Lompat ke isi

Hati Kartini dalam Nurani Peserta Kupi: Perbedaan antara revisi

Created page with "Oleh: Arifah Millati A. ''(Institut Agama Islam Negeri Tulungagung)'' == Kongres Ulama Perempuan Indonesia Pertama Di Bulan Kartini == Bulan April bagi perempuan Indonesia..."
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
Oleh: Arifah Millati A.
=== Kongres Ulama Perempuan Indonesia Pertama Di Bulan Kartini ===
 
Bulan April bagi perempuan Indonesia bukanlah bulan yang biasa. Kesakralan bulan ini bisa dibuktikan dengan pengakuan Presiden Soekarno untuk meresmikan 21 April sebagai hari Kartini pada tahun 1964. Kemudian melalui putusan presiden tertanggal 2 Mei 1964, Soekarno mendeklarasikan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Kartini yang dikenal sebagai perempuan Indonesia yang berwawasan luas, memperjuangkan kemampuan intelektual perempuan agar serasi bersanding untuk menjadi partner laki-laki. Bulan April yang terkenal dengan bulan emansipasi wanita, di tahun 2017 ini menjadi lebih bernilai dan hidup bersamaan dengan perhelatan akbar pertama di Dunia, yang termanifestasi dalam KUPI (Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia). Acara yang diselenggarakan KUPI tersebut seolah menunjukkan adanya kebangkitan perjuangan perempuan melalui konferensi ulama’ perempuan.  
''(Institut Agama Islam Negeri Tulungagung)''
 
== Kongres Ulama Perempuan Indonesia Pertama Di Bulan Kartini ==
Bulan April bagi perempuan Indonesia bukanlah bulan yang biasa. Kesakralan bulan ini bisa dibuktikan dengan pengakuan Presiden Soekarno untuk meresmikan 21 April sebagai hari Kartini pada tahun 1964. Kemudian melalui putusan presiden tertanggal 2 Mei 1964, Soekarno mendeklarasikan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Kartini yang dikenal sebagai perempuan Indonesia yang berwawasan luas, memperjuangkan kemampuan intelektual perempuan agar serasi bersanding untuk menjadi partner laki-laki. Bulan April yang terkenal dengan bulan emansipasi wanita, di tahun 2017 ini menjadi lebih bernilai dan hidup bersamaan dengan perhelatan akbar pertama di Dunia, yang termanifestasi dalam KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia). Acara yang diselenggarakan KUPI tersebut seolah menunjukkan adanya kebangkitan perjuangan perempuan melalui konferensi ulama’ perempuan.  


KUPI berlangsung dari tanggal 25 hingga 27 April 2017 di Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon yang diasuh ibu Nyai Hj. Masriyah Amva. Beliau adalah seorang perempuan inspiratif yang telah melahirkan banyak karya, terutama dalam bidang sastra. Syair-syair yang indah beliau curahkan dari berbagai pengalaman hidupnya, hingga beliau mendapat sebutan sebagai penulis yang puitis, romantis dan spiritualis.  
KUPI berlangsung dari tanggal 25 hingga 27 April 2017 di Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon yang diasuh ibu Nyai Hj. Masriyah Amva. Beliau adalah seorang perempuan inspiratif yang telah melahirkan banyak karya, terutama dalam bidang sastra. Syair-syair yang indah beliau curahkan dari berbagai pengalaman hidupnya, hingga beliau mendapat sebutan sebagai penulis yang puitis, romantis dan spiritualis.  


Sosok beliau bagi saya, sangat mewakili gambaran Kartini di era moderen. Tidak berlebihan jika saya menyebut sosok ibu Nyai Hj. Masriyah Amva sebagai sosok Kartini modern. Sosok Kartini moderen lainnya tersirat pada  karakter Ilmuwan perempuan dari berbagai rumah kajian pemerhati feminis, anak dan HAM, Pengasuh Pondok Pesantren, aktivis, LSM dan akademisi semua turut mensukseskan KUPI yang pelaksanaanya dipelopori oleh tiga organisasi besar pemerhati gerakan perempuan di Indonesia, yakni Fahmina, Rahima dan Alimat.  
Sosok beliau bagi saya, sangat mewakili gambaran Kartini di era moderen. Tidak berlebihan jika saya menyebut sosok ibu Nyai Hj. Masriyah Amva sebagai sosok Kartini modern. Sosok Kartini moderen lainnya tersirat pada  karakter Ilmuwan perempuan dari berbagai rumah kajian pemerhati feminis, anak dan HAM, Pengasuh Pondok Pesantren, aktivis, LSM dan akademisi semua turut mensukseskan KUPI yang pelaksanaanya dipelopori oleh tiga organisasi besar pemerhati gerakan perempuan di Indonesia, yakni [[Fahmina]], [[Rahima]] dan [[Alimat]].  


Acara yang diketuai Ibu Dra. Hj. Badriyah Fayumi tersebut, semakin heroik dengan berlangsungnya seminar Internasional Sebagai acara pembuka Kongres. Seminar tersebut mengusung tema “''Amplifiying Women Ulama’s Voices, Asserting Values of Islam, Nationhood And Humanity''” di gedung Pasca Sarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, dimulai pukul 08.00-16.30 Wib. Pembicara dalam seminar tersebut adalah para peneliti, akademisi, dan aktivis kajian perempuan dari berbagai negara, seperti Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin mantan ketua komisi Hak Asasi Manusia (IPHRC) dan Prof. Eka Sri Mulyani Dekan Fakultas Psikology UIN Ar-Raniry Banda Aceh dari Indonesia. Zainah Anwar, anggota pendiri dan mantan direktur eksekutif  Musawah and Sisters in Islam (SIS) Malaysia. Bushra Hyder alumni PAIMAN (Pakistan Initiative For Mothers And New Borns) Trust Pakistan, Hatoon al-Fasi, peneliti senior di Universitas Qatar yang berasal dari Saudi Arabia, Roya Rahmani Duta besar Afghanistan di Indonesia, Ulfat Hussein Masibo dewan tertinggi Muslim (fatwa) di Kenya, dan Dr. Rafatu Abdul Hamid, dosen Filsafat Agama (AHP Fellow) dari University of  Abuja, Nigeria.
Acara yang diketuai Ibu Dra. Hj. Badriyah Fayumi tersebut, semakin heroik dengan berlangsungnya seminar Internasional Sebagai acara pembuka Kongres. Seminar tersebut mengusung tema “''Amplifiying Women Ulama’s Voices, Asserting Values of Islam, Nationhood And Humanity''” di gedung Pasca Sarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, dimulai pukul 08.00-16.30 Wib. Pembicara dalam seminar tersebut adalah para peneliti, akademisi, dan aktivis kajian perempuan dari berbagai negara, seperti Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin mantan ketua komisi Hak Asasi Manusia (IPHRC) dan Prof. Eka Sri Mulyani Dekan Fakultas Psikology UIN Ar-Raniry Banda Aceh dari Indonesia. Zainah Anwar, anggota pendiri dan mantan direktur eksekutif  Musawah and Sisters in Islam (SIS) Malaysia. Bushra Hyder alumni PAIMAN (Pakistan Initiative For Mothers And New Borns) Trust Pakistan, Hatoon al-Fasi, peneliti senior di Universitas Qatar yang berasal dari Saudi Arabia, Roya Rahmani Duta besar Afghanistan di Indonesia, Ulfat Hussein Masibo dewan tertinggi Muslim (fatwa) di Kenya, dan Dr. Rafatu Abdul Hamid, dosen Filsafat Agama (AHP Fellow) dari University of  Abuja, Nigeria.


Penyelenggaraan KUPI sebagaimana visi yang diangkat bersinergi dengan perjuangan Kartini, yakni menyampaikan pesan kemanusiaan dan memberi penegasan urgensi, posisi dan definisi ulama perempuan. Harapan penyelenggaraan KUPI bisa mengeluarkan perempuan dari telekungan teks dan budaya patriarkhi, agar perempuan berkesempatan sama dalam melakukan perbaikan dan pengembangan intelektual, memberi kontribusi positif bagi kemajuan bangsa Indonesia, semangat kartini yang menyala pada peserta KUPI menciptakan semangat baru bagi perempuan dalam mewarnai khazanah intelektual Indonesia.   
Penyelenggaraan KUPI sebagaimana visi yang diangkat bersinergi dengan perjuangan Kartini, yakni menyampaikan pesan kemanusiaan dan memberi penegasan urgensi, posisi dan definisi ulama perempuan. Harapan penyelenggaraan KUPI bisa mengeluarkan perempuan dari telekungan teks dan budaya patriarkhi, agar perempuan berkesempatan sama dalam melakukan perbaikan dan pengembangan intelektual, memberi kontribusi positif bagi kemajuan bangsa Indonesia, semangat kartini yang menyala pada peserta KUPI menciptakan semangat baru bagi perempuan dalam mewarnai [[khazanah]] intelektual Indonesia.   


== Peran Penting dan Bias Terma Ulama Perempuan '' '' ==
=== Peran Penting dan Bias Terma Ulama Perempuan '' '' ===
Kongres yang baru pertama kali diselenggarakan ini sesungguhnya memiliki tujuan khusus, yaitu memberikan penegasan secara ilmiah bahwa peran Ulama Perempuan perlu diperhitungkan di tengah distorsi pemaknaan kata “Ulama” yang sering dikaitkan hanya pada laki-laki, sehingga mengartikan ''al-‘ulama waratsah al-Anbiya’'' tidak lagi meninggalkan kesan memarginalkan keberadaan ulama perempuan sebagai pewaris Nabi. Bias gender dalam kata Ulama juga disinggung oleh Hatoon al-Fasi, dalam pidatonya beliau memperjelas bahwa demi menyelamatkan peran ulama dalam kontestasi dunia ilmiah, beliau lebih menyepakati julukan ''‘alimat'' bagi ulama perempuan.  
Kongres yang baru pertama kali diselenggarakan ini sesungguhnya memiliki tujuan khusus, yaitu memberikan penegasan secara ilmiah bahwa peran Ulama Perempuan perlu diperhitungkan di tengah distorsi pemaknaan kata “Ulama” yang sering dikaitkan hanya pada laki-laki, sehingga mengartikan ''al-‘ulama waratsah al-Anbiya’'' tidak lagi meninggalkan kesan memarginalkan keberadaan ulama perempuan sebagai pewaris Nabi. Bias gender dalam kata Ulama juga disinggung oleh Hatoon al-Fasi, dalam pidatonya beliau memperjelas bahwa demi menyelamatkan peran ulama dalam kontestasi dunia ilmiah, beliau lebih menyepakati julukan ''‘alimat'' bagi ulama perempuan.  


Baris 21: Baris 17:
Penggunaan kata ‘ulama  sering disalahartikan sebagai kata khusus untuk laki-laki. Dalam acara KUPI tidak lagi berlaku, KUPI mampu menghapus delegitimasi sebutan ulama’ yang hanya dialamatkan kepada laki-laki, serta membuktikan pengaruh perempuan terhadap kemajuan peradaban bangsa Indonesia. Kenyataan ini ternyata bersinergi dengan visi misi ''muqaddimah'' KUPI yang menjelaskan upaya dan tujuannya “ulama perempuan sering mengalami berbagai tantangan, seperti pengabaian, deligitmasi, bahkan kekerasan. Untuk itu, perlu dilakukan berbagai upaya penguatan pengetahuan dan keahlian, jejaring antarulama perempuan, afirmasi dan apresiasi kerja-kerja mereka, serta pengokohan eksistensi secara kultural”.   
Penggunaan kata ‘ulama  sering disalahartikan sebagai kata khusus untuk laki-laki. Dalam acara KUPI tidak lagi berlaku, KUPI mampu menghapus delegitimasi sebutan ulama’ yang hanya dialamatkan kepada laki-laki, serta membuktikan pengaruh perempuan terhadap kemajuan peradaban bangsa Indonesia. Kenyataan ini ternyata bersinergi dengan visi misi ''muqaddimah'' KUPI yang menjelaskan upaya dan tujuannya “ulama perempuan sering mengalami berbagai tantangan, seperti pengabaian, deligitmasi, bahkan kekerasan. Untuk itu, perlu dilakukan berbagai upaya penguatan pengetahuan dan keahlian, jejaring antarulama perempuan, afirmasi dan apresiasi kerja-kerja mereka, serta pengokohan eksistensi secara kultural”.   


== KUPI Melahirkan Rekonstruksi Metodologis Islam Era Kontemporer ==
=== KUPI Melahirkan Rekonstruksi Metodologis Islam Era Kontemporer ===
Kemunculan budaya maskulinitas di kalangan masyarakat merupakan bukti akurat bahwa budaya patriarkhi masih terjalin erat dengan sistem dan kultur pada wilayah sosial kemasyarakatan. Laki-laki menempati posisi dominan sehingga posisi perempuan menjadi marginal dan tersubordinat. Laki-laki selalu dianggap paling memiliki peran dan kapabelitas yang tinggi dibanding perempuan. Sebagai satu contoh kongkrit adalah munculnya ulama par ''exellent'' yang dianggap tidak tertandingi dalam bidang hukum seperti imam Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali, dalam bidang  tafsir  seperti Fakhr al-Din al-Razi,  Jarir al-Thabari, ibn Katsir dan al-Qurthubi, tidak seorang pun nama perempuan yang masuk menghiasi nama ilmuwan dunia. Padahal dalam tataran ideal moral, masalah kualitas ditentukan oleh prestasi (''achiefed status''). Status sosial yang tinggi dapat diperoleh secara individu tergantung seseorang yang menjalani. KUPI membuktikan bahwa perempuan memiliki kemampuan tidak hanya dalam ranah sosiologis, namun juga metodologis. KUPI menyelenggarakan kelas diskusi dengan berbagai tema menarik tidak hanya sensitif gender, namun juga tema yang bernafaskan nilai kebangsaan, seperti upaya penanganan dan pencegahan radikalisme.  
Kemunculan budaya maskulinitas di kalangan masyarakat merupakan bukti akurat bahwa budaya patriarkhi masih terjalin erat dengan sistem dan kultur pada wilayah sosial kemasyarakatan. Laki-laki menempati posisi dominan sehingga posisi perempuan menjadi marginal dan tersubordinat. Laki-laki selalu dianggap paling memiliki peran dan kapabelitas yang tinggi dibanding perempuan. Sebagai satu contoh kongkrit adalah munculnya ulama par ''exellent'' yang dianggap tidak tertandingi dalam bidang hukum seperti imam Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali, dalam bidang  tafsir  seperti Fakhr al-Din al-Razi,  Jarir al-Thabari, ibn Katsir dan al-Qurthubi, tidak seorang pun nama perempuan yang masuk menghiasi nama ilmuwan dunia. Padahal dalam tataran ideal moral, masalah kualitas ditentukan oleh prestasi (''achiefed status''). Status sosial yang tinggi dapat diperoleh secara individu tergantung seseorang yang menjalani. KUPI membuktikan bahwa perempuan memiliki kemampuan tidak hanya dalam ranah sosiologis, namun juga metodologis. KUPI menyelenggarakan kelas diskusi dengan berbagai tema menarik tidak hanya sensitif gender, namun juga tema yang bernafaskan nilai kebangsaan, seperti upaya penanganan dan pencegahan radikalisme.  


Baris 29: Baris 25:


Inilah serba serbi KUPI, kebersamaan dalam meraih kemajuan Indonesia bersama ulama perempuan Indonesia.
Inilah serba serbi KUPI, kebersamaan dalam meraih kemajuan Indonesia bersama ulama perempuan Indonesia.
'''Penulis: Arifah Millati A.''' ''(Institut Agama Islam Negeri Tulungagung)''
[[Category:Diskursus]]
[[Category:Diskursus]]