Minta Dihalalkan: Perbedaan antara revisi
Tampilan
←Membuat halaman berisi 'Acara KUPI sungguh menggetarkan hati. Bagaimana tidak, perjuangan babak awal saja antara realita dan cita-cita bertolak belakang. Tapi karena saya sudah terlanjur ''br...' |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 11: | Baris 11: | ||
Aku sudah membayangkan bahwa acara yang dipersiapkan lama dengan detail teknis tertata rapi. Sungguh aku terkagum-kagum dengan kekompakan panitia lokal (panitia dari pondok) dan nasional ([[Rahima]], [[Alimat]], [[Fahmina]]). | Aku sudah membayangkan bahwa acara yang dipersiapkan lama dengan detail teknis tertata rapi. Sungguh aku terkagum-kagum dengan kekompakan panitia lokal (panitia dari pondok) dan nasional ([[Rahima]], [[Alimat]], [[Fahmina]]). | ||
Saat pembukaan, aku dibuat terpukau oleh Ibu Badriyah Fayumi. Semangat yang luar biasa untuk menunjukkan bahwa perempuan itu ada dan berwujud juga bisa membuat perubahan. Keren sekali. Apalagi saat akhirnya aku mendapat ''ID Card'' peserta. Hiks…. aku terharu. Siang itu aku ditemui saudara yang bekerja sebagai guru MAN 2, namanya Hilyatul Auliya, -namanya sama dengan putrinya Kyai Husein, juga sama dengan nama salah satu santri PP. Kebon Jambu yang kebetulan menjadi mahasiswanya ''dek'' Liya (begitu aku biasa memanggil saudaraku itu) di STAIMA. | Saat pembukaan, aku dibuat terpukau oleh Ibu [[Badriyah Fayumi]]. Semangat yang luar biasa untuk menunjukkan bahwa perempuan itu ada dan berwujud juga bisa membuat perubahan. Keren sekali. Apalagi saat akhirnya aku mendapat ''ID Card'' peserta. Hiks…. aku terharu. Siang itu aku ditemui saudara yang bekerja sebagai guru MAN 2, namanya Hilyatul Auliya, -namanya sama dengan putrinya Kyai Husein, juga sama dengan nama salah satu santri PP. Kebon Jambu yang kebetulan menjadi mahasiswanya ''dek'' Liya (begitu aku biasa memanggil saudaraku itu) di STAIMA. | ||
Aku cerita pada ''dek'' Liya bahwa aku tetap tidak bisa mendapat kartu peserta. Kebetulan dia banyak kenal dengan panitia lokal. Jadilah dia maju biar bisa dapat ''ID Card''. Sebelumnya ''dek'' Liya juga mendaftar, tapi gagal. Akhirnya dia diminta mewakili Mbaknya dari PP. Pandanaran Yogyakarta karena mbak Ema tidak bisa hadir. | Aku cerita pada ''dek'' Liya bahwa aku tetap tidak bisa mendapat kartu peserta. Kebetulan dia banyak kenal dengan panitia lokal. Jadilah dia maju biar bisa dapat ''ID Card''. Sebelumnya ''dek'' Liya juga mendaftar, tapi gagal. Akhirnya dia diminta mewakili Mbaknya dari PP. Pandanaran Yogyakarta karena mbak Ema tidak bisa hadir. | ||
Di hari pertama ini aku sungguh galau sekali. Mau dimana posisiku tanpa ''ID Card.'' Tidak bisa ikut jadi peserta seminar internasional juga. Beruntung ada acara ''sima’an'' al-Qur’an. Akhirnya saya masuk di masjid, bersama warga lokal. Ketika ada pembagian ''snack'' aku masih mikir ini ''snack'' boleh dimakan gak yaa... kan aku bukan peserta. Tapi ini banyak tamu bukan peserta jadilah saya percaya diri makan. Apalagi saat makan siang. Saya ikut rombongan ibu-ibu ''sima’an'' saja. Sebagai tamu umum. Tidak ikut di bagian catering belakang panggung. Barulah sore hari saya makan di luar. | Di hari pertama ini aku sungguh galau sekali. Mau dimana posisiku tanpa ''ID Card.'' Tidak bisa ikut jadi peserta seminar internasional juga. Beruntung ada acara ''sima’an'' [[al-Qur’an]]. Akhirnya saya masuk di masjid, bersama warga lokal. Ketika ada pembagian ''snack'' aku masih mikir ini ''snack'' boleh dimakan gak yaa... kan aku bukan peserta. Tapi ini banyak tamu bukan peserta jadilah saya percaya diri makan. Apalagi saat makan siang. Saya ikut rombongan ibu-ibu ''sima’an'' saja. Sebagai tamu umum. Tidak ikut di bagian catering belakang panggung. Barulah sore hari saya makan di luar. | ||
Karena Mbak Ema tidak bisa hadir. ''Dek'' Liya mencoba negosiasi ke panitia, tetapi kata panitia kudu bawa surat rekomendasi dari orangnya yang ternyata juga tidak bisa terwujud. Entah bagaimana negosiasinya akhirnya ''dek'' Liya bisa mendaftar malah dengan namanya sendiri. Karena usaha ''dek'' Liya untuk mendapatkan ''ID Card'' buat aku tetap gagal, akhirnya ''dek'' Liya merelakan tas KUPI dan ''ID Card''-nya buat aku. Duhhh ....aku senang sekali..... bagaimana pun saat itu sungguh ''ID Card'', tiba-tiba menjadi benda tersakti bagi ku. | Karena Mbak Ema tidak bisa hadir. ''Dek'' Liya mencoba negosiasi ke panitia, tetapi kata panitia kudu bawa surat rekomendasi dari orangnya yang ternyata juga tidak bisa terwujud. Entah bagaimana negosiasinya akhirnya ''dek'' Liya bisa mendaftar malah dengan namanya sendiri. Karena usaha ''dek'' Liya untuk mendapatkan ''ID Card'' buat aku tetap gagal, akhirnya ''dek'' Liya merelakan tas KUPI dan ''ID Card''-nya buat aku. Duhhh ....aku senang sekali..... bagaimana pun saat itu sungguh ''ID Card'', tiba-tiba menjadi benda tersakti bagi ku. | ||
| Baris 23: | Baris 23: | ||
Begitulah aku mikirnya. Berjalan pun aku sudah sangat jauh percaya diri. Hihihihi.... beruntung Mbak Dani tidak bertanya kok bisa dapat ''ID Card''. Tapi ketika bertemu, aku lihat ada tanda tanya besar di wajah Mbak Dani. Maafkan aku ya mbak! Aku sudah sah sebagai peserta. Bisa masuk kelas mana saja yang aku inginkan. ''Alhamdulillah....''. | Begitulah aku mikirnya. Berjalan pun aku sudah sangat jauh percaya diri. Hihihihi.... beruntung Mbak Dani tidak bertanya kok bisa dapat ''ID Card''. Tapi ketika bertemu, aku lihat ada tanda tanya besar di wajah Mbak Dani. Maafkan aku ya mbak! Aku sudah sah sebagai peserta. Bisa masuk kelas mana saja yang aku inginkan. ''Alhamdulillah....''. | ||
Saat aku membaca buku manual KUPI, aku baru tahu bahwa acara ini benar-benar dipersiapkan dengan sangat matang sejak awal. Luar biasa sekali. Pengalaman yang luar biasa bahwa aku bisa ikut menjadi saksi saat perempuan membuat fatwa. Apalagi aku bisa ikut kelas ''bahtsul masa’ail'' di kelas lingkungan. Moderatornya keren sekali. Aku jadi malu sekali, kemana saja aku selama ini. Kok tidak ''mudeng'' apa-apa. Mendengarkan perwakilan negara sahabat, bahwa mereka punya masalah yang sama dengan orang Indonesia. Wow.... ternyata kerusakan lingkungan malah berhubungan langsung dengan perempuan sebagai korban ya. Akses air bersih sebagai sumber kehidupan yang terganggu misalnya. | Saat aku membaca buku manual KUPI, aku baru tahu bahwa acara ini benar-benar dipersiapkan dengan sangat matang sejak awal. Luar biasa sekali. Pengalaman yang luar biasa bahwa aku bisa ikut menjadi saksi saat perempuan membuat [[fatwa]]. Apalagi aku bisa ikut kelas ''bahtsul masa’ail'' di kelas lingkungan. Moderatornya keren sekali. Aku jadi malu sekali, kemana saja aku selama ini. Kok tidak ''mudeng'' apa-apa. Mendengarkan perwakilan negara sahabat, bahwa mereka punya masalah yang sama dengan orang Indonesia. Wow.... ternyata kerusakan lingkungan malah berhubungan langsung dengan perempuan sebagai korban ya. Akses air bersih sebagai sumber kehidupan yang terganggu misalnya. | ||
Masalah muncul saat aku akan meminta sertifikat. Karena harus menunjukkan ''ID Card'' dan dicocokkan dengan nomor daftar hadir. Aku cuma sedikit saja kecewa karena tidak mendapatkan sertifikat. Tetapi yang penting adalah aku bisa mendapatkan banyak ilmu dari semua acara yang ada. Jadi, aku tetap bahagia. | Masalah muncul saat aku akan meminta sertifikat. Karena harus menunjukkan ''ID Card'' dan dicocokkan dengan nomor daftar hadir. Aku cuma sedikit saja kecewa karena tidak mendapatkan sertifikat. Tetapi yang penting adalah aku bisa mendapatkan banyak ilmu dari semua acara yang ada. Jadi, aku tetap bahagia. | ||
| Baris 31: | Baris 31: | ||
Berminggu-minggu kemudian baru aku sadari. Meskipun aku sudah mendapat ''ID Card'' tetaplah aku tidak terdaftar sebagai peserta karena pakai ''ID Card'' orang lain. Jadi aku minta dihalalkan untuk semua makanan yang masuk dalam tubuhku. Walau terlambat semoga menjadi sah. | Berminggu-minggu kemudian baru aku sadari. Meskipun aku sudah mendapat ''ID Card'' tetaplah aku tidak terdaftar sebagai peserta karena pakai ''ID Card'' orang lain. Jadi aku minta dihalalkan untuk semua makanan yang masuk dalam tubuhku. Walau terlambat semoga menjadi sah. | ||
Terimakasih Rahima... sudah membuat acara yang sangat spektakuler dan bersejarah. Senang sekali bisa bertemu dengan banyak perempuan Indonesia yang luar biasa. Mendengar kisah inspiratif ibu-ibu mendampingi korban kekerasan seksual, ada juga ibu-ibu yang menggerakkan ekonomi masyarakat, menyimak ulang kisah mbak Farha Ciciek membangun Desa Ledokombo melalui pemberdayaan anak anak. Sangat menggugah jiwa. Aku harus bergerak seperti mereka. | Terimakasih Rahima... sudah membuat acara yang sangat spektakuler dan bersejarah. Senang sekali bisa bertemu dengan banyak perempuan Indonesia yang luar biasa. Mendengar kisah inspiratif ibu-ibu mendampingi korban kekerasan seksual, ada juga ibu-ibu yang menggerakkan ekonomi masyarakat, menyimak ulang kisah mbak [[Farha Ciciek]] membangun Desa Ledokombo melalui pemberdayaan anak anak. Sangat menggugah jiwa. Aku harus bergerak seperti mereka. | ||
Yang paling seru adalah saat panel di ''venue'' utama dengan pembicara Kyai Husein Muhammad, Ibu Dr. Nur Rofiah, Ibu Siti ‘Aisyah dan Pak Machasin. Aku duduk dengan peserta dari Indonesia Timur. Semangatnya luar biasa tak hanya hati dan otak yang bersemangat, aku kira seluruh anggota badan juga ikut bersemangat. Berkali-kali beliau mengacungkan tangan seperti laskar sebelah sedang berucap ''Allahu Akbar'', tapi dia memekik NKRI HARGA MATI, merdeka, hidup Pancasila dan seterusnya. Beruntung dia tidak ''buket'' (bau ketek, red) jadi saya tidak pingsan. Hihihi………… | Yang paling seru adalah saat panel di ''venue'' utama dengan pembicara Kyai [[Husein Muhammad]], Ibu Dr. [[Nur Rofiah]], Ibu Siti ‘Aisyah dan Pak [[Machasin]]. Aku duduk dengan peserta dari Indonesia Timur. Semangatnya luar biasa tak hanya hati dan otak yang bersemangat, aku kira seluruh anggota badan juga ikut bersemangat. Berkali-kali beliau mengacungkan tangan seperti laskar sebelah sedang berucap ''Allahu Akbar'', tapi dia memekik NKRI HARGA MATI, merdeka, hidup Pancasila dan seterusnya. Beruntung dia tidak ''buket'' (bau ketek, red) jadi saya tidak pingsan. Hihihi………… | ||
| Baris 40: | Baris 40: | ||
''(Peserta PUP 4 Rahima dari Salatiga Jawa Tengah)'' | ''(Peserta PUP 4 Rahima dari Salatiga Jawa Tengah)'' | ||
[[Kategori:Refleksi]] | |||
[[Kategori:Refleksi Kongres]] | |||
[[Kategori:Refleksi Kongres1]] | |||