Suplemen Swara Rahima Edisi 24; Perempuan dan Penyelamatan Perempuan: Perbedaan antara revisi
←Membuat halaman berisi ''''Informasi Suplemen:''' {| |Sumber |: |[https://swararahima.com/2019/06/07/edisi-55-2/ Swara Rahima] |- |Tema |: |Islam Menolak Kekerasan terhadap Perempuan |- |Penu...' |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 3: | Baris 3: | ||
|Sumber | |Sumber | ||
|: | |: | ||
|[https://swararahima.com/ | |[https://swararahima.com/2008/04/07/edisi-24-2/ Swara Rahima] | ||
|- | |- | ||
|Tema | |Tema | ||
|: | |: | ||
| | |Perempuan dan Penyelamatan Perempuan | ||
|- | |- | ||
|Penulis | |Penulis | ||
|: | |: | ||
| | |Husnul Khatimah | ||
|- | |- | ||
|Editor | |Editor | ||
|: | |: | ||
| | | [[Helmi Ali]] | ||
|- | |- | ||
|Seri | |Seri | ||
|: | |: | ||
|Edisi | |Edisi 24, April 2008 | ||
|- | |- | ||
|Penerbit | |Penerbit | ||
| Baris 27: | Baris 27: | ||
|Link Download | |Link Download | ||
| : | | : | ||
|[https://swararahima.com/ | |[https://swararahima.com/2008/04/07/edisi-24-2/ Download] | ||
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi | |}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 24.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 24|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 24, April 2008|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 24|note=[https://swararahima.com/2008/04/07/edisi-24-2/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.'' | ||
Puji syukur ke hadirat yang terbentang di muka Bumi ini. Edisi ke 24, menghadirkan Suplemen dengan tema Ilahi Rabbi, atas anugerah kehidupan Perempuan Penyelamatan Lingkungan. Lingkungan kini rusak parah terkena dampak global warming (pemanasan global). Ini terjadi akibat ulah tangan dan kelalaian manusia sendiri. Berabad-abad lalu Tuhan dan Rasul-Nya telah memperingatkan untuk tidak berbuat kerusakan. Namun manusia seringkali membantah-Nya. Sebagaimana firman Allah swt: | |||
''Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di Bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan”. (QS. 2: 11)'' | |||
''“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. 30: 41)'' | |||
Nampaknya manusia terlampau serakah, tidak lagi memperhatikan petunjuk Tuhan dalam mengelola Bumi. Maka terjadilah bencana alam, kerusakan Bumi dan atmosfer, yang menimbulkan pemanasan global. Pemanasan global ini membuat cuaca kian bertambah panas dan tidak menentu. Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil, seperti gas Bumi, minyak Bumi dan batu bara, juga mengakibatkan pencemaran udara dan menimbulkan hujan asam. Hujan asam tersebut memusnahkan organisme air sungai, dan danau, serta membuat hutan dan bangunan rusak. Kondisi ini semakin parah oleh penyusutan luas hutan yang ditebang secara liar, dan pengerukan hasil alam yang tak terkendali. | |||
Mata rantai penyebab kerusakan alam tersebut, sesungguhnya erat kaitannya dengan perempuan. Ibu-ibu rumah tangga, buruh tani, atau buruh di pabrik-pabrik, mereka rentan terkena pencemaran zat-zat kimia dan pestisida. Namun demikian, perempuan pada dasarnya mampu melakukan penyelamatan diri dan lingkungannya. Hanya yang terjadi, modernitas telah menggeser keikutsertaaan mereka mengelola alam. Keterampilannya mengolah lingkungan secara alami, digantikan peralatan mesin dan teknologi. Kapasitasnya sebagai perempuan dianggap tak mampu “menghasilkan” secara maksimal. Inilah cara pandang bias terhadap perempuan yang melahirkan diskriminasi, terutama untuk perempuan perdesaan. Mereka didesak meninggalkan “lahannya”, dan menyerahkannya kepada teknologi yang eksploitatif, dan cenderung patriarkhis. Perempuan tidak dilibatkan dalam mengambil kebijakan pengelolaan lingkungan yang tidak mempertimbangkan ekosistem, sehingga terjadi eksploitasi besarbesaran terhadap alam. | |||
“Tuhan Maha Bijaksana”. Sepantasnya manusia introspeksi diri. Mudah-mudahan ini tidak sekadar ungkapan, namun motivasi untuk berlomba-lomba berbuat baik bagi kesetaraan dan segenap alam. Selamat membaca! | |||
''Wassalamu’alaikum Wr.Wb.'' | |||
Jakarta, Maret 2008 | |||
'''Redaksi''' | |||
[[Kategori:Khazanah]] | [[Kategori:Khazanah]] | ||
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]] | [[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]] | ||
[[Kategori:Suplemen]] | [[Kategori:Suplemen]] | ||
Revisi per 24 Februari 2026 01.49
Informasi Suplemen:
| Sumber | : | Swara Rahima |
| Tema | : | Perempuan dan Penyelamatan Perempuan |
| Penulis | : | Husnul Khatimah |
| Editor | : | Helmi Ali |
| Seri | : | Edisi 24, April 2008 |
| Penerbit | : | Rahima |
| Link Download | : | Download |
![]() | |
| Judul | Suplemen Swara Rahima Edisi 24 |
|---|---|
| Seri | Edisi 24, April 2008 |
| Penerbit | Rahima |
| Download Suplemen | |
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji syukur ke hadirat yang terbentang di muka Bumi ini. Edisi ke 24, menghadirkan Suplemen dengan tema Ilahi Rabbi, atas anugerah kehidupan Perempuan Penyelamatan Lingkungan. Lingkungan kini rusak parah terkena dampak global warming (pemanasan global). Ini terjadi akibat ulah tangan dan kelalaian manusia sendiri. Berabad-abad lalu Tuhan dan Rasul-Nya telah memperingatkan untuk tidak berbuat kerusakan. Namun manusia seringkali membantah-Nya. Sebagaimana firman Allah swt:
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di Bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan”. (QS. 2: 11)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. 30: 41)
Nampaknya manusia terlampau serakah, tidak lagi memperhatikan petunjuk Tuhan dalam mengelola Bumi. Maka terjadilah bencana alam, kerusakan Bumi dan atmosfer, yang menimbulkan pemanasan global. Pemanasan global ini membuat cuaca kian bertambah panas dan tidak menentu. Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil, seperti gas Bumi, minyak Bumi dan batu bara, juga mengakibatkan pencemaran udara dan menimbulkan hujan asam. Hujan asam tersebut memusnahkan organisme air sungai, dan danau, serta membuat hutan dan bangunan rusak. Kondisi ini semakin parah oleh penyusutan luas hutan yang ditebang secara liar, dan pengerukan hasil alam yang tak terkendali.
Mata rantai penyebab kerusakan alam tersebut, sesungguhnya erat kaitannya dengan perempuan. Ibu-ibu rumah tangga, buruh tani, atau buruh di pabrik-pabrik, mereka rentan terkena pencemaran zat-zat kimia dan pestisida. Namun demikian, perempuan pada dasarnya mampu melakukan penyelamatan diri dan lingkungannya. Hanya yang terjadi, modernitas telah menggeser keikutsertaaan mereka mengelola alam. Keterampilannya mengolah lingkungan secara alami, digantikan peralatan mesin dan teknologi. Kapasitasnya sebagai perempuan dianggap tak mampu “menghasilkan” secara maksimal. Inilah cara pandang bias terhadap perempuan yang melahirkan diskriminasi, terutama untuk perempuan perdesaan. Mereka didesak meninggalkan “lahannya”, dan menyerahkannya kepada teknologi yang eksploitatif, dan cenderung patriarkhis. Perempuan tidak dilibatkan dalam mengambil kebijakan pengelolaan lingkungan yang tidak mempertimbangkan ekosistem, sehingga terjadi eksploitasi besarbesaran terhadap alam.
“Tuhan Maha Bijaksana”. Sepantasnya manusia introspeksi diri. Mudah-mudahan ini tidak sekadar ungkapan, namun motivasi untuk berlomba-lomba berbuat baik bagi kesetaraan dan segenap alam. Selamat membaca!
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Jakarta, Maret 2008
Redaksi
