Lompat ke isi

Salam Dari Kebon Jambu: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 4: Baris 4:


=== Peran Perempuan Ulama ===
=== Peran Perempuan Ulama ===
Pengasuh Pesantren Arjawinangun, Cirebon, [[Husein Muhammad]], mengutip Umar Ridha Kahalah yang menulis buku Ulama Perempuan di Dunia Islam dan Arab. Banyak [[tokoh]] perempuan yang berkontribusi besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan, cerdas, baik, zuhud, dan bersih. Sukainah binti al-Husain, cicit Nabi Muhammad, adalah ulama terkemuka pada zamannya, guru penyair Arab Jarir al-Tamimy dan Farazdaq. Ayahnya, Imam Husain bin Ali, menyebut putrinya itu “seseorang yang hari-harinya sering berkontemplasi”. Sayang, sejarah kaum Muslimin lantas memasukkan kembali perempuan ke dalam kerangkeng rumah. Aktivitas intelektual dibatasi. Perempuan Islam tenggelam dalam timbunan pergumulan sejarah. Mereka dilupakan dan sistem sosial patriarkis menjadi dominan. Fajar baru datang pada awal abad ke-20 ketika banyak perempuan Islam menggugat. Indonesia memiliki sejumlah perempuan ulama, di antaranya Rahmah el-Yunusiyah, pendiri Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang. Lalu, ada Nyai Khoiriyah Hasyim dari Jombang yang menguasai kitab kuning dan piawai dalam manajemen pendidikan. Ada pula Tengku Fakinah dan Sultanah Safiatudin dari Aceh yang menguasai beberapa bahasa asing. Ketua PP Aisyiah, Siti Aisyah, mengatakan, para perempuan Indonesia berdakwah dengan caranya masing-masing. Ia menyebut nama Siti Aisyah Wetin We Tenrille dari Sulawesi Selatan, penulis epos La-Galigo. Raden Ajeng Kartini adalah murid Kiai Sholeh Darat dari Semarang yang menafsirkan Al Quran Surat Al-Baqoroh Ayat 257 menjadi habis gelap terbitlah terang. “Dunia pesantren juga menempati peran strategis dalam transformasi ilmu-ilmu Islam, pemelihara [[tradisi]] Islam, dan reproduksi perempuan ulama,” katanya. KUPI menjadi wadah berjejaring perempuan ulama serta aktivis dan perempuan cendekiawan. Pengajar Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran, [[Nur Rofiah]], mengatakan, perempuan ulama memahami nash atau teks (seperti Al Quran dan hadis), sedangkan perempuan aktivis memahami realitas. Pemahaman nash dan realitas itu bisa diintegrasikan dalam menegakkan keadilan hakiki bagi perempuan.
Pengasuh Pesantren Arjawinangun, Cirebon, [[Husein Muhammad]], mengutip Umar Ridha Kahalah yang menulis buku Ulama Perempuan di Dunia Islam dan Arab. Banyak [[tokoh]] perempuan yang berkontribusi besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan, cerdas, baik, zuhud, dan bersih. Sukainah binti al-Husain, cicit Nabi Muhammad, adalah ulama terkemuka pada zamannya, guru penyair Arab Jarir al-Tamimy dan Farazdaq. Ayahnya, Imam Husain bin Ali, menyebut putrinya itu “seseorang yang hari-harinya sering berkontemplasi”. Sayang, sejarah kaum Muslimin lantas memasukkan kembali perempuan ke dalam kerangkeng rumah. Aktivitas intelektual dibatasi. Perempuan Islam tenggelam dalam timbunan pergumulan sejarah. Mereka dilupakan dan sistem sosial patriarkis menjadi dominan. Fajar baru datang pada awal abad ke-20 ketika banyak perempuan Islam menggugat. Indonesia memiliki sejumlah perempuan ulama, di antaranya Rahmah el-Yunusiyah, pendiri Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang. Lalu, ada Nyai Khoiriyah Hasyim dari Jombang yang menguasai kitab kuning dan piawai dalam manajemen pendidikan. Ada pula Tengku Fakinah dan Sultanah Safiatudin dari Aceh yang menguasai beberapa bahasa asing. Ketua PP Aisyiah, Siti Aisyah, mengatakan, para perempuan Indonesia berdakwah dengan caranya masing-masing. Ia menyebut nama Siti Aisyah Wetin We Tenrille dari Sulawesi Selatan, penulis epos La-Galigo. Raden Ajeng Kartini adalah murid Kiai Sholeh Darat dari Semarang yang menafsirkan Al Quran Surat Al-Baqoroh Ayat 257 menjadi habis gelap terbitlah terang. “Dunia pesantren juga menempati peran strategis dalam transformasi ilmu-ilmu Islam, pemelihara [[tradisi]] Islam, dan reproduksi perempuan ulama,” katanya. KUPI menjadi wadah berjejaring perempuan ulama serta aktivis dan perempuan cendekiawan. Pengajar Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran, [[Nur Rofiah]], mengatakan, perempuan ulama memahami nash atau teks (seperti Al Quran dan hadis), sedangkan perempuan aktivis memahami realitas. Pemahaman nash dan realitas itu bisa diintegrasikan dalam menegakkan [[Keadilan Hakiki|keadilan hakiki]] bagi perempuan.


=== Melibatkan Santri ===
=== Melibatkan Santri ===
Baris 14: Baris 14:


''Sumber: Harian Kompas, 05 Mei 2017''
''Sumber: Harian Kompas, 05 Mei 2017''
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita KUPI 1]]
[[Kategori:Berita Kongres 1]]