Lompat ke isi

Menyamai Kebaikan dan Perdamaian dari Pesantren: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia] |- |Penulis |: |Editor :...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia]
|[https://shebuildspeace.id/menyamai-kebaikan-dan-perdamaian-dari-pesantren/ shebuildspeace.id]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Editor : Triwinarno
|Hasna Azmi Fadhilah
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|23/10/2020 05:15
|1, October, 2022
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Belajar dari sang Nyai Masriyah Amva]
|[https://shebuildspeace.id/menyamai-kebaikan-dan-perdamaian-dari-pesantren/ Menyamai Kebaikan dan Perdamaian dari Pesantren]
|}PESANTREN menjadi salah satu [[lembaga]] pendidikan, khusus agama Islam. Tidak heran jika satu pesantren terkadang memiliki ratusan hingga ribuan santri yang rela mondok untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.  
|}Setahun terakhir, citra pondok pesantren sempat ternodai oleh tindakan buruk oknum tertentu dari ''bullying'' hingga kekerasan seksual. Sehingga ada semacam kekhawatiran orangtua untuk menitipkan anaknya ke pesantren. Meski dilanda badai informasi negatif, masyarakat yang jeli seharusnya tidak perlu takut dan justru persoalan yang ada harus dijadikan bahan masukan kepada pihak-pihak terkait. Seperti Kementerian Agama, yayasan pesantren dan orangtua untuk bahu-membahu memberikan input positif agar pesantren tetap menjadi salah satu opsi terbaik bagi generasi muda untuk meneruskan pendidikannya.  


Jika pada umumnya pesantren identik dengan penokohan seorang kiai, beda halnya dengan Pesantren Kebon Jambu yang berada di kawasan kampung santri Desa Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat.
Terlebih dari catatan sejarah, pesantren memiliki peran strategis dalam membangun bangsa Indonesia. Bahkan ketika masa penjajahan, pesantren turut serta dalam menjaga keutuhan wilayah NKRI dan bergerak bersama dengan segenap elemen negara dan masyarakat untuk meraih kemerdekaan. Dalam perkembangannya kini, pesantren bergerak lebih luas. Tidak terbatas pada pendidikan semata, tapi ikut bergerak dalam program-program lain seperti pengentasan kemiskinan dengan kolaborasi proyek ekonomi dan bisnisnya.


Di pesantren ini justru seorang nyailah yang menjadi pemimpin utama.
Dari aspek historis tersebut, merujuk pernyataan Kiai Cholil, “pesantren memegang peran strategis dalam banyak hal, seperti menjaga akhlak bangsa, (bahkan) pesantren tidak hanya berperan sebagai [[lembaga]] pendidikan tapi juga menjalankan peran dakwah dan pemberdayaan umat.


"Dulunya pesantren ini dipimpin oleh suami saya, tetapi beliau wafat. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kepemimpinan pesantren ini," ungkap Nyai [[Masriyah Amva]] pemimpin Pesantren Kebon Jambu.
Dari apa yang disampaikan Ketua MUI bidang ukhuwah dan dakwah tadi, beberapa peristiwa negatif yang terjadi di pesantren harus menjadi bahan refleksi agar ke depannya pesantren jauh lebih mawas diri dan terus melakukan perbaikan. Langkah-langkah improvisasi dari pesantren juga didukung oleh Bu Nyai [[Masriyah Amva]]. Pemimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu ini tidak tinggal diam ketika melihat adanya budaya patriarki dan kekerasan yang terjadi di lingkungan pondok. . . . .
 
Keputusan Sang Nyai untuk menjadi pimpinan pesantren bukanlah tanpa alasan. Masih belum siapnya penerus suami untuk memimpin pesantren menjadi dasar utama diambilnya keputusan tersebut.
 
"Saya ingat waktu awal-awal suami meninggal satu per satu santri pergi meninggalkan pesantren ini. Orangtua mereka datang dan izin untuk memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain," ujarnya kembali.
 
Masa-masa itu menjadi masa yang kelam baginya. Hidup dalam keterpurukan yang akhirnya membuat ia sadar bahwa hanya Sang Mahakuasalah yang dapat menolongnya. Perlahan, tapi pasti Masriyah Amva mampu membawa pesantrennya bangkit dalam keterpurukan. Bahkan kini Pondok Kebon Jambu menjadi salah satu tempat pembelajaran agama favorit.
 
Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan Nyai Masriyah Amva memimpin Pesantren Kebon Jambu yang mayoritas santrinya didominasi oleh pria? Lalu bagaimana respons dirinya terhadap anggapan jika seorang wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin?
 
Cerita sang Nyai dirangkum dalam film dokumenter berjudul Pesan dari sang Nyai yang tayang dalam program Melihat Indonesia di Metro TV pada Minggu, 25 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB. (RO/H-1)
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]

Revisi terkini sejak 15 Juli 2025 09.24

Info Artikel

Sumber Original : shebuildspeace.id
Penulis : Hasna Azmi Fadhilah
Tanggal Publikasi : 1, October, 2022
Artikel Lengkap : Menyamai Kebaikan dan Perdamaian dari Pesantren

Setahun terakhir, citra pondok pesantren sempat ternodai oleh tindakan buruk oknum tertentu dari bullying hingga kekerasan seksual. Sehingga ada semacam kekhawatiran orangtua untuk menitipkan anaknya ke pesantren. Meski dilanda badai informasi negatif, masyarakat yang jeli seharusnya tidak perlu takut dan justru persoalan yang ada harus dijadikan bahan masukan kepada pihak-pihak terkait. Seperti Kementerian Agama, yayasan pesantren dan orangtua untuk bahu-membahu memberikan input positif agar pesantren tetap menjadi salah satu opsi terbaik bagi generasi muda untuk meneruskan pendidikannya.

Terlebih dari catatan sejarah, pesantren memiliki peran strategis dalam membangun bangsa Indonesia. Bahkan ketika masa penjajahan, pesantren turut serta dalam menjaga keutuhan wilayah NKRI dan bergerak bersama dengan segenap elemen negara dan masyarakat untuk meraih kemerdekaan. Dalam perkembangannya kini, pesantren bergerak lebih luas. Tidak terbatas pada pendidikan semata, tapi ikut bergerak dalam program-program lain seperti pengentasan kemiskinan dengan kolaborasi proyek ekonomi dan bisnisnya.

Dari aspek historis tersebut, merujuk pernyataan Kiai Cholil, “pesantren memegang peran strategis dalam banyak hal, seperti menjaga akhlak bangsa, (bahkan) pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan tapi juga menjalankan peran dakwah dan pemberdayaan umat.”

Dari apa yang disampaikan Ketua MUI bidang ukhuwah dan dakwah tadi, beberapa peristiwa negatif yang terjadi di pesantren harus menjadi bahan refleksi agar ke depannya pesantren jauh lebih mawas diri dan terus melakukan perbaikan. Langkah-langkah improvisasi dari pesantren juga didukung oleh Bu Nyai Masriyah Amva. Pemimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu ini tidak tinggal diam ketika melihat adanya budaya patriarki dan kekerasan yang terjadi di lingkungan pondok. . . . .