Refleksi dan Kesan Terhadap KUPI: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[KUPI]] telah berakhir, kini tinggal implementasinya yang ditunggu. Kerja keras, usaha yang terus menerus, konsisten sampai berbuah hasil. Saya amat bersyukur mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam KUPI. Bertemu dan berinteraksi dengan begitu banyak ulama perempuan, pemimpin pesantren, aktivis perempuan dan LSM. Amat terasa potensi yang tersimpan dalam kongres itu. Bagi saya yang belum pernah tinggal di pesantren, peluang untuk berkenalan dengan suasana dan gaya hidup suatu pesantren amat menarik. Gaya hidup yang teratur, disiplin mengutamakan nilai-nilai keagamaan dimana adab dan akhlak diutamakan memberi angin segar yang positif. Ternyata kehidupan Jakarta penuh kepalsuan dan fatamorgana. | [[KUPI]] telah berakhir, kini tinggal implementasinya yang ditunggu. Kerja keras, usaha yang terus menerus, konsisten sampai berbuah hasil. Saya amat bersyukur mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam KUPI. Bertemu dan berinteraksi dengan begitu banyak [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]], pemimpin pesantren, aktivis perempuan dan LSM. Amat terasa potensi yang tersimpan dalam kongres itu. Bagi saya yang belum pernah tinggal di pesantren, peluang untuk berkenalan dengan suasana dan gaya hidup suatu pesantren amat menarik. Gaya hidup yang teratur, disiplin mengutamakan nilai-nilai keagamaan dimana adab dan akhlak diutamakan memberi angin segar yang positif. Ternyata kehidupan Jakarta penuh kepalsuan dan fatamorgana. | ||
Di pelosok dan berbagai daerah Indonesia masih bertebaran [[komunitas]]-komunitas yang secara tradisional berpegang teguh pada nilai-nilai yang diajarkan [[al-Qur’an]] dan Hadist. Bertemu sesama perempuan yang peduli dengan kekuatan iman, pembinaan akhlak untuk generasi muda, dan terus berjuang menjaga ke-Indonesia-an, kebangsaan dan persatuan membuat optimis dalam menghadapi masa depan. Inilah sisi Indonesia yang tidak terlihat atau diketahui banyak orang di Jakarta. Memang masih banyak yang perlu pembenahan, berbagai terjemah dan tafsir yang didominasi pengerjaannya oleh kaum laki-laki, berbagai sikap dan pendirian dalam masyarakat dan hukum yang cenderung patriarkhal. Namun kita optimis bahwa seiring berjalannya waktu, dengan bertambah banyaknya perempuan yang berpendidikan kesetaraan dapat meningkat. | Di pelosok dan berbagai daerah Indonesia masih bertebaran [[komunitas]]-komunitas yang secara tradisional berpegang teguh pada nilai-nilai yang diajarkan [[al-Qur’an]] dan Hadist. Bertemu sesama perempuan yang peduli dengan kekuatan iman, pembinaan akhlak untuk generasi muda, dan terus berjuang menjaga ke-Indonesia-an, kebangsaan dan persatuan membuat optimis dalam menghadapi masa depan. Inilah sisi Indonesia yang tidak terlihat atau diketahui banyak orang di Jakarta. Memang masih banyak yang perlu pembenahan, berbagai terjemah dan tafsir yang didominasi pengerjaannya oleh kaum laki-laki, berbagai sikap dan pendirian dalam masyarakat dan hukum yang cenderung patriarkhal. Namun kita optimis bahwa seiring berjalannya waktu, dengan bertambah banyaknya perempuan yang berpendidikan kesetaraan dapat meningkat. | ||
| Baris 16: | Baris 16: | ||
''(Majalah NooR)'' | ''(Majalah NooR)'' | ||
[[Kategori:Refleksi | [[Kategori:Refleksi]] | ||
[[Kategori:Refleksi | [[Kategori:Refleksi Kongres 1]] | ||