and Hadis Studies |
| Seri | : | VOL. 3 NO. 1 (2022) |
| Tahun | : | 2022-06-23 |
| Judul Tulisan | : | Mubadalah dalam Hak Cerai: Interpretasi QS. an-Nisa Ayat 128-130 Perspektif Nalar Keadilan Gender |
| Penulis | : | Matsna Khuzaimah (UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan), Shinta Nurani(UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan) |
Abstract
Artikel ini membahas tentang keadilan gender dalam hak cerai dalam QS. an-Nisa ayat 128-130 perspektif mafhum mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penafsiran QS. an-Nisa ayat 128-130 menurut Faqihuddin Abdul Kodir dan konsep hak cerai dalam bingkai keadilan gender perspektif mafhum mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan Teori Interpretasi Hermenutika Jorge G Gracia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran QS. an-Nisa ayat 128-130 menurut Faqihuddin Abdul Kodir yaitu tentang berpalingnya suami dari sang istri (QS. an-Nisa: 128), berpoligami (QS. an-Nisa: 129), dan jalan meminta cerai (QS. an-Nisa: 130). Oleh sebab itu mafhum mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan gender. Dimana menurut beliau keadilan yang sebenarnya adalah menempatkan perempuan dan laki-laki pada hak mereka, tanpa menyakiti dirinya, anak dan juga keluarga disekitarnya. Sehaingga penafsirannya pada QS. an-Nisa ayat 128-130 sesuai dengan bingkai keadilan gender, yaitu menempatkan setiap orang pada haknya, tanpa menyakiti pihak lainnya.
Keywords: Gender, Cerai, Mubadalah, Interpretasi Jorge G Gracia
Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: https://doi.org/10.28918/aqwal.v3i1.5700