Pandangan Fikih terhadap Ibadah Penyandang Disabilitas: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 10: | Baris 10: | ||
Bahkan dari penafsiran ini menjadi jelas bahwa Islam mengecam sikap dan tindakan diskriminatif terhadap para penyandang disabilitas. Terlebih diskriminasi yang berdasarkan kesombongan dan jauh dari ''akhlāqulkarīmah''. Dalam [[al-Qur’an]] dikisahkan perihal interaksi Nabi Muhammad yang dianggap kurang ideal dengan seorang sahabat [[Penyandang Disabilitas Netra|penyandang disabilitas netra]] sehingga Allah menegurnya dalam firmannya berikut: | Bahkan dari penafsiran ini menjadi jelas bahwa Islam mengecam sikap dan tindakan diskriminatif terhadap para penyandang disabilitas. Terlebih diskriminasi yang berdasarkan kesombongan dan jauh dari ''akhlāqulkarīmah''. Dalam [[al-Qur’an]] dikisahkan perihal interaksi Nabi Muhammad yang dianggap kurang ideal dengan seorang sahabat [[Penyandang Disabilitas Netra|penyandang disabilitas netra]] sehingga Allah menegurnya dalam firmannya berikut: | ||
<big>عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ (1) اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ (2) وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ (3) اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ (4) اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ (5) فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ (6) وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ (7) وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ (8) وَهُوَ يَخْشٰىۙ (9) فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ (10)كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ (11)</big> | <div lang="ar" dir="rtl"> <big>عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ (1) اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ (2) وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ (3) اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ (4) اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ (5) فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ (6) وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ (7) وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ (8) وَهُوَ يَخْشٰىۙ (9) فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ (10)كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ (11)</big> </div> | ||
''“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling. Karena seorang disabilitas netra telah datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali ia ingin menyucikan dirinya (dari dosa). Atau ia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memperhatikan mereka. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau ia tidak menyucikan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sementara ia takut kepada Allah, engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu). Sungguh (ayat-ayat/ surat) itu adalah peringatan. …” (QS. ‘Abasa ayat 1-11)'' | ''“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling. Karena seorang disabilitas netra telah datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali ia ingin menyucikan dirinya (dari dosa). Atau ia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memperhatikan mereka. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau ia tidak menyucikan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sementara ia takut kepada Allah, engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu). Sungguh (ayat-ayat/ surat) itu adalah peringatan. …” (QS. ‘Abasa ayat 1-11)'' | ||
| Baris 24: | Baris 24: | ||
''“Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh seseorang niscaya punya suatu derajat di sisi Allah yang tidak akan dicapainya dengan amal, sampai ia diuji dengan cobaan di badannya, lalu dengan ujian itu ia mencapai derajat tersebut” (HR.Ibnu Abi Syaibah).'' | ''“Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh seseorang niscaya punya suatu derajat di sisi Allah yang tidak akan dicapainya dengan amal, sampai ia diuji dengan cobaan di badannya, lalu dengan ujian itu ia mencapai derajat tersebut” (HR.Ibnu Abi Syaibah).'' | ||
Hadis ini memberi pemahaman bahwa di balik keterbatasan fisik terdapat derajat yang mulia di sisi Allah SWT. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadikan keterbatasan tersebut sebagai kekurangan, tapi justru sebagai tangga bagi ketercapaian derajat yang tinggi. Senada dengan itu, hadis berikut ini mengabarkan kemuliaan bagi penyandang disabilitas netra: | Hadis ini memberi pemahaman bahwa di balik keterbatasan fisik terdapat derajat yang mulia di sisi Allah SWT. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadikan keterbatasan tersebut sebagai kekurangan, tapi justru sebagai tangga bagi ketercapaian derajat yang tinggi. Senada dengan itu, hadis berikut ini mengabarkan kemuliaan bagi [[Penyandang Disabilitas Netra|penyandang disabilitas netra]]: | ||
''Allah berfirman, “Siapa yang aku hilangkan kedua penglihatannya, kemudian dia bersabar dan meminta pahala, maka aku tidak rela kalau dia mendapat pahala selain surga.”'' | ''Allah berfirman, “Siapa yang aku hilangkan kedua penglihatannya, kemudian dia bersabar dan meminta pahala, maka aku tidak rela kalau dia mendapat pahala selain surga.”'' | ||