Bangkitkan Kiprah Ulama Perempuan: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 3: | Baris 3: | ||
|Sumber Original | |Sumber Original | ||
|: | |: | ||
| | |''Harian Republika, 26 April 2017'' | ||
|- | |- | ||
|Tanggal Publikasi | |Tanggal Publikasi | ||
|: | |: | ||
| | |Republika, 26 April 2017 | ||
|- | |- | ||
|Penulis | |Penulis | ||
|: | |: | ||
| | | | ||
|- | |- | ||
|Artikel Lengkap | |Artikel Lengkap | ||
|: | |: | ||
|[ | |Bangkitkan [[Kiprah Ulama Perempuan]] | ||
|} | |} | ||
Para ulama perempuan berperan besar dalam meneguhkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Namun sayang, catatan tentang [[Kiprah Ulama Perempuan|kiprah ulama perempuan]] dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia sangat kecil akibat konstruksi sejarah yang sepihak. | Para ulama perempuan berperan besar dalam meneguhkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Namun sayang, catatan tentang [[Kiprah Ulama Perempuan|kiprah ulama perempuan]] dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia sangat kecil akibat konstruksi sejarah yang sepihak. | ||
| Baris 44: | Baris 43: | ||
Sementara, ulama perempuan asal Pakistan Mossarat Qadeem mengungkapkan, peran perempuan di Pakistan saat ini sangat berat karena mereka tercerabut dari akarnya. Mereka yang seharusnya bertugas membina keluarga, kini harus merawat para korban perang. '''(Lilis Sri Handayani)''' | Sementara, ulama perempuan asal Pakistan Mossarat Qadeem mengungkapkan, peran perempuan di Pakistan saat ini sangat berat karena mereka tercerabut dari akarnya. Mereka yang seharusnya bertugas membina keluarga, kini harus merawat para korban perang. '''(Lilis Sri Handayani)''' | ||
[[Kategori:Berita]] | [[Kategori:Berita]] | ||
[[Kategori:Berita Kongres 1]] | [[Kategori:Berita Kongres 1]] | ||