Lompat ke isi

2022 Perempuan dan Neraka; Analisis Mubadalah Hadis Perempuan Terbanyak Penghuni Neraka Karena Lemah Akal dan Agamanya: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|editor=|publisher=|image=Berkas:Jurnal Almanar Vol8 no2.jpg|italic title=AL-MANAR: Jurnal Kajian Agama dan Hadis|isbn=2550-2577|pub_date=2022-12-28|cove...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 21: Baris 21:
| ''Mahfidzatun Nabilah, Siti Qurrotul Aini (UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)''
| ''Mahfidzatun Nabilah, Siti Qurrotul Aini (UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)''
|}
|}
'''Abstract'''
'''Abstrak'''


Dalam Kompilasi Hukum Islam, pengertian nusyuz secara eksklusif mengatur tentang nusyuz yang dilakukan oleh istri. Kompilasi Hukum Islam yang menganut hukum nusyuz tetap berpijak pada fikih patriarki yang berlandaskan pada ajaran agama yang mendasar.  Dari segi metodologi, KHI tetap menyerupai gagasan para peneliti sebelumnya.  Perspektif dan konteks umat Islam Indonesia belum tertanam secara baik dalam rumusan perundang-undangan KHI. Kandungan materiilnya, sebagai hukum positif di Indonesia, adalah keabsahan [[fiqh]] yang memberikan kedudukan tersendiri bagi perempuan. Kajian penelitian dilakukan melalui pendekatan konseptual (conceptual appoarch). Disamping itu penelitian ini juga menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Al-Qur'an memperlakukan nusyuz dari dua sudut pandang, sehingga menjadikannya sebagai penghujatan dalam kaitannya dengan nusyuz. Dengan kata lain, nusyuz itu ada dua macam: satu dari istri (QS. an-Nisa [4]: ​​34) dan satu lagi dari suami (QS. an-Nisa [4]: ​​128).  Cara apapun (mauizhatul hasanah, hajrun, dhorbun, islah, ihsan, taqwa) dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Fokus kajian [[Hadits]] terbagi menjadi dua bagian yakni sanad dan matan. Pada kajian matan pemahamannya terus berlanjut dengan berbagai perbedaan makna mengikuti perkembangan zaman. Pembahasan mengenai Hadits yang bertema perempuan menjadi salah satu kontroversi baik di kalangan cendekia, ulama, maupun masyarakat awam. Beberapa Hadits yang keshahihan sanadnya sudah dipastikan, mengandung kesan diskriminasi pada kaum perempuan secara tekstual. Hal tersebut kemudian melahirkan banyak respons negatif terhadap Hadits itu sendiri. Salah satu Hadits yang dinilai misoginis adalah Hadits tentang paling banyak penghuni neraka adalah perempuan karena lemah akal dan agamanya. Adanya pengamalan Hadits yang tidak sesuai nilai agama Islam dan penyalahgunaan Hadits sebagai dalil untuk merendahkan perempuan, membuat banyak aktivis gender menganggap Hadits-hadits tersebut harus dihilangkan dalam artian dilupakan dan tidak diamalkan karena kemudian Islam dianggap memposisikan perempuan di bawah laki-laki. Di samping itu, hadir metode ''[[mubadalah]]'' dengan konsep pemahaman kesetaraan atau kesalingan yang memaknai Hadits sesuai dengan nilai ''rahmatan lil ‘alamin.'' Dalam tulisan ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis dan jenis penelitian ''library research''. Hasil penelitian ini adalah nilai-nilai ''mubadalah'' yang terkandung dalam Hadits tentang paling banyak penghuni neraka adalah perempuan karena lemah akal dan agamanya. Yakni, perbuatan mengingkari nikmat dan melaknat dapat terjadi secara universal baik laki-laki maupun perempuan. Lemahnya akal dan agama pada perempuan tidak menunjukkan ketidakmampuan seluruh perempuan dalam menyaingi kualitas intelektual dan ketaatan beragama seorang laki-laki.


 
'''Kata kunci:''' ''Hadist Misoginis, Metode Mubadalah, Perempuan, Penghuni Neraka<br />''Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: '''''https://doi.org/10.35719/amn.v8i2.24'''''
 
 
 
 
'''''Keywords:''' Nusyuz, KHI, [[Mubadalah]]''  
 
Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: '''''https://doi.org/10.35719/amn.v8i2.24'''''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]

Revisi per 14 Agustus 2024 09.18

2022 Perempuan dan Neraka; Analisis Mubadalah Hadis Perempuan Terbanyak Penghuni Neraka Karena Lemah Akal dan Agamanya
JudulAL-MANAR: Jurnal Kajian Agama dan Hadis
SeriVol. 8 No. 2 (2022)
Tahun terbit
2022-12-28
ISBN2550-2577
Nama Jurnal : AL-MANAR: Jurnal Kajian Agama dan Hadis
Seri : Vol. 8 No. 2 (2022)
Tahun : 2022-12-28
Judul Tulisan : 2022 Perempuan dan Neraka; Analisis Mubadalah Hadis Perempuan Terbanyak Penghuni Neraka Karena Lemah Akal dan Agamanya
Penulis : Mahfidzatun Nabilah, Siti Qurrotul Aini (UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Abstrak

Fokus kajian Hadits terbagi menjadi dua bagian yakni sanad dan matan. Pada kajian matan pemahamannya terus berlanjut dengan berbagai perbedaan makna mengikuti perkembangan zaman. Pembahasan mengenai Hadits yang bertema perempuan menjadi salah satu kontroversi baik di kalangan cendekia, ulama, maupun masyarakat awam. Beberapa Hadits yang keshahihan sanadnya sudah dipastikan, mengandung kesan diskriminasi pada kaum perempuan secara tekstual. Hal tersebut kemudian melahirkan banyak respons negatif terhadap Hadits itu sendiri. Salah satu Hadits yang dinilai misoginis adalah Hadits tentang paling banyak penghuni neraka adalah perempuan karena lemah akal dan agamanya. Adanya pengamalan Hadits yang tidak sesuai nilai agama Islam dan penyalahgunaan Hadits sebagai dalil untuk merendahkan perempuan, membuat banyak aktivis gender menganggap Hadits-hadits tersebut harus dihilangkan dalam artian dilupakan dan tidak diamalkan karena kemudian Islam dianggap memposisikan perempuan di bawah laki-laki. Di samping itu, hadir metode mubadalah dengan konsep pemahaman kesetaraan atau kesalingan yang memaknai Hadits sesuai dengan nilai rahmatan lil ‘alamin. Dalam tulisan ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis dan jenis penelitian library research. Hasil penelitian ini adalah nilai-nilai mubadalah yang terkandung dalam Hadits tentang paling banyak penghuni neraka adalah perempuan karena lemah akal dan agamanya. Yakni, perbuatan mengingkari nikmat dan melaknat dapat terjadi secara universal baik laki-laki maupun perempuan. Lemahnya akal dan agama pada perempuan tidak menunjukkan ketidakmampuan seluruh perempuan dalam menyaingi kualitas intelektual dan ketaatan beragama seorang laki-laki.

Kata kunci: Hadist Misoginis, Metode Mubadalah, Perempuan, Penghuni Neraka
Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: https://doi.org/10.35719/amn.v8i2.24