Dinamika Konteks Pluralitas Kongres Ulama Perempuan Indonesia: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 3: | Baris 3: | ||
Cirebon salah satu kota dengan sebutan kota santri di Jawa Barat, seperti Jombang di Jawa Timur. Beberapa partisipan KUPI dari Cirebon menggambarkan corak bersosialisasi masyarakat Cirebon adalah sepakat dengan satu kata yang mungkin tidak banyak dipahami oleh masyarakat lain di Indonesia dengan istilah ''pluralis.'' Partisipan KUPI yang berasal dari Cirebon mengakui mendapat pencerahan mendatangi wadah simpul utama, seperti [[Fahmina]] institute Cirebon dengan pengkajian yang diisi oleh KH. [[Husein Muhammad]] dan ulama lainnya yang ''concern'' isu gender. | Cirebon salah satu kota dengan sebutan kota santri di Jawa Barat, seperti Jombang di Jawa Timur. Beberapa partisipan KUPI dari Cirebon menggambarkan corak bersosialisasi masyarakat Cirebon adalah sepakat dengan satu kata yang mungkin tidak banyak dipahami oleh masyarakat lain di Indonesia dengan istilah ''pluralis.'' Partisipan KUPI yang berasal dari Cirebon mengakui mendapat pencerahan mendatangi wadah simpul utama, seperti [[Fahmina]] institute Cirebon dengan pengkajian yang diisi oleh KH. [[Husein Muhammad]] dan ulama lainnya yang ''concern'' isu gender. | ||
Pada saat menginjakkan kaki di Stasiun Cirebon yang tempo dulu nan memorialis klasik arsitektur Belanda, penulis menggunakan pengendara motor sewa ''ojek.'' Dalam perjalanan pengendara bertanya kepada penulis, apakah tujuan selama berada di Cirebon. Penulis menjelaskan akan menjadi peserta konferensi perempuan internasional dan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), pengendara merespon dengan mengatakan, “Oh bagus itu Mbak, diadakan biar cewek-cewek itu pada jadi baik, enggak binal, tau gak disini itu AIDS itu jadi banyak, karena cewek-cewek nya enggak alim lagi.” Pengendara beralasan mendapatkan informasi dari orang-orang bekerja dekat Puskesmas. Penulis mendengar apa yang dikatakan oleh pengendara dengan berdesir, stigma sebagai perempuan lagi-lagi dipertaruhkan, pengendara ojek yang seorang laki-laki ini tentu belum pernah terpapar pengetahuan yang luas mengenai gender, kesehatan reproduksi ataupun pengamatan sosial secara adil. | Pada saat menginjakkan kaki di Stasiun Cirebon yang tempo dulu nan memorialis klasik arsitektur Belanda, penulis menggunakan pengendara motor sewa ''ojek.'' Dalam perjalanan pengendara bertanya kepada penulis, apakah tujuan selama berada di Cirebon. Penulis menjelaskan akan menjadi peserta konferensi perempuan internasional dan [[Kongres Ulama Perempuan Indonesia]] (KUPI), pengendara merespon dengan mengatakan, “Oh bagus itu Mbak, diadakan biar cewek-cewek itu pada jadi baik, enggak binal, tau gak disini itu AIDS itu jadi banyak, karena cewek-cewek nya enggak alim lagi.” Pengendara beralasan mendapatkan informasi dari orang-orang bekerja dekat Puskesmas. Penulis mendengar apa yang dikatakan oleh pengendara dengan berdesir, stigma sebagai perempuan lagi-lagi dipertaruhkan, pengendara ojek yang seorang laki-laki ini tentu belum pernah terpapar pengetahuan yang luas mengenai gender, kesehatan reproduksi ataupun pengamatan sosial secara adil. | ||
Hingga akhirnya, penulis tiba di rumah seorang teman yang telah 23 tahun tidak dijumpai sejak lulus SD di Bengkulu. Setelah mempertanyakan masing-masing cerita kehidupan, maka teman tergelitik ingin mengetahui apa yang akan dilakukan selama Kongres berlangsung. Teman bertanya kongres, “Dimana nanti acaranya? Oh di IAIN Cirebon dan pesantren, saya selama di Cirebon sini gak pernah ikut pengajian di IAIN atau pesantren, saya sih ikut pengajiannya di kantor suami (Pertamina) dengan ustad Syafiq Bassalamah atau Khalid, kemudian dengar radio yang muterin ceramah mereka.” | Hingga akhirnya, penulis tiba di rumah seorang teman yang telah 23 tahun tidak dijumpai sejak lulus SD di Bengkulu. Setelah mempertanyakan masing-masing cerita kehidupan, maka teman tergelitik ingin mengetahui apa yang akan dilakukan selama Kongres berlangsung. Teman bertanya kongres, “Dimana nanti acaranya? Oh di IAIN Cirebon dan pesantren, saya selama di Cirebon sini gak pernah ikut pengajian di IAIN atau pesantren, saya sih ikut pengajiannya di kantor suami (Pertamina) dengan ustad Syafiq Bassalamah atau Khalid, kemudian dengar radio yang muterin ceramah mereka.” | ||
| Baris 11: | Baris 11: | ||
Dalam kegiatan konferensi internasional, penulis mengamati peserta konferensi dari berbagai kalangan. Dari para Guru Besar, peneliti Feminisme, kelompok organisasi perempuan Kristen, aktivis gender, perwakilan [[lembaga]] donor asing, ''Dayah,'' Nyai terkenal. Penulis sendiri tertulis sebagai partisipan dari Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta. Konferensi ini telah menjadi perhatian berbagai pihak pengambil kebijakan, pejabat setempat. Panitia mengabari hanya menerima 200 orang yang berhak mengikuti seminar Internasional di IAIN. Beberapa teman aktifis yang hadir dari Jakarta, dengan sedikit pemaksaan kepada pihak panitia, di akhir-akhir waktu registrasi peserta, teman-teman tersebut berhasil memasuki ruangan. | Dalam kegiatan konferensi internasional, penulis mengamati peserta konferensi dari berbagai kalangan. Dari para Guru Besar, peneliti Feminisme, kelompok organisasi perempuan Kristen, aktivis gender, perwakilan [[lembaga]] donor asing, ''Dayah,'' Nyai terkenal. Penulis sendiri tertulis sebagai partisipan dari Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta. Konferensi ini telah menjadi perhatian berbagai pihak pengambil kebijakan, pejabat setempat. Panitia mengabari hanya menerima 200 orang yang berhak mengikuti seminar Internasional di IAIN. Beberapa teman aktifis yang hadir dari Jakarta, dengan sedikit pemaksaan kepada pihak panitia, di akhir-akhir waktu registrasi peserta, teman-teman tersebut berhasil memasuki ruangan. | ||
Dari pidato pembukaan kongres yang disampaikan Badriyah Fayumi, penulis menangkap kesan, bahwa rangkaian kegiatan KUPI ini berinisiatif untuk mengelola ulama perempuan terlibat secara aktif menyelesaikan isu bersama terkait berbagai hal yang kerap dirasakan oleh perempuan di Indonesia. Perempuan Indonesia telah menjadi pemimpin pemerintahan. Seperti keberadaan Sultanah-Sultanah di Aceh, Ratu-Ratu di Jawa, atau wilayah Timur Indonesia, di Ternate. Perhatian khalayak ramai yang menghadiri pembukaan kongres kemungkinan akan memiliki kesadaran kritis terkait pidato tersebut, apalagi jika para audiens tidak banyak membuka referensi mengenai Sejarah Indonesia atau referensi asing seperti Thabaqat Ibnu Sa’ad atau tulisan Ruth Roded, atau Cora Vreede de Stuers yang menulis mengenai Kongres Perempuan Indonesia pertama. | Dari pidato pembukaan kongres yang disampaikan [[Badriyah Fayumi]], penulis menangkap kesan, bahwa rangkaian kegiatan KUPI ini berinisiatif untuk mengelola ulama perempuan terlibat secara aktif menyelesaikan isu bersama terkait berbagai hal yang kerap dirasakan oleh perempuan di Indonesia. Perempuan Indonesia telah menjadi pemimpin pemerintahan. Seperti keberadaan Sultanah-Sultanah di Aceh, Ratu-Ratu di Jawa, atau wilayah Timur Indonesia, di Ternate. Perhatian khalayak ramai yang menghadiri pembukaan kongres kemungkinan akan memiliki kesadaran kritis terkait pidato tersebut, apalagi jika para audiens tidak banyak membuka referensi mengenai Sejarah Indonesia atau referensi asing seperti Thabaqat Ibnu Sa’ad atau tulisan Ruth Roded, atau Cora Vreede de Stuers yang menulis mengenai Kongres Perempuan Indonesia pertama. | ||
Dalam presentasi internasional Hatoon al-Fasi yang berasal dari Arab Saudi, mempresentasikan mengenai tantangan dan harapan dari pengalaman yang mengalami pembatasan ruang publik. Perempuan tidak bebas berjalan sendirian di luar rumah, pemerintah dan masyarakat secara umum menuntut perempuan disertai oleh muhrim. Ungkapan yang berbunyi ''“I’m my own guardian”'' menjadi frase yang sedang diperjuangkan oleh Hatoon beserta para ulama dan aktifis perempuan, selain kebebasan untuk menyetir mobil yang sampai hari ini belum mendapatkan perizinan dari Raja Arab Saudi. Selain itu yang menurut penulis menarik adalah ulama perempuan dari Nigeria, pengalaman menghadapi pemerintahan Presiden Boko Haram dan masyarakat patriarkis. Semua pembicara dalam konferensi internasional memiliki, pengalaman berbeda dalam merespon penyimpangan sosial dan ketidakadilan gender yang terjadi karena politik negara, orientasi patriarkhis, dan prokreasi maskulinitas. | Dalam presentasi internasional Hatoon al-Fasi yang berasal dari Arab Saudi, mempresentasikan mengenai tantangan dan harapan dari pengalaman yang mengalami pembatasan ruang publik. Perempuan tidak bebas berjalan sendirian di luar rumah, pemerintah dan masyarakat secara umum menuntut perempuan disertai oleh muhrim. Ungkapan yang berbunyi ''“I’m my own guardian”'' menjadi frase yang sedang diperjuangkan oleh Hatoon beserta para ulama dan aktifis perempuan, selain kebebasan untuk menyetir mobil yang sampai hari ini belum mendapatkan perizinan dari Raja Arab Saudi. Selain itu yang menurut penulis menarik adalah ulama perempuan dari Nigeria, pengalaman menghadapi pemerintahan Presiden Boko Haram dan masyarakat patriarkis. Semua pembicara dalam konferensi internasional memiliki, pengalaman berbeda dalam merespon penyimpangan sosial dan ketidakadilan gender yang terjadi karena politik negara, orientasi patriarkhis, dan prokreasi maskulinitas. | ||
| Baris 31: | Baris 31: | ||
''(Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)'' | ''(Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)'' | ||
[[Kategori:Refleksi]] | |||
[[Kategori:Refleksi Kongres]] | |||
[[Kategori:Refleksi Kongres1]] | |||