Salam Dari Kebon Jambu: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 3: | Baris 3: | ||
|Sumber Original | |Sumber Original | ||
|: | |: | ||
| | |Kompas | ||
|- | |- | ||
|Tanggal Publikasi | |Tanggal Publikasi | ||
|: | |: | ||
| | |05 Mei 2017 | ||
|- | |- | ||
|Penulis | |Penulis | ||
|: | |: | ||
| | |Susi Ivvaty/Abdullah Fikri Ashari | ||
|- | |- | ||
|Artikel Lengkap | |Artikel Lengkap | ||
|: | |: | ||
| | |Salam Dari Kebon Jambu | ||
|} | |} | ||
Suguhan happening art sederhana membuka Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia di Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Selasa (25/4). Tujuh perempuan masing-masing membawa Al Quran, kumpulan hadis, kitab kuning, teks UUD 1945, kumpulan Konvensi Hak Asasi Manusia Internasional, tanaman segar, serta air dan tanah. | Suguhan happening art sederhana membuka Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia di Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Selasa (25/4). Tujuh perempuan masing-masing membawa Al Quran, kumpulan hadis, kitab kuning, teks UUD 1945, kumpulan Konvensi Hak Asasi Manusia Internasional, tanaman segar, serta air dan tanah. | ||
| Baris 28: | Baris 27: | ||
=== Melibatkan Santri === | === Melibatkan Santri === | ||
Apresiasi pada KUPI tidak hanya tertuju pada pengkajian tema yang bermuara pada perumusan ikrar perempuan ulama, rekomendasi, dan pandangan keagamaan atau semacam [[fatwa]] (Kompas, 28/4). Apresiasi juga tertuju pada penyelenggaraan KUPI yang melibatkan ratusan santri Pesantren Kebon Jambu. Anak-anak muda itu tidak hanya membantu kepanitiaan dengan [[ikhlas]], tetapi juga turut mendengarkan dan belajar untuk kemudian memetik hikmah. Para santri membantu hingga hal yang sangat detail, seperti menata sandal dan sepatu peserta KUPI yang berkunjung ke rumah Nyai Masriyah, mengambil piring-piring bekas makan peserta, serta memunguti sampah yang tercecer. Sebagian santri yang tidak terlibat kepanitiaan “diungsikan” ke pesantren lain di kawasan Babakan Ciwaringin. Sebab, banyak peserta memilih tidur di pesantren. Tidak ada yang lebih hebat dari kepanitiaan yang didasari keikhlasan dan ketulusan tanpa dibayar. Barisan santri sigap menata tempat parkir, membagikan makalah seminar, hingga mencuci piring dan gelas kotor yang menumpuk. Detail-detail tampak misalnya pada pilihan konsumsi yang variatif dan sangat enak selama tiga hari. “Kami menyediakan 1.500 porsi (setiap kali makan) untuk konsumsi, jaga-jaga kalau kurang,” kata seorang panitia. Di Pesantren Kebon Jambu, peserta KUPI merasakan suasana desa yang asri. Seminar dan diskusi dilakukan di ruang terbuka dan ruang-ruang kelas yang panas. Suasana ini membuat KUPI terasa merakyat sekaligus membuktikan bahwa seminar tidak selalu elitis di hotel-hotel seperti kritik-kritik yang kerap muncul. Kata Islam berakar dari salama. Selain Islam, bentukan kata lain bisa salamah yang berarti ’keselamatan’ dan assalam yang bermakna ’kedamaian’. Salam damai dari perempuan ulama di Kebon Jambu. '''(Susi Ivvaty/Abdullah Fikri Ashari)''' | Apresiasi pada KUPI tidak hanya tertuju pada pengkajian tema yang bermuara pada perumusan ikrar perempuan ulama, rekomendasi, dan pandangan keagamaan atau semacam [[fatwa]] (Kompas, 28/4). Apresiasi juga tertuju pada penyelenggaraan KUPI yang melibatkan ratusan santri Pesantren Kebon Jambu. Anak-anak muda itu tidak hanya membantu kepanitiaan dengan [[ikhlas]], tetapi juga turut mendengarkan dan belajar untuk kemudian memetik hikmah. Para santri membantu hingga hal yang sangat detail, seperti menata sandal dan sepatu peserta KUPI yang berkunjung ke rumah Nyai Masriyah, mengambil piring-piring bekas makan peserta, serta memunguti sampah yang tercecer. Sebagian santri yang tidak terlibat kepanitiaan “diungsikan” ke pesantren lain di kawasan Babakan Ciwaringin. Sebab, banyak peserta memilih tidur di pesantren. Tidak ada yang lebih hebat dari kepanitiaan yang didasari keikhlasan dan ketulusan tanpa dibayar. Barisan santri sigap menata tempat parkir, membagikan makalah seminar, hingga mencuci piring dan gelas kotor yang menumpuk. Detail-detail tampak misalnya pada pilihan konsumsi yang variatif dan sangat enak selama tiga hari. “Kami menyediakan 1.500 porsi (setiap kali makan) untuk konsumsi, jaga-jaga kalau kurang,” kata seorang panitia. Di Pesantren Kebon Jambu, peserta KUPI merasakan suasana desa yang asri. Seminar dan diskusi dilakukan di ruang terbuka dan ruang-ruang kelas yang panas. Suasana ini membuat KUPI terasa merakyat sekaligus membuktikan bahwa seminar tidak selalu elitis di hotel-hotel seperti kritik-kritik yang kerap muncul. Kata Islam berakar dari salama. Selain Islam, bentukan kata lain bisa salamah yang berarti ’keselamatan’ dan assalam yang bermakna ’kedamaian’. Salam damai dari perempuan ulama di Kebon Jambu. '''(Susi Ivvaty/Abdullah Fikri Ashari)''' | ||
[[Kategori:Berita]] | [[Kategori:Berita]] | ||
[[Kategori:Berita Kongres 1]] | [[Kategori:Berita Kongres 1]] | ||