Majalah Swara Rahima Edisi 07; Pendidikan Islam dan Keadilan Bagi Perempuan: Perbedaan antara revisi
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox book|publisher=[https://swararahima.com/2003/03/05/edisi-7/ Rahima]|image=Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 07.png|italic title=Majalah Swara Rahima|isbn=|cover_artist=|series=Nomor 07 Tahun III, Maret 2003|title_orig=|note=[https://swararahima.com/2003/03/05/edisi-7/ Download]}} | '''Informasi Majalah:''' | ||
{| | |||
|Sumber | |||
|: | |||
|[https://swararahima.com/2003/03/05/edisi-7/ Swara Rahima] | |||
|- | |||
|Nama Majalah | |||
|: | |||
|Majalah Swara [[Rahima]] | |||
|- | |||
|Tema | |||
|: | |||
|Pendidikan Islam dan Keadilan Bagi Perempuan | |||
|- | |||
| Seri | |||
|: | |||
|Nomor 07 Tahun III, Maret 2003 | |||
|- | |||
|Penerbit | |||
|: | |||
|Rahima | |||
|- | |||
|Link Download | |||
|: | |||
|[https://swararahima.com/2003/03/05/edisi-7/ Download] | |||
|}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''{{Infobox book|publisher=[https://swararahima.com/2003/03/05/edisi-7/ Rahima]|image=Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 07.png|italic title=Majalah Swara Rahima|isbn=|cover_artist=|series=Nomor 07 Tahun III, Maret 2003|title_orig=|note=[https://swararahima.com/2003/03/05/edisi-7/ Download]}}'''''Pembaca yang budiman''''', | |||
Tak terasa kita sudah berada pada tahun 2003, tahun ke-tiga menuju abad 21. Di awal tahun ini pula Swara Rahima ingin menyapa kembali, mengajak para pembaca setianya untuk kembali peka “membaca” situasi sosial yang mengelilingi. Pada edisi kali ini Swara Rahima akan mengajak pembaca untuk “membaca” masalah pendidikan. Tema yang mungkin bukan tema yang asing lagi untuk didiskusikan dan dibahas, tetapi tetap penting untuk terus dicermati. Swara Rahima akan mengangkat tema tersebut dengan penyajian dan pembahasan yang lebih spesifik; dengan “bingkai” nilai-nilai keislaman dan keberpihakan terhadap perempuan. | |||
'''''Pembaca sekalian yang berbahagia,''''' | |||
Sebelumnya, perlu para pembaca ketahui, bahwa Swara Rahima kali ini kembali harus mengalami rotasi kepemimpinan. Kesekian kalinya Swara Rahima harus beradaptasi dengan redaktur pelaksana yang baru, dari Sdri Nefisra, Agus Muhammad dan Farid F. Saenong, kini Swara Rahima berada dibawah komando Daan Dini Khairunida. Daan menggantikan redaktur pelaksana terdahulu yaitu Farid F. Saenong yang harus pergi ke Bali untuk persiapan melanjutkan program pasca sarjananya. Namun demikian kami berharap penggantian tersebut tidak mengurangi keseriusan penggarapan Swara Rahima ini. | |||
Selanjutnya, jika bicara tentang tema-tema pendidikan, mungkin pembicaraan dan pembahasan tidak akan cukup diurai hanya lewat lembaran-lembaran majalah yang terbatas ini. Sebab, bicara pendidikan tidak bisa hanya bicara dari sisi teknis saja, atau mengurai filosofinya saja, tetapi bila mungkin seharusnya dia bisa terurai hingga ideologi –ideologi di baliknya, pun tak tertutup kemungkinan ideologi patriarkhi. Karena ketika menyentuh “ruang” ideologi, atau kebudayaan, maka pendidikan sebagai institusi yang telah dipercaya orang sebagai [[lembaga]] tempat orang mencari pengetahuan, seolah-olah tidak terlibat. Padahal jelas bahwa lewat pendidikanlah sesungguhnya ideologi tertentu dapat terserap dengan relatif “aman”. Lewat pendidikanlah sosialisasi dari kultur tertentu termapankan. | |||
Walaupun tetap parsial, bidikan pembahasan tentang pendidikan dan keadilan terhadap perempuan dianggap penting diangkat pada Swara Rahima kali ini? Sebab pendidikan sekarang ini ternyata memang hanya baru menjadi milik sebagian orang saja, ia belum berpihak kepada kepada kaum marjinal. Bahkan, ditengah fenomena kapitalisasi dan dehumanisasi yang terjadi, pendidikan justru tumbuh subur dengan menjadi pengukuh adanya kelas-kelas sosial. Ironisnya, agama kembali dipakai untuk legitimasi bagi pemihakan tersebut. Hingga banyak orang yang tak berani membantah karena menganggap bahwa yang tersosialiasi dalam proses pendidikan tersebut memang ''given'' dan tak bisa lagi diperdebatkan. | |||
Perdebatan mengenai boleh atau tidaknya kepemimpinan perempuan, hak politik, quota, sampai hak kebebasan berpendapat bagi perempuan, tak bisa dipungkiri lagi bahwa ia juga berawal dari pola dan proses pendidikan yang bias gender. Yaitu berasal dari bagaimana nilai agama yang bias gender itu disosialisasikan di lembaga pendidikan. Sosialisasi berupa materi maupun perlakuan dan “pengkhususan” terhadap jenis kelamin tertentu. Bila pendidikan masih bias gender dan tidak segera diperbaiki, maka gerak perjuangan terhadap diskriminasi terhadap perempuan bisa jadi akan sia-sia. | |||
Pada pembahasan edisi ini, pembaca akan kami ajak untuk kembali mengkritisi tentang makna pendidikan, pandangan [[al-Qur’an]] dan [[hadits]] tentang hak pendidikan bagi perempuan, dilengkapi dengan informasi-informasi lain, baik berkaitan dengan kegiatan Rahima sebagai wujud dari komitmennya maupun tawaran strategi lain menuju pendidikan yang berpihak kepada perempuan. Akhirul kalam, kru redaksi Swara Rahima juga tidak lupa mengucapkan Selamat Hari raya Idul Adha kepada pembaca sekalian. Mari gandeng tangan untuk keadilan. | |||
Selamat membaca | |||
'''''Redaksi''''' | |||
[[Kategori:Khazanah]] | [[Kategori:Khazanah]] | ||
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]] | [[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]] | ||
[[Kategori:Majalah]] | [[Kategori:Majalah]] | ||
Revisi per 21 Februari 2026 14.08
Informasi Majalah:
| Sumber | : | Swara Rahima |
| Nama Majalah | : | Majalah Swara Rahima |
| Tema | : | Pendidikan Islam dan Keadilan Bagi Perempuan |
| Seri | : | Nomor 07 Tahun III, Maret 2003 |
| Penerbit | : | Rahima |
| Link Download | : | Download |
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
| Seri | Nomor 07 Tahun III, Maret 2003 |
|---|---|
| Penerbit | Rahima |
| Download | |
Pembaca yang budiman,
Tak terasa kita sudah berada pada tahun 2003, tahun ke-tiga menuju abad 21. Di awal tahun ini pula Swara Rahima ingin menyapa kembali, mengajak para pembaca setianya untuk kembali peka “membaca” situasi sosial yang mengelilingi. Pada edisi kali ini Swara Rahima akan mengajak pembaca untuk “membaca” masalah pendidikan. Tema yang mungkin bukan tema yang asing lagi untuk didiskusikan dan dibahas, tetapi tetap penting untuk terus dicermati. Swara Rahima akan mengangkat tema tersebut dengan penyajian dan pembahasan yang lebih spesifik; dengan “bingkai” nilai-nilai keislaman dan keberpihakan terhadap perempuan.
Pembaca sekalian yang berbahagia,
Sebelumnya, perlu para pembaca ketahui, bahwa Swara Rahima kali ini kembali harus mengalami rotasi kepemimpinan. Kesekian kalinya Swara Rahima harus beradaptasi dengan redaktur pelaksana yang baru, dari Sdri Nefisra, Agus Muhammad dan Farid F. Saenong, kini Swara Rahima berada dibawah komando Daan Dini Khairunida. Daan menggantikan redaktur pelaksana terdahulu yaitu Farid F. Saenong yang harus pergi ke Bali untuk persiapan melanjutkan program pasca sarjananya. Namun demikian kami berharap penggantian tersebut tidak mengurangi keseriusan penggarapan Swara Rahima ini.
Selanjutnya, jika bicara tentang tema-tema pendidikan, mungkin pembicaraan dan pembahasan tidak akan cukup diurai hanya lewat lembaran-lembaran majalah yang terbatas ini. Sebab, bicara pendidikan tidak bisa hanya bicara dari sisi teknis saja, atau mengurai filosofinya saja, tetapi bila mungkin seharusnya dia bisa terurai hingga ideologi –ideologi di baliknya, pun tak tertutup kemungkinan ideologi patriarkhi. Karena ketika menyentuh “ruang” ideologi, atau kebudayaan, maka pendidikan sebagai institusi yang telah dipercaya orang sebagai lembaga tempat orang mencari pengetahuan, seolah-olah tidak terlibat. Padahal jelas bahwa lewat pendidikanlah sesungguhnya ideologi tertentu dapat terserap dengan relatif “aman”. Lewat pendidikanlah sosialisasi dari kultur tertentu termapankan.
Walaupun tetap parsial, bidikan pembahasan tentang pendidikan dan keadilan terhadap perempuan dianggap penting diangkat pada Swara Rahima kali ini? Sebab pendidikan sekarang ini ternyata memang hanya baru menjadi milik sebagian orang saja, ia belum berpihak kepada kepada kaum marjinal. Bahkan, ditengah fenomena kapitalisasi dan dehumanisasi yang terjadi, pendidikan justru tumbuh subur dengan menjadi pengukuh adanya kelas-kelas sosial. Ironisnya, agama kembali dipakai untuk legitimasi bagi pemihakan tersebut. Hingga banyak orang yang tak berani membantah karena menganggap bahwa yang tersosialiasi dalam proses pendidikan tersebut memang given dan tak bisa lagi diperdebatkan.
Perdebatan mengenai boleh atau tidaknya kepemimpinan perempuan, hak politik, quota, sampai hak kebebasan berpendapat bagi perempuan, tak bisa dipungkiri lagi bahwa ia juga berawal dari pola dan proses pendidikan yang bias gender. Yaitu berasal dari bagaimana nilai agama yang bias gender itu disosialisasikan di lembaga pendidikan. Sosialisasi berupa materi maupun perlakuan dan “pengkhususan” terhadap jenis kelamin tertentu. Bila pendidikan masih bias gender dan tidak segera diperbaiki, maka gerak perjuangan terhadap diskriminasi terhadap perempuan bisa jadi akan sia-sia.
Pada pembahasan edisi ini, pembaca akan kami ajak untuk kembali mengkritisi tentang makna pendidikan, pandangan al-Qur’an dan hadits tentang hak pendidikan bagi perempuan, dilengkapi dengan informasi-informasi lain, baik berkaitan dengan kegiatan Rahima sebagai wujud dari komitmennya maupun tawaran strategi lain menuju pendidikan yang berpihak kepada perempuan. Akhirul kalam, kru redaksi Swara Rahima juga tidak lupa mengucapkan Selamat Hari raya Idul Adha kepada pembaca sekalian. Mari gandeng tangan untuk keadilan.
Selamat membaca
Redaksi