Lompat ke isi

Mendobrak Budaya Patriarki di Pesantren: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia] |- |Penulis |: |Editor :...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia]
|[https://pepnews.com/sketsa/p-c16169052619472/mendobrak-budaya-patriarki-di-pesantren pepnews.com]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Editor : Triwinarno
|Alexander Sudrajat
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|23/10/2020 05:15
|<nowiki>Kamis, 22 April 2021 | 08:51 WIB</nowiki>
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Belajar dari sang Nyai Masriyah Amva]
|[https://pepnews.com/sketsa/p-c16169052619472/mendobrak-budaya-patriarki-di-pesantren Mendobrak Budaya Patriarki di Pesantren]
|}PESANTREN menjadi salah satu [[lembaga]] pendidikan, khusus agama Islam. Tidak heran jika satu pesantren terkadang memiliki ratusan hingga ribuan santri yang rela mondok untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.  
|}“''Ya Allah, hari ini kuangkat Engkau sebagai kekasih sebagaimana lelaki menjadikan-Mu sebagai kekasih.''” 


Jika pada umumnya pesantren identik dengan penokohan seorang kiai, beda halnya dengan Pesantren Kebon Jambu yang berada di kawasan kampung santri Desa Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat.
Nyai [[Masriyah Amva]] pernah terpuruk ketika suaminya, KH Muhammad, berpulang pada 2007.


Di pesantren ini justru seorang nyailah yang menjadi pemimpin utama.
Seperti perempuan pada umumnya dia merasa separuh jiwanya hilang, masa depannya suram. Hingga pada suatu waktu ego dan kesadarannya bangkit. Perempuan kelahiran Cirebon, 13 Oktober 1961 itu tak ingin bernasib seperti perempuan lain pada umumnya.  


"Dulunya pesantren ini dipimpin oleh suami saya, tetapi beliau wafat. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kepemimpinan pesantren ini," ungkap Nyai [[Masriyah Amva]] pemimpin Pesantren Kebon Jambu.
Dia melihat bila suami kehilangan isteri pada umumnya tetap tegar perkasa. Masriyah pun insyaf bahwa mereka bisa begitu karena bersandar pada kekuatan sang Khalik. Dirinya pun harus bersikap serupa. Tak ada yang patut menjadi sandaran hidup kecuali sang Pencipta itu sendiri.


Keputusan Sang Nyai untuk menjadi pimpinan pesantren bukanlah tanpa alasan. Masih belum siapnya penerus suami untuk memimpin pesantren menjadi dasar utama diambilnya keputusan tersebut.
“Ya Allah, hari ini kuangkat Engkau sebagai kekasih sebagaimana lelaki menjadikan-Mu sebagai kekasih,” kata Masriyah Amva mengutip salah satu coretan puisinya saat ditemui tim Blak-blakan detikcom, Jumat (9/4/2021).  


"Saya ingat waktu awal-awal suami meninggal satu per satu santri pergi meninggalkan pesantren ini. Orangtua mereka datang dan izin untuk memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain," ujarnya kembali.
Perlahan dia membangun kepercayaan diri untuk langsung memimpin pesantren yang didirikan bersama almarhum suaminya. Tak langsung mulus tentu.


Masa-masa itu menjadi masa yang kelam baginya. Hidup dalam keterpurukan yang akhirnya membuat ia sadar bahwa hanya Sang Mahakuasalah yang dapat menolongnya. Perlahan, tapi pasti Masriyah Amva mampu membawa pesantrennya bangkit dalam keterpurukan. Bahkan kini Pondok Kebon Jambu menjadi salah satu tempat pembelajaran agama favorit.
Para alumni, pengurus pesantren yang semuanya lelaki pun memandang Masriyah sebelah mata. Apalagi ketika alumnus Pesantren Al-Muayyad Solo, Pesantren Al-Badi'iyyah Pati, dan Pesantren Dar al-Lughah wa Da'wah di Bangil, Jawa Timur itu mulai menanamkan nilai-nilai kemandirian kepada para santrinya.  


Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan Nyai Masriyah Amva memimpin Pesantren Kebon Jambu yang mayoritas santrinya didominasi oleh pria? Lalu bagaimana respons dirinya terhadap anggapan jika seorang wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin?
“Yang membunuh saya itu bukan hanya budaya, doktrin agama, tapi justru banyak dari sesama perempuan. Dalam waktu yang sangat lama saya tidak diakui dan diterima oleh para alumni. Mereka memandang saya sebelah mata,” tutur Masriyah Amva yang kini telah menerbitkan lebih dari 20 buku puisi, motivasi dan ketuhanan. . . . . .
 
Cerita sang Nyai dirangkum dalam film dokumenter berjudul Pesan dari sang Nyai yang tayang dalam program Melihat Indonesia di Metro TV pada Minggu, 25 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB. (RO/H-1)
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]

Revisi terkini sejak 15 Juli 2025 08.59

Info Artikel

Sumber Original : pepnews.com
Penulis : Alexander Sudrajat
Tanggal Publikasi : Kamis, 22 April 2021 | 08:51 WIB
Artikel Lengkap : Mendobrak Budaya Patriarki di Pesantren

Ya Allah, hari ini kuangkat Engkau sebagai kekasih sebagaimana lelaki menjadikan-Mu sebagai kekasih.

Nyai Masriyah Amva pernah terpuruk ketika suaminya, KH Muhammad, berpulang pada 2007.

Seperti perempuan pada umumnya dia merasa separuh jiwanya hilang, masa depannya suram. Hingga pada suatu waktu ego dan kesadarannya bangkit. Perempuan kelahiran Cirebon, 13 Oktober 1961 itu tak ingin bernasib seperti perempuan lain pada umumnya.  

Dia melihat bila suami kehilangan isteri pada umumnya tetap tegar perkasa. Masriyah pun insyaf bahwa mereka bisa begitu karena bersandar pada kekuatan sang Khalik. Dirinya pun harus bersikap serupa. Tak ada yang patut menjadi sandaran hidup kecuali sang Pencipta itu sendiri.

“Ya Allah, hari ini kuangkat Engkau sebagai kekasih sebagaimana lelaki menjadikan-Mu sebagai kekasih,” kata Masriyah Amva mengutip salah satu coretan puisinya saat ditemui tim Blak-blakan detikcom, Jumat (9/4/2021).

Perlahan dia membangun kepercayaan diri untuk langsung memimpin pesantren yang didirikan bersama almarhum suaminya. Tak langsung mulus tentu.

Para alumni, pengurus pesantren yang semuanya lelaki pun memandang Masriyah sebelah mata. Apalagi ketika alumnus Pesantren Al-Muayyad Solo, Pesantren Al-Badi'iyyah Pati, dan Pesantren Dar al-Lughah wa Da'wah di Bangil, Jawa Timur itu mulai menanamkan nilai-nilai kemandirian kepada para santrinya.

“Yang membunuh saya itu bukan hanya budaya, doktrin agama, tapi justru banyak dari sesama perempuan. Dalam waktu yang sangat lama saya tidak diakui dan diterima oleh para alumni. Mereka memandang saya sebelah mata,” tutur Masriyah Amva yang kini telah menerbitkan lebih dari 20 buku puisi, motivasi dan ketuhanan. . . . . .