Inisiatif Kegiatan Kongres: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 10: | Baris 10: | ||
Sepulang dari rapat di Rahima, Kang Faqih menelpon Ibu Nyai Hj. [[Masriyah Amva]], pengasuh Pesantren [[Kebon Jambu Al-Islamy]] Babakan Ciwaringin Cirebon, meyakinkanya untuk bersedia menjadi tempat perhelatan Kongres. Ibu Nyai bersedia dan tempat Kongres sudah bisa dipastikan. Pada rapat perdana di Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy , Kang Faqih mengundang Dr. Adib wakil Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon untuk hadir dan diminta kesediaanya untuk menyelenggarakan dan mendanai International Conference Ulama Perempuan. Sebagai santri alumni Babakan dan aktif di isu-isu keulamaan perempuan, Kang Adib bersedia mengambil peran tersebut, yang kemudian tanggung-jawab pelaksanaanya dipegang langsung oleh Dr. Septi Gumiandari, seorang akademisi cum-ulama perempuan dari Cirebon. | Sepulang dari rapat di Rahima, Kang Faqih menelpon Ibu Nyai Hj. [[Masriyah Amva]], pengasuh Pesantren [[Kebon Jambu Al-Islamy]] Babakan Ciwaringin Cirebon, meyakinkanya untuk bersedia menjadi tempat perhelatan Kongres. Ibu Nyai bersedia dan tempat Kongres sudah bisa dipastikan. Pada rapat perdana di Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy , Kang Faqih mengundang Dr. Adib wakil Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon untuk hadir dan diminta kesediaanya untuk menyelenggarakan dan mendanai International Conference Ulama Perempuan. Sebagai santri alumni Babakan dan aktif di isu-isu keulamaan perempuan, Kang Adib bersedia mengambil peran tersebut, yang kemudian tanggung-jawab pelaksanaanya dipegang langsung oleh Dr. Septi Gumiandari, seorang akademisi cum-ulama perempuan dari Cirebon. | ||
Cirebon dipilih sebagai tempat pertama Kongres KUPI, setidaknya karena tiga hal. ''Pertama'', karena ada Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy yang dipimpin seorang perempuan yang telah mendakwahkan keadilan dan kesetaraan laki-laki dan perempuan hampir satu dekade ini. Pesantren ini, dengan segala keterbatasanya yang ada saat itu, bersedia menjadi tempat perhelatan Kongres. Sesuatu yang tidak mudah, saat itu, ditemukan yang bersedia. | |||
''Kedua'', ada Fahmina yang sejak dilahirkan pada tahun 2000 telah memiliki perspektif keislaman yang adil gender dalam seluruh degup jantung kegiatanya dan derap langkah gerakannya. Orang-orang yang menyokong KUPI, terutama dari wilayah lokal Cirebon, baik dari kalangan pesantren, perguruan tinggi, aktivis, maupun masyarakat umum, adalah mereka yang terlibat dengan kerja-kerja Fahmina sejak awal 2000-an dan memiliki ikatan emosional serta kultural. Dukungan ini menjadi pondasi kesuksesan penyelenggaraan Kongres. | |||
''Ketiga,'' Cirebon memiliki kesiapan kultural untuk mendukung KUPI, karena dihuni ratusan pesantren NU yang meyakini kebersatuan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Nilai yang menjadi ''motto'' KUPI pertama tahun 2017. Sekalipun tidak memperoleh dukungan yang memadai dari Pemerintah daerah, kabupaten maupun propinsi, tetapi perguruan tinggi IAIN Syekh Nurjati Cirebon mendukung penuh. Begitupun, [[tokoh]]-tokoh pesantren yang secara moral dan kultural memberikan dukungan yang cukup memadai. Dukungan perguran tinggi dan pesantren-pesantren ini adalah penting bagi penyelenggaraan Kongres ulama perempuan yang baru pertama kali, yang dalam beberapa hal masih sensitif dan kontroversial. | |||
Kongres KUPI pertama di Cirebon diselenggarakan oleh tiga lembaga: Fahmina, Rahima, dan Alimat. Ketiganya bekerjasama langsung dengan Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon, sebagai tempat Kongres, dan IAIN Syekh Nurjati Cirebon, sebagai tempat Konferensi Internasional. Dalam proses dan pelaksanaan, beberapa lembaga terlibat sebagai pendukung acara-acara spesifik, seperti Kementerian Agama RI, [[AMAN Indonesia]], Pekka, Migrant Care, STID al-Biruni, Forum Pengada Layanan, Komnas Perempuan, [[Rumah Kitab]], dan LBH APIK. | |||
Lebih khusus, AMAN Indonesia telah berkontribusi menghadirkan kolega dari mancanegara. Lembaga dan instansi tertentu, seperti BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan, Pusat Kesehatan Umum (PKU) Muhammadiyah Cirebon, dan Puskesmas Palimanan Cirebon juga telah ambil bagian penting dalam kegiatan-kegiatan sosial pendukung. Beberapa lembaga donor negara-negara mitra Indonesia juga berkontribusi, baik melalui lembaga-lembaga tersebut di atas maupun langsung kepada narasumber dan peserta. Dukungan khusus secara sukarela juga diberikan tim kreatif [[Jaringan]] [[GUSDURian|Gusdurian]] dan tim media dari Setara Institute yang bekerja sangat keras dan berdedikasi. Beberapa individu juga ikut berjasa memberikan sumbangan secara khusus, seperti Bapak Wakil Presiden RI, H. Jusuf Kalla, Bapak Brigjend TNI Dudung Abdurrahman, Ibu GKR Hemas, Ibu Netty Heryawan, Ibu [[Nihayatul Wafiroh]], dan banyak lagi yang lain. | |||
Pada awal pembukaan pendaftaran, sangat sedikit sekali yang berminat untuk hadir menjadi peserta Kongres KUPI pertama. Bahkan, para alumni PUP Rahima saja, tidak lebih dari 100 orang yang bersedia hadir sebagai peserta penuh. Setelah sosialisasi yang cukup masif, terutama di akhir sebelum penutupan, pendaftarnya tembus pada angka 1.280. Beberapa orang hadir tanpa mendaftar terlebih dahulu. Karena keterbatasan fasilitas, yang diterima adalah 700 orang. Sementara yang hadir dan mengisi absensi berjumlah 519 orang sebagai peserta aktif dan 131 orang sebagai peserta pengamat, baik dari Indonesia maupun mancanegara. | |||
Dari Indonesia, hadir para ulama perempuan dan sahabat ulama perempuan dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Dari mancanegara hadir ulama perempuan dan aktivis sebagai pengamat dari 13 negara: Afghanistan, Bangladesh, Malaysia, Saudi Arabia, Pakistan, Nigeria, Kenya, Singapura, Thailand, Filipina, Australia, Amerika, dan Belanda. Jumlah 649 (peserta dan pengamat) ini tidak meliputi tamu dan narasumber yang hadir pada forum-forum terbuka, seperti seminar internasiional, seminar nasional, diskusi paralel, pembukaan dan penutupuan acara. Jika menghitung kursi yang tersedia, ada lebih dari 1500 orang yang hadir, terutama pada saat acara pembukaan dan begitupun acara penutupan. | |||
Para peserta Kongres KUPI pertama di Cirebon datang dari berbagai daerah di Indonesia, dari ujung Timur dan Barat Indonesia. Tercatat 19 orang peserta datang dari Banten, 1 orang dari Bengkulu, 49 orang dari Yogyakarta, 106 orang dari DKI, 5 orang dari Jambi, 113 orang dari Jawa Barat, 57 orang dari Jawa Tengah, 75 orang dari Jawa Timur, 4 orang dari Kalimantan Barat, 8 orang dari Kalimantan Selatan, 1 orang dari Kalimantan Tenggara, 1 orang dari Kalimantan Timur, 2 orang dari Kepulauan Riau, 16 orang dari Lampung, 15 orang dar Nanggroe Aceh Darussalam, 3 orang dari Nusa Tenggara Barat, 1 orang Nusa Tenggara Timur, 5 orang dari Papua, 2 orang dari Papua Barat, 2 orang dari Riau, 10 orang dari Sulawesi Selatan, 3 orang dari Sulawesi Tenggara, 3 orang dari Sulawesti Utara, 13 orang dari Sumatra Barat, 1 orang dari Sumatra Selatan, dan 5 orang dari Sumatra Utara. | |||
Dari jumlah total peserta KUPI pertama, sekitar 90% adalah mereka yang datang dari atau bekerja di pusat-pusat Islam. Seperti pesantren, perguruan tinggi Islam, majlis ta’lim, lembaga dakwah dan pendidikan Islam, dan ormas-ormas keislaman. Baik sebagai pengasuh, pimpinan, ustadzah, dosen, peneliti, pendidik, muballighah, daiyah, dan penulis. Sebagian besar dari mereka adalah sekaligus juga bekerja sebagai pendamping masyarakat, tepatnya sebagai aktivis pemberdayaan perempuan di [[komunitas]] mereka masing-masing. Peserta yang 10% adalah para aktivis, akademisi, dan jurnalis yang tidak datang dari latar belakang sosio-pendidikan keislaman. Selama ini mereka semua, satu sama lain, sekalipun dari latar belakang dan kelompok yang berbeda-beda, telah bekerja bersama, langsung maupun tidak langsung, dalam mewujudkan keadilan relasi laki-laki dan perempuan. | |||
Kegiatan-kegiatan Kongres pertama bisa dilihat di entri '''[[Proses Kongres]]''', sementara hasil-hasilnya bisa dikunjungi di entri '''[[Hasil Kongres]]'''. Ada juga entri-entri lain yang bisa dikunjungi untuk mengenali Kegiatan Kongres KUPI pertama ini secara lebih mendalam. Yaitu, '''[[Dokumen Kongres]]''' berisi dokumen-dokumen pendukung''', [[Refleksi Kongres]]''' berisi tuilsan-tulisan lepas paska kegiatan Kongres''', [[Diskursus Kongres]]''' berisi opini akademik''', [[Berita Kongres]]''' berisi berita-berita dari berbagai media tentang perhelatan Kongres''', dan [[Galeri Kongres]]''' berisi foto-foto kegiatan'''.''' | |||
[[Kategori:Sejarah KUPI]] | [[Kategori:Sejarah KUPI]] | ||
[[Kategori:Sejarah KUPI 1]] | [[Kategori:Sejarah KUPI 1]] | ||