KUPI: Sebuah Perjalanan: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
=== Acara Penutupan KUPI, Kamis 27 April 2017: siang jelang sore === | === Acara Penutupan KUPI, Kamis 27 April 2017: siang jelang sore === | ||
Duduk di bagian tengah tenda utama segaris lurus dengan panggung, di kelilingi beberapa mitra Rahima: di belakang saya Istianah Ghazali (beserta dua balita dan suaminya) peserta Pendidikan Ulama Perempuan (PUP) 1 Jawa Timur yang sekarang tinggal di Pekalongan, di samping kanan saya Ratna Ulfah peserta PUP 4 dari Purworejo, di depan saya ada Anis Fachrotul Fuadah (Staf Rahima 2011–2012), Anis Su’adah peserta program Madrasah Rahima dari Lamongan, Zulfi Zumala peserta program Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) untuk Ustad/ustadzah dari Banyuwangi, Mia Faizah Imran peserta Madrasah Rahima dari Tasikmalaya, Istianah peserta PUP 2 dari Tasikmalaya, dan di sebelah kiri saya Mbak Farha Ciciek (Direktur Rahima 2000–2007), pikiran saya melayang pada perjalanan Pendidikan Ulama Perempuan (PUP) Rahima. | Duduk di bagian tengah tenda utama segaris lurus dengan panggung, di kelilingi beberapa mitra [[Rahima]]: di belakang saya Istianah Ghazali (beserta dua balita dan suaminya) peserta Pendidikan [[Ulama Perempuan]] (PUP) 1 Jawa Timur yang sekarang tinggal di Pekalongan, di samping kanan saya Ratna Ulfah peserta PUP 4 dari Purworejo, di depan saya ada Anis Fachrotul Fuadah (Staf Rahima 2011–2012), Anis Su’adah peserta program Madrasah Rahima dari Lamongan, Zulfi Zumala peserta program Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) untuk Ustad/ustadzah dari Banyuwangi, Mia Faizah Imran peserta Madrasah Rahima dari Tasikmalaya, Istianah peserta PUP 2 dari Tasikmalaya, dan di sebelah kiri saya Mbak Farha Ciciek (Direktur Rahima 2000–2007), pikiran saya melayang pada perjalanan Pendidikan Ulama Perempuan (PUP) Rahima. | ||
Ketika itu sekitar tahun 2004, Rahima yang baru berusia 3 tahun<ref>Lihat sejarah berdirinya Rahima dalam buku ‘the Rahima Story’ yang diterbitkan oleh Rahima pada perayaan ulang tahunnya yang ke 10, pada 2010</ref> masih berjuang mencari identitas diri. Diskusi intensif terus dilakukan baik oleh kepemimpian kolektif Rahima ketika itu: KH Husein Muhammad (Direktur Pengembangan Wacana), Farha Ciciek (Direktur Eksternal merangkap Direktur Internal (karena Syafiq Hasyim, Direktur Internal, masih sekolah S2 di Belanda) dan beberapa Anggota Badan Pengurus Rahima di bawah kepemimpinan KH Muhyidin Abdusshomad (Pengasuh PP Nurul Islam, Jember, Jawa Timur). | Ketika itu sekitar tahun 2004, Rahima yang baru berusia 3 tahun<ref>Lihat sejarah berdirinya Rahima dalam buku ‘the Rahima Story’ yang diterbitkan oleh Rahima pada perayaan ulang tahunnya yang ke 10, pada 2010</ref> masih berjuang mencari identitas diri. Diskusi intensif terus dilakukan baik oleh kepemimpian kolektif Rahima ketika itu: KH Husein Muhammad (Direktur Pengembangan Wacana), Farha Ciciek (Direktur Eksternal merangkap Direktur Internal (karena Syafiq Hasyim, Direktur Internal, masih sekolah S2 di Belanda) dan beberapa Anggota Badan Pengurus Rahima di bawah kepemimpinan KH Muhyidin Abdusshomad (Pengasuh PP Nurul Islam, Jember, Jawa Timur). | ||
| Baris 19: | Baris 15: | ||
=== Selasa pagi menjelang siang, 25 April 2017: hari pertama Kongres. === | === Selasa pagi menjelang siang, 25 April 2017: hari pertama Kongres. === | ||
Suasana di ponpes Kebon Jambu makin ramai dengan lalu lalang peserta yang mulai berdatangan, kendaraan yang mengantar tamu ataupun catering, persiapan pembukaan, santri seksi kebersihan yang lincah, membersihkan sampah, santri putri yang sigap membawakan tas/koper lalu mengantar peserta ke tempat penginapan, dan lain-lain. Di tenda utama terdengar pengumuman akan segera dilangsungkan sosialisasi kesehatan reproduksi perempuan mengenai pencegahan kanker serviks oleh BPJS Kesehatan<ref>Sehari sebelumnya saya turut berpartisipasi pada kegiatan bakti sosial sunatan masal yang diikuti oleh 19 anak laki laki.</ref>. Di WA grup KUPI bertubi tubi masuk laporan pandangan mata dari beberapa panitia KUPI yang hadir di seminar internasional kerjasama KUPI-AMAN Indonesia-IAIN Syech Nurjati Cirebon. Saya ikut terharu ketika beberapa teman berbagi tentang pengalaman batin mereka saat Shalawat Musawah<ref>Awalnya bernama Shalawat Keadilan, ditulis oleh Faqihuddin AK pada salah satu pelatihan Rahima di 2003 yang berlangsung di Ponpes Nurul Islam (NURIS) Jember yang diasuh oleh KH Muhyidin Abdusshomad. Ketika itu peserta pelatihan meminta dibuatkan lagu berbahasa Arab untuk dinyanyikan di sela sela pelatihan untuk mengimbangi lagu berbahasa Inggris seperti We Shall Over Come dan tentu saja lagu lagu berbahasa Indonesia. Naskah shalawat yang dibuat Faqih ini kemudian ‘ditashih’ oleh KH Husein Muhammad dan KH Muhyidin Abdusshomad, lalu Nyai Ruqoyyah Ma’shum menyanyikannya untuk pertama kalinya sebelum diperkenalkan kepada peserta pelatihan. Di kemudian hari Shalawat ini lalu dikembangkan dalam berbagai versi lagu baik oleh Rahima maupun Fahmina.</ref> dilantunkan di arena seminar internasional yang membuat air mata teman-teman yang hadir di lokasi luruh. Ya Allah…, atas izinmu KUPI terlaksana… | Suasana di ponpes Kebon Jambu makin ramai dengan lalu lalang peserta yang mulai berdatangan, kendaraan yang mengantar tamu ataupun catering, persiapan pembukaan, santri seksi kebersihan yang lincah, membersihkan sampah, santri putri yang sigap membawakan tas/koper lalu mengantar peserta ke tempat penginapan, dan lain-lain. Di tenda utama terdengar pengumuman akan segera dilangsungkan sosialisasi kesehatan reproduksi perempuan mengenai pencegahan kanker serviks oleh BPJS Kesehatan<ref>Sehari sebelumnya saya turut berpartisipasi pada kegiatan bakti sosial sunatan masal yang diikuti oleh 19 anak laki laki.</ref>. Di WA grup KUPI bertubi tubi masuk laporan pandangan mata dari beberapa panitia KUPI yang hadir di seminar internasional kerjasama KUPI-AMAN Indonesia-IAIN Syech Nurjati Cirebon. Saya ikut terharu ketika beberapa teman berbagi tentang pengalaman batin mereka saat Shalawat Musawah<ref>Awalnya bernama Shalawat Keadilan, ditulis oleh Faqihuddin AK pada salah satu pelatihan Rahima di 2003 yang berlangsung di Ponpes Nurul Islam (NURIS) Jember yang diasuh oleh KH Muhyidin Abdusshomad. Ketika itu peserta pelatihan meminta dibuatkan lagu berbahasa Arab untuk dinyanyikan di sela sela pelatihan untuk mengimbangi lagu berbahasa Inggris seperti We Shall Over Come dan tentu saja lagu lagu berbahasa Indonesia. Naskah shalawat yang dibuat Faqih ini kemudian ‘ditashih’ oleh KH Husein Muhammad dan KH Muhyidin Abdusshomad, lalu Nyai Ruqoyyah Ma’shum menyanyikannya untuk pertama kalinya sebelum diperkenalkan kepada peserta pelatihan. Di kemudian hari Shalawat ini lalu dikembangkan dalam berbagai versi lagu baik oleh Rahima maupun [[Fahmina]].</ref> dilantunkan di arena seminar internasional yang membuat air mata teman-teman yang hadir di lokasi luruh. Ya Allah…, atas izinmu KUPI terlaksana… | ||
Saya memilih duduk di areal registrasi peserta yang berlokasi di ruang Makbaroh lantai bawah, tepat di pintu masuk Ponpes Kebon Jambu. Karena menurut pendapat saya di areal itulah saya bisa berjumpa dengan berbagai kalangan. Benar saja, disana Saya bisa menyapa santri-santri putri bagian registrasi, menyapa peserta yang baru datang dari berbagai daerah, bercanda dengan beberapa panitia (bumil Alif Slatri, Roziqoh, Duloh, Imbi, Fitri dan Masfufah); menghampiri ‘santri’ Rahima (Aida, Mustika dan Fran) yang sedang memasukan data pilihan kelas diskusi paralel peserta berdasarkan pada CV yang telah diisi ketika registrasi; berdiskusi mengenai forum konsolidasi yang akan berlangsung siang hari itu ditingkahi canda (juga pijatan, dan kipasan ilir) dengan fasilitator tim konsolidasi (''Uni'' Yefri, Lolly, Dian, Nadia, Sely, dan Muyasaroh) yang sedang mendampingi peserta mengisi CV; dan tentu saja foto bersama dengan mitra-mitra Rahima dari perwakilan angkatan 1 hingga 4, mitra Rahima dari program selain PUP, alumni Fiqhun Nisa P3M, teman teman aktivis, akademisi dan lain sebagainya. | Saya memilih duduk di areal registrasi peserta yang berlokasi di ruang Makbaroh lantai bawah, tepat di pintu masuk Ponpes Kebon Jambu. Karena menurut pendapat saya di areal itulah saya bisa berjumpa dengan berbagai kalangan. Benar saja, disana Saya bisa menyapa santri-santri putri bagian registrasi, menyapa peserta yang baru datang dari berbagai daerah, bercanda dengan beberapa panitia (bumil Alif Slatri, Roziqoh, Duloh, Imbi, Fitri dan Masfufah); menghampiri ‘santri’ Rahima (Aida, Mustika dan Fran) yang sedang memasukan data pilihan kelas diskusi paralel peserta berdasarkan pada CV yang telah diisi ketika registrasi; berdiskusi mengenai forum konsolidasi yang akan berlangsung siang hari itu ditingkahi canda (juga pijatan, dan kipasan ilir) dengan fasilitator tim konsolidasi (''Uni'' Yefri, Lolly, Dian, Nadia, Sely, dan Muyasaroh) yang sedang mendampingi peserta mengisi CV; dan tentu saja foto bersama dengan mitra-mitra Rahima dari perwakilan angkatan 1 hingga 4, mitra Rahima dari program selain PUP, alumni Fiqhun Nisa P3M, teman teman aktivis, akademisi dan lain sebagainya. | ||
Rasa haru menyeruak, takjub pada niat kuat peserta yang jauh-jauh datang dari Aceh hingga Papua untuk KUPI. Pikiran pun melayang pada Pebruari 2015, ketika Rahima mengadakan halaqah himpun gagasan Pra Kongres Ulama Perempuan di Wisma Hijau Cimanggis Depok. Workshop yang difasilitatori oleh Nur Rofiah dan Bang Helmi Ali ini, berlangsung selama 3 hari, dihadiri mitra-mitra Rahima dari berbagai wilayah, dan mengundang beberapa ormas keagamaan seperti Fatayat dan Nasyiatul Aisyiyah (NA). Dua narasumber dihadirkan, Mbak Badriyah Fayumi yang berbagi tentang historiografi ulama perempuan, dan Mbak Kamala Chandrakirana yang berbagi mengenai pentingnya pengakuan pada pengalaman hidup perempuan. Halaqah ini menghasilkan Rencana Tindak Lanjut: Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang (diharapkan) akan berlangsung pada Desember 2016. | Rasa haru menyeruak, takjub pada niat kuat peserta yang jauh-jauh datang dari Aceh hingga Papua untuk KUPI. Pikiran pun melayang pada Pebruari 2015, ketika Rahima mengadakan halaqah himpun gagasan Pra [[Kongres Ulama Perempuan]] di Wisma Hijau Cimanggis Depok. Workshop yang difasilitatori oleh Nur Rofiah dan Bang Helmi Ali ini, berlangsung selama 3 hari, dihadiri mitra-mitra Rahima dari berbagai wilayah, dan mengundang beberapa ormas keagamaan seperti Fatayat dan Nasyiatul Aisyiyah (NA). Dua narasumber dihadirkan, Mbak Badriyah Fayumi yang berbagi tentang historiografi ulama perempuan, dan Mbak Kamala Chandrakirana yang berbagi mengenai pentingnya pengakuan pada pengalaman hidup perempuan. Halaqah ini menghasilkan Rencana Tindak Lanjut: Kongres [[Ulama Perempuan Indonesia]] (KUPI) yang (diharapkan) akan berlangsung pada Desember 2016. | ||
Bagi Rahima, KUPI menjadi sebuah amanah besar. Untuk itu perlu didukung oleh berbagai pihak. Diskusi di tingkat internal Rahima bersama Mbak Masruchah, Ketua Badan Pengurus beserta anggotanya, dan Bang Helmi Ali, Anggota Badan Pengawas, kemudian menyepakati untuk menggandeng Alimat dan Fahmina. Pada April 2015 di kantor Fahmina di Cirebon silaturahmi tiga lembaga dilakukan. Hasilnya, disepakati KUPI akan didukung oleh 3 lembaga: Rahima, Fahmina dan Alimat. Usai acara tersebut agenda pertama KUPI langsung dilakukan, silaturahmi ke beberapa pondok pesantren di sekitar Cirebon untuk memperkenalkan KUPI, di antaranya kepada ibu Nyai Hj Masriyah Amva pengasuh PP Kebon Jambu Al Islamy, sekaligus meminta kesediaan beliau menjadi salah satu penasihat KUPI. | Bagi Rahima, KUPI menjadi sebuah amanah besar. Untuk itu perlu didukung oleh berbagai pihak. Diskusi di tingkat internal Rahima bersama Mbak Masruchah, Ketua Badan Pengurus beserta anggotanya, dan Bang Helmi Ali, Anggota Badan Pengawas, kemudian menyepakati untuk menggandeng [[Alimat]] dan Fahmina. Pada April 2015 di kantor Fahmina di Cirebon silaturahmi tiga [[lembaga]] dilakukan. Hasilnya, disepakati KUPI akan didukung oleh 3 lembaga: Rahima, Fahmina dan Alimat. Usai acara tersebut agenda pertama KUPI langsung dilakukan, silaturahmi ke beberapa pondok pesantren di sekitar Cirebon untuk memperkenalkan KUPI, di antaranya kepada ibu Nyai Hj Masriyah Amva pengasuh PP Kebon Jambu Al Islamy, sekaligus meminta kesediaan beliau menjadi salah satu penasihat KUPI. | ||
Selanjutnya, dibentuklah panitia yang melibatkan 3 lembaga ARAFAH (Alimat, Rahima, Fahmina). Dan karena harapannya KUPI berdiri di atas berbagai golongan maka dibentuklah Tim Penasihat yang terdiri dari para tokoh dari berbagai latar belakang kultur keagamaan Islam. Kerja kerja lintas propinsi (Jabar dan DKI Jakarta) lalu dilakukan: mematangkan proposal, membuat budget, melakukan audiensi dan memperkenalkan KUPI ke berbagai pihak mulai dari Badan Dunia, beberapa kedutaan besar, berbagai lembaga dana, hingga pemerintah & kementerian, ormas Islam dan sektor swasta. Beruntungnya ada media sosial yang bisa dimanfaatkan, hingga koordinasi lebih sering dilakukan melalui grup WhatsApp (WA), atau email meskipun sesekali temu muka tetap dilakoni. Agenda yang tak kalah penting adalah silaturahmi dengan berbagai tokoh agama yang dilakukan KUPI baik secara individu anggota KUPI maupun secara berkelompok. | Selanjutnya, dibentuklah panitia yang melibatkan 3 lembaga ARAFAH (Alimat, Rahima, Fahmina). Dan karena harapannya KUPI berdiri di atas berbagai golongan maka dibentuklah Tim Penasihat yang terdiri dari para [[tokoh]] dari berbagai latar belakang kultur keagamaan Islam. Kerja kerja lintas propinsi (Jabar dan DKI Jakarta) lalu dilakukan: mematangkan proposal, membuat budget, melakukan audiensi dan memperkenalkan KUPI ke berbagai pihak mulai dari Badan Dunia, beberapa kedutaan besar, berbagai lembaga dana, hingga pemerintah & kementerian, ormas Islam dan sektor swasta. Beruntungnya ada media sosial yang bisa dimanfaatkan, hingga koordinasi lebih sering dilakukan melalui grup WhatsApp (WA), atau email meskipun sesekali temu muka tetap dilakoni. Agenda yang tak kalah penting adalah silaturahmi dengan berbagai tokoh agama yang dilakukan KUPI baik secara individu anggota KUPI maupun secara berkelompok. | ||
Meski KUPI telah mulai dikenal, dan komitmen dukungan mulai berdatangan tetapi perkembangan persiapan KUPI tidak seperti yang diharapkan panitia. Dana menjadi isu utama yang membuat kegiatan-kegiatan pra kongres belum satu pun terlaksana. Modal awal pendanaan memang sudah ada, tetapi itu untuk penyelenggaraan kongres dan lomba menulis juga cetak buku profil dan essay ulama dan keulamaan perempuan. Setelah diskusi mendalam di internal panitia KUPI, terdapat usulan agar pelaksanaan KUPI dipindahkan dari Asrama Haji Pondok Gede Jakarta ke Ponpes Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon pada April 2017. ''Alhamdulillah'' ibu Nyai Masriyah menyatakan kesediaannya KUPI berlangsung di ponpes Kebon Jambu. | Meski KUPI telah mulai dikenal, dan komitmen dukungan mulai berdatangan tetapi perkembangan persiapan KUPI tidak seperti yang diharapkan panitia. Dana menjadi isu utama yang membuat kegiatan-kegiatan pra kongres belum satu pun terlaksana. Modal awal pendanaan memang sudah ada, tetapi itu untuk penyelenggaraan kongres dan lomba menulis juga cetak buku profil dan essay ulama dan keulamaan perempuan. Setelah diskusi mendalam di internal panitia KUPI, terdapat usulan agar pelaksanaan KUPI dipindahkan dari Asrama Haji Pondok Gede Jakarta ke Ponpes Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon pada April 2017. ''Alhamdulillah'' ibu Nyai Masriyah menyatakan kesediaannya KUPI berlangsung di ponpes Kebon Jambu. | ||
| Baris 35: | Baris 31: | ||
Pelukan Mbak Ciciek membuat saya kembali menangis, selain karena menjadi teringat pada almarhumah Ibu Djudju Zubaedah (Ketua Badan Pengurus Rahima yang masih menjabat ketika beliau harus ‘menyerah’ pada penyakit kanker payudara), juga teringat pada pesan-pesan singkat Mbak Ciciek melalui WA yang datang di saat saya sangat membutuhkannya, dikala rasa lelah bahkan nyaris putus asa menghampiri. Entah dari mana Mbak Ciciek bisa tahu pada saat-saat seperti itu saya sedang butuh suntikan semangat. Kami berdua bahkan bertangisan antara lain mengenang almarhumah Lia Aliyah al Himmah (peserta PUP 1 yang berasal dari PP. Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon). Pelukan Listia Suprobo membuat saya terkenang pada perjumpaan kami di program Fiqhun Nissa P3M, program yang dikomandani oleh Mbak Lies Marcoes ini merupakan arena belajar pertama kali saya dalam dunia gerakan perempuan. | Pelukan Mbak Ciciek membuat saya kembali menangis, selain karena menjadi teringat pada almarhumah Ibu Djudju Zubaedah (Ketua Badan Pengurus Rahima yang masih menjabat ketika beliau harus ‘menyerah’ pada penyakit kanker payudara), juga teringat pada pesan-pesan singkat Mbak Ciciek melalui WA yang datang di saat saya sangat membutuhkannya, dikala rasa lelah bahkan nyaris putus asa menghampiri. Entah dari mana Mbak Ciciek bisa tahu pada saat-saat seperti itu saya sedang butuh suntikan semangat. Kami berdua bahkan bertangisan antara lain mengenang almarhumah Lia Aliyah al Himmah (peserta PUP 1 yang berasal dari PP. Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon). Pelukan Listia Suprobo membuat saya terkenang pada perjumpaan kami di program Fiqhun Nissa P3M, program yang dikomandani oleh Mbak Lies Marcoes ini merupakan arena belajar pertama kali saya dalam dunia gerakan perempuan. | ||
Setelah itu saya pergi menemui Kang Rosidin di ruang sekretariat, kepadanya dan Tim Fahmina saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kerja keras berbilang bulan baik yang terkait langsung dengan agenda KUPI maupun yang tidak seperti urusan lahan parkir hingga silaturahim ke pesantren-pesantren sekitar Cirebon, Indramayu dan Majalengka. Permohonan maaf dan terima kasih saya sampaikan dalam pelukan dan air mata kepada Mbak Mimin Mu’minah, atas pengorbanannya mengikhlaskan belahan hatinya, Faqihuddin Abdul Kodir, untuk ''all out'' pada KUPI. Saya juga mendatangi Bang Helmi Ali dan Kyai Husein untuk salim dan cium tangan. Mendatangai Yu Mas, Faqih, Marzuki Wahid, Marzuqi Rais, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Pelukan mbak Nana, mbak Maria, mbak Nani, mbak Bad, Ruby, Nining, mbak Rita, mbak Ninik, mbak Tati, Ala’i, Nur, Rozana, kak Zai, Eena dan banyak lagi makin membuat mata saya ''njendul''. | Setelah itu saya pergi menemui Kang Rosidin di ruang sekretariat, kepadanya dan Tim Fahmina saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kerja keras berbilang bulan baik yang terkait langsung dengan agenda KUPI maupun yang tidak seperti urusan lahan parkir hingga silaturahim ke pesantren-pesantren sekitar Cirebon, Indramayu dan Majalengka. Permohonan maaf dan terima kasih saya sampaikan dalam pelukan dan air mata kepada Mbak Mimin Mu’minah, atas pengorbanannya mengikhlaskan belahan hatinya, [[Faqihuddin Abdul Kodir]], untuk ''all out'' pada KUPI. Saya juga mendatangi Bang Helmi Ali dan Kyai Husein untuk salim dan cium tangan. Mendatangai Yu Mas, Faqih, Marzuki Wahid, Marzuqi Rais, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Pelukan mbak Nana, mbak Maria, mbak Nani, mbak Bad, Ruby, Nining, mbak Rita, mbak Ninik, mbak Tati, Ala’i, Nur, Rozana, kak Zai, Eena dan banyak lagi makin membuat mata saya ''njendul''. | ||
Ucapan terima kasih, tentu saja juga kepada teman-teman (yang karena keterbatasan ruang refleksi ini tidak disebutkan satu persatu disini) panitia KUPI<ref>Di internal Badan Pelaksana Rahima, saya beruntung memiliki tim yang solid: Nining, Fran dan Adi. Ketika pelaksanaan KUPI personil Rahima ketambahan ‘santri’ Rahima: Nur Hayati Aida, Anis Fachrotul Fuadah dan Mustika Adawiyah: Love you all…</ref> dari berbagai lembaga yang ada di WAG Tim Inti, Tim Pokja, Tim Diskusi Parael, Tim Fasilitator Konsolidasi, Tim Perumusan Musyawarah dan KUPI (banyak banget grup WA-nya ya, untungnya HP saya tak pernah protes…he he). Dari mereka semua saya banyak sekali belajar akan kelebihan yang teman-teman miliki yang digunakan untuk suksesnya acara KUPI (kok malah kayak sambutan ucapan terima kasih ya, padahal ini refleksi…he he). | Ucapan terima kasih, tentu saja juga kepada teman-teman (yang karena keterbatasan ruang refleksi ini tidak disebutkan satu persatu disini) panitia KUPI<ref>Di internal Badan Pelaksana Rahima, saya beruntung memiliki tim yang solid: Nining, Fran dan Adi. Ketika pelaksanaan KUPI personil Rahima ketambahan ‘santri’ Rahima: Nur Hayati Aida, Anis Fachrotul Fuadah dan Mustika Adawiyah: Love you all…</ref> dari berbagai lembaga yang ada di WAG Tim Inti, Tim Pokja, Tim Diskusi Parael, Tim Fasilitator Konsolidasi, Tim Perumusan Musyawarah dan KUPI (banyak banget grup WA-nya ya, untungnya HP saya tak pernah protes…he he). Dari mereka semua saya banyak sekali belajar akan kelebihan yang teman-teman miliki yang digunakan untuk suksesnya acara KUPI (kok malah kayak sambutan ucapan terima kasih ya, padahal ini refleksi…he he). | ||
| Baris 42: | Baris 38: | ||
''Jakarta, 4 Mei 2017'' | ''Jakarta, 4 Mei 2017'' | ||
<references /> | <references />Penulis: AD Eridani ''(Direktur Rahima/Ketua Umum KUPI)'' | ||
[[ | [[Kategori:Refleksi]] | ||