Lompat ke isi

Kongres Ulama Perempuan: Modalitas Perempuan Dalam Kontestasi Global: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler VisualEditor
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 9: Baris 9:


=== Urgensi Kongres Ulama Perempuan Sebagai Narasi Tandingan ===
=== Urgensi Kongres Ulama Perempuan Sebagai Narasi Tandingan ===
Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Panitia, Dr. Badriyah Fayumi, Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia diselenggarakan dengan tujuan '''''“'''Mengakui dan mengukuhkan keberadaan [[Ulama Perempuan Dalam Sejarah Islam Indonesia|ulama perempuan dalam sejarah Islam Indonesia]]''.” Pengakuan dan pengukuhan dalam konteks menghadapi dunia global tentu menjadi urgen karena kompetisi dan kontestasi membutuhkan ''power'' baik dalam bentuk ''knowledge'' yang bersifat simbolik maupun solidaritas sosial sebagai bentuk kekuatan sebuah [[komunitas]]. Pengakuan dan pengukuhan keberadaan [[Ulama Perempuan Dalam Sejarah Islam Indonesia|ulama perempuan dalam sejarah Islam Indonesia]] merupakan modal sosial penting dalam memperjuangkan keadilan sosial dan kesetaraan dalam segala bidang, termasuk agama.  
Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Panitia, Dr. [[Badriyah Fayumi]], Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia diselenggarakan dengan tujuan '''''“'''Mengakui dan mengukuhkan keberadaan [[Ulama Perempuan Dalam Sejarah Islam Indonesia|ulama perempuan dalam sejarah Islam Indonesia]]''.” Pengakuan dan pengukuhan dalam konteks menghadapi dunia global tentu menjadi urgen karena kompetisi dan kontestasi membutuhkan ''power'' baik dalam bentuk ''knowledge'' yang bersifat simbolik maupun solidaritas sosial sebagai bentuk kekuatan sebuah [[komunitas]]. Pengakuan dan pengukuhan keberadaan [[Ulama Perempuan Dalam Sejarah Islam Indonesia|ulama perempuan dalam sejarah Islam Indonesia]] merupakan modal sosial penting dalam memperjuangkan keadilan sosial dan kesetaraan dalam segala bidang, termasuk agama.  


Pengakuan tersebut juga menjadi titik awal perjuangan berat ulama perempuan Indonesia menghadapi dunia global. Di satu sisi perempuan harus mempertahankan nilai nilai lokalitas sebagai perempuan Timur dengan tradisi khasnya, sementara di sisi lain menunjukkan relijiusitas yang sejalan dengan nilai-nilai modernitas.  
Pengakuan tersebut juga menjadi titik awal perjuangan berat ulama perempuan Indonesia menghadapi dunia global. Di satu sisi perempuan harus mempertahankan nilai nilai lokalitas sebagai perempuan Timur dengan [[tradisi]] khasnya, sementara di sisi lain menunjukkan relijiusitas yang sejalan dengan nilai-nilai modernitas.  


Fenomena Kongres Ulama Perempuan menunjukkan langkah revolutif kaum perempuan baik dalam ranah paradigmatik, sosial maupun politik, dan dari wacana menuju aksi nyata yang lebih kongrit dan komprehensif. Revolusi paradigmatik ditunjukkan dengan disseminasi secara lebih luas dan mengglobal peran penting agama dalam membangun masyarakat, dan terutama konstruksi agama yang egaliter, non-patriarkhi dan berkeadilan. Jumlah peserta yang begitu banyak dan mewakili perempuan dari seluruh Indonesia bahkan beberapa negara lain memberikan pesan pada dunia global bahwa paradigma baru tafsir agama yang inklusif gender, non patriarkhi dan kontekstual tersosialisasikan secara massif dan sejalan dengan nilai-nilai modernitas. Diseminasi secara meluas menunjukkan adanya narasi baru sebagai wacana alternatif dari narasi pemahaman agama mainstream yang bias gender, ''androsentris'' dan patriarkhi dan dipandang tidak relevan dengan prinsip hak azasi manusia dan prinsip-prinsip modernitas lainnya.   
Fenomena Kongres Ulama Perempuan menunjukkan langkah revolutif kaum perempuan baik dalam ranah paradigmatik, sosial maupun politik, dan dari wacana menuju aksi nyata yang lebih kongrit dan komprehensif. Revolusi paradigmatik ditunjukkan dengan disseminasi secara lebih luas dan mengglobal peran penting agama dalam membangun masyarakat, dan terutama konstruksi agama yang egaliter, non-patriarkhi dan berkeadilan. Jumlah peserta yang begitu banyak dan mewakili perempuan dari seluruh Indonesia bahkan beberapa negara lain memberikan pesan pada dunia global bahwa paradigma baru tafsir agama yang inklusif gender, non patriarkhi dan kontekstual tersosialisasikan secara massif dan sejalan dengan nilai-nilai modernitas. Diseminasi secara meluas menunjukkan adanya narasi baru sebagai wacana alternatif dari narasi pemahaman agama mainstream yang bias gender, ''androsentris'' dan patriarkhi dan dipandang tidak relevan dengan prinsip hak azasi manusia dan prinsip-prinsip modernitas lainnya.   
Baris 17: Baris 17:
Revolusi sosial juga terlihat dalam Kongres Ulama Perempuan dengan terbangunnya ''network'' perempuan yang luas dan kuat, merangkul berbagai kalangan baik pemangku kepentingan di pesantren, akademisi, peneliti, LSM, pekerja sosial, praktisi sosial-keagamaan dan politik, dan bahkan buruh dan kelompok-kelompok marginal. Kongres juga dihadiri dan didukung oleh perempuan lintas aliran, golongan, etnis, dan agama. Solidaritas mekanik yang terbangun akan menjadi modal sosial yang diperhitungan tidak hanya di level nasional tetapi juga internasional.   
Revolusi sosial juga terlihat dalam Kongres Ulama Perempuan dengan terbangunnya ''network'' perempuan yang luas dan kuat, merangkul berbagai kalangan baik pemangku kepentingan di pesantren, akademisi, peneliti, LSM, pekerja sosial, praktisi sosial-keagamaan dan politik, dan bahkan buruh dan kelompok-kelompok marginal. Kongres juga dihadiri dan didukung oleh perempuan lintas aliran, golongan, etnis, dan agama. Solidaritas mekanik yang terbangun akan menjadi modal sosial yang diperhitungan tidak hanya di level nasional tetapi juga internasional.   


Kongres juga menunjukkan adanya revolusi politik karena kekuatan solidaritas perempuan yang begitu massif telah mendorong pemerintah memberikan dukungan yang lebih konkrit. Sambutan Menteri Agama yang hadir dalam penutupan acara tersebut menjadi sebuah simbol dukungan yang serius. Janji Menteri Agama untuk membuka Ma’had ‘Aly khusus untuk perempuan menunjukkan keberpihakan pemerintah untuk mendukung lahirnya generasi dan regenerasi ulama-ulama perempuan dengan misi utama menciptakan keadilan sosial bagi masyarakat Indonesia dan dunia, terlebih perempuan. Selain Kementerian Agama, kehadiran Majlis Ulama Indonesia (MUI) juga menjadi momentum bagi kemantapan perjuangan ulama perempuan. MUI yang selama ini dikenal dengan fatwa-fatwa yang bias gender, termasuk melarang feminism, pada akhirnya memberikan dukungan terhadap pergerakan dan perjuangan [[Ulama Perempuan Indonesia|ulama perempuan Indonesia]].   
Kongres juga menunjukkan adanya revolusi politik karena kekuatan solidaritas perempuan yang begitu massif telah mendorong pemerintah memberikan dukungan yang lebih konkrit. Sambutan Menteri Agama yang hadir dalam penutupan acara tersebut menjadi sebuah simbol dukungan yang serius. Janji Menteri Agama untuk membuka Ma’had ‘Aly khusus untuk perempuan menunjukkan keberpihakan pemerintah untuk mendukung lahirnya generasi dan regenerasi ulama-ulama perempuan dengan misi utama menciptakan keadilan sosial bagi masyarakat Indonesia dan dunia, terlebih perempuan. Selain Kementerian Agama, kehadiran Majlis Ulama Indonesia (MUI) juga menjadi momentum bagi kemantapan perjuangan ulama perempuan. MUI yang selama ini dikenal dengan [[fatwa]]-fatwa yang bias gender, termasuk melarang feminism, pada akhirnya memberikan dukungan terhadap pergerakan dan perjuangan [[Ulama Perempuan Indonesia|ulama perempuan Indonesia]].   


=== Kongres Sebagai Penguatan Modalitas Perempuan ===
=== Kongres Sebagai Penguatan Modalitas Perempuan ===
Baris 25: Baris 25:


=== Mengukur Kekuatan dan Kelemahan Ulama Perempuan ===
=== Mengukur Kekuatan dan Kelemahan Ulama Perempuan ===
Di balik kehadirannya yang fenomenal, kongres ulama perempuan mengungkap adanya kenyataan bahwa masih banyak kelemahan yang harus diperhatikan oleh kaum perempuan. Di antara kelemahan yang dapat diobservasi selama pelaksanaan adalah ketidaksamaan titik berangkat dalam level pengetahuan dan aksi nyata. Masih banyak perempuan yang belum memiliki pengetahuan memadai tentang isu kontemporer dan analisis terhadapnya. Sebagai ilustrasi masih ada peserta yang mempersoalkan masalah jilbab dan tidak berjilbab, pekerjaan domestik sebagai kewajiban perempuan saja, dan bahkan poligami. Persoalan lain yang muncul dengan demikian adalah peran ganda ulama perempuan yang lebih berat dibanding ulama laki-laki, disamping tuntutan yang juga lebih besar. Rasa percaya diri yang kurang dan terbatasnya kreatifitas produktif perempuan serta rendahnya kesadaran lingkungan juga menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Dalam kapasitas pengetahuan, kongres juga menunjukkan masih rendahnya jumlah perempuan dengan pendidikan tinggi (S2 dan S3).
Di balik kehadirannya yang fenomenal, kongres ulama perempuan mengungkap adanya kenyataan bahwa masih banyak kelemahan yang harus diperhatikan oleh kaum perempuan. Di antara kelemahan yang dapat diobservasi selama pelaksanaan adalah ketidaksamaan titik berangkat dalam level pengetahuan dan aksi nyata. Masih banyak perempuan yang belum memiliki pengetahuan memadai tentang isu kontemporer dan analisis terhadapnya. Sebagai ilustrasi masih ada peserta yang mempersoalkan masalah [[jilbab]] dan tidak berjilbab, pekerjaan domestik sebagai kewajiban perempuan saja, dan bahkan [[poligami]]. Persoalan lain yang muncul dengan demikian adalah peran ganda ulama perempuan yang lebih berat dibanding ulama laki-laki, disamping tuntutan yang juga lebih besar. Rasa percaya diri yang kurang dan terbatasnya kreatifitas produktif perempuan serta rendahnya kesadaran lingkungan juga menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Dalam kapasitas pengetahuan, kongres juga menunjukkan masih rendahnya jumlah perempuan dengan pendidikan tinggi (S2 dan S3).


Namun demikian, berbagai kelemahan akan dapat diatasi secara bertahap, terutama dengan dukungan adanya berbagai kekuatan yang signifikan. Sebagaimana diuraikan di bagian sebelumnya, kongres ini memiliki kekuatan yang cukup konprehensif, di  antaranya: a) merupakan gerakan perempuan lintas aliran dan organisasi massa, tradisi, etnis dan dsb; b) menunjukkan adanya keseimbangan aktifisme dan intelektualisme; c) keseimbangan Ilmu dan Seni; d) kemampuan menciptakan suasana damai, kekeluargaan, kebersamaan dan kesetaraan (anti kekerasan dan diskriminasi) sebagaimana tercermin dalam congress; e) adanya dukungan dan keterlibatan Laki-laki; f) menunjukkan wajah Islam Rahmatan Lil Alamin.****  
Namun demikian, berbagai kelemahan akan dapat diatasi secara bertahap, terutama dengan dukungan adanya berbagai kekuatan yang signifikan. Sebagaimana diuraikan di bagian sebelumnya, kongres ini memiliki kekuatan yang cukup konprehensif, di  antaranya: a) merupakan gerakan perempuan lintas aliran dan organisasi massa, tradisi, etnis dan dsb; b) menunjukkan adanya keseimbangan aktifisme dan intelektualisme; c) keseimbangan Ilmu dan Seni; d) kemampuan menciptakan suasana damai, kekeluargaan, kebersamaan dan kesetaraan (anti kekerasan dan diskriminasi) sebagaimana tercermin dalam congress; e) adanya dukungan dan keterlibatan Laki-laki; f) menunjukkan wajah Islam Rahmatan Lil Alamin.****  
Baris 36: Baris 36:


[[Kategori:Diskursus]]
[[Kategori:Diskursus]]
[[Kategori:Diskursus Kongres 1]]
__TANPASUNTINGANBAGIAN__
__TANPASUNTINGANBAGIAN__