Lompat ke isi

Tadarus Subuh ke-128: Ekofeminisme: Merajut Keseimbangan Ekosistem Melalui Perspektif dan Pengalaman Perempuan: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '''Minggu, 06 Oktober 2024'' Manusia sebagai hamba, dalam ajaran Islam, bukan hanya meniscayakan ketundukan total kepada perintah Allah SWT sebagai Tuhan yang Esa. S...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
''Minggu, 06 Oktober 2024''
''Minggu, 20 Oktober 2024''






Manusia sebagai hamba, dalam ajaran Islam, bukan hanya meniscayakan ketundukan total kepada perintah Allah SWT sebagai Tuhan yang Esa. Sebagai pengemban amanah khalifah fi al-ardlh, manusia juga memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan rahmat, tak hanya kepada sesama manusia, namun juga hewan, tumbuhan, dan alam semesta.
Ekofeminisme mengaitkan perjuangan lingkungan dengan pengalaman perempuan, melihat bahwa kerusakan alam dan penindasan terhadap perempuan seringkali berjalan beriringan. Dalam Islam, perempuan memiliki peran penting sebagai penjaga bumi (khalifah).


Lalu, apa saja yang harus manusia lakukan untuk mengasihi hewan dan peduli pada lingkungan pada era di mana kerusakan ekologis terjadi dimana-mana?
Melalui ekofeminisme, perspektif perempuan dapat berperan dalam merajut harmoni antara manusia dan lingkungan. Bagaimanakah peran perempuan yang berangkat dari pengalamannya, dapat diintegrasikan dengan konsep khalifah sebagai bentuk menjaga bumi?


Bagaimana kita bisa meneladani Nabi dalam mengajarkan kasih sayang kepada hewan dan peduli lingkungan?
Mari mengaji bersama: Ekofeminisme: Merajut Keseimbangan Ekosistem Melalui Perspektif dan Pengalaman Perempuan
 
Mari mengaji bersama Pendiri Pesantren Ekologi Ath-Thaariq: Konsep Green Islam dan Implementasinya di Pesantren Ath-Thaariq
{|
{|
|Hari/Tanggal
|Hari/Tanggal
|
|
|Minggu, 06 Oktober 2024
|Minggu, 20 Oktober 2024
|-
|-
|Waktu
|Waktu
Baris 21: Baris 19:
|Narasumber
|Narasumber
|:
|:
|Ibu Nyai [[Nissa Wargadipura]] (Pimpinan Pesantren Ekologi Ath-Thaariq)  
|[[Siti Maimunah]], Ph.D. a.k.a. Mai Jebing (Ekofemis, Direktur Mama Aleta Fund)  
|-
|-
|Narasumber
|Narasumber

Revisi terkini sejak 21 Februari 2025 11.22

Minggu, 20 Oktober 2024


Ekofeminisme mengaitkan perjuangan lingkungan dengan pengalaman perempuan, melihat bahwa kerusakan alam dan penindasan terhadap perempuan seringkali berjalan beriringan. Dalam Islam, perempuan memiliki peran penting sebagai penjaga bumi (khalifah).

Melalui ekofeminisme, perspektif perempuan dapat berperan dalam merajut harmoni antara manusia dan lingkungan. Bagaimanakah peran perempuan yang berangkat dari pengalamannya, dapat diintegrasikan dengan konsep khalifah sebagai bentuk menjaga bumi?

Mari mengaji bersama: Ekofeminisme: Merajut Keseimbangan Ekosistem Melalui Perspektif dan Pengalaman Perempuan

Hari/Tanggal Minggu, 20 Oktober 2024
Waktu : 05.30 - 07.00 WIB
Narasumber : Siti Maimunah, Ph.D. a.k.a. Mai Jebing (Ekofemis, Direktur Mama Aleta Fund)
Narasumber : Faqihuddin Abdul Kodir (Penggagas Metode Mubadalah, Founder Mubadalah.id, Muallif Kitab Nabiyyurrahmah)
Link Video : https://www.youtube.com/watch?v=zjFRiTBBU4k