Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 41; Mereka Berbicara tentang Kespro (Kesehatan Reproduksi) dan KDP (Kekerasan dalam Pacaran): Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Informasi Suplemen:''' {| |Sumber |: |[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima] |- |Tema |: |Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempua...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 3: Baris 3:
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima]
|[https://swararahima.com/2013/04/07/edisi-41-2/ Swara Rahima]
|-
|-
|Tema
|Tema
|:
|:
|Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempuan
|Mereka Berbicara tentang Kespro (Kesehatan Reproduksi) dan KDP (Kekerasan dalam Pacaran)
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Irma Riyani, MA
| -
|-
|-
|Editor
|Editor
|:
|:
| A. Dicky Sofyan
| -
|-
|-
|Seri
|Seri
|:
|:
|Edisi 29, Desember 2009
|Edisi 41, April 2013
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 27: Baris 27:
|Link Download
|Link Download
| :
| :
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download]
|[https://swararahima.com/2013/04/07/edisi-41-2/ Download]
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 29.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 29, Desember 2009|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|note=[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 41|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 41, April 2013|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 41|note=[https://swararahima.com/2013/04/07/edisi-41-2/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''


Syukur ''Alhamdulillah,'' ke hadirat ''Ilahi Rabbi'' yang mengutus Nabi Muhammad saw. untuk menyemai upaya pembebasan bagi seluruh umat manusia, lelaki dan perempuan. ''Swara Rahima'' edisi ke-29, hadir kembali dengan Suplemen bertema ''Kajian Kronologis Ayat-ayat Alquran tentang Perempuan.'' 
Apa yang menarik dari sebuah keteraturan? ''Yups.'' Benar. Yang menarik dari keteraturan adalah ketidakteraturan yang menemaninya. Ibarat laut, ketidakteraturan adalah gelombang yang menjadikan laut menjadi semakin cantik dengan bunyi ombaknya. Dan, edisi kali ini suplemen hadir menemani ''Swara Rahima'' dengan sedikit nuansa berbeda, mencoba menjadi ombak di tengah keteraturan dengan bunyinya yang menarik.


Menarik ketika di awal bahasan tulisan ini, kita disuguhi pertanyaan ringan yang wajar dilontarkan masyarakat di sekitar kita. Katanya, bila seseorang ditanya, “sudah punya anak? Laki-laki atau perempuan?” Biasanya bila jawaban yang keluar “Sudah, anakku laki-laki,” maka respon penanya adalah “Alhamdulillah”. Tapi bila jawabnya “Anakku perempuan,” maka respon penanya akan biasabiasa saja; manggut-manggut, atau sekedar berkata “ooh”.
Ombak itu dimulai dari bahasannya, Suplemen yang biasa ditulis oleh satu orang saja, kali ini ditulis ''keroyokan'' oleh beberapa pelajar dan guru di beberapa sekolah pesantren dan umum, tampilannya yang lumayan ''seger,'' tentunya juga dengan isi Suplemen; [[Pentingnya Pendidikan Kesehatan Reproduksi|pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi]], kekerasan dalam pacaran, tips dan juga info­info yang lain.


Memiliki anak laki-laki dianggap keistimewaan tersendiri bagi sebagian masyarakat. Sedang punya anak perempuan, dirasa biasa saja, biar lengkap, katanya. Meski dianggap wajar, persepsi yang kadung melekat dalam pemahaman masyarakat ini butuh diluruskan. Sebab, baik lelaki maupun perempuan sama-sama sempurna harga dirinya, dan sama-sama berpotensi mengembangkan diri. Sebagai penegasan tentang kesetaraan lelaki-perempuan ini, Alquran menyatakan Tuhan memberi kesempatan dan balasan sama bagi siapa saja yang berbuat kebajikan, tanpa melihat laki-laki atau perempuan (QS. ''Al-Nahl:'' 97).
Dengan segala kekurangan dan atas restu Tuhan, akhirnya Suplemen edisi “berbeda” ini mampu hadir. Setelah sebelumnya harus bergulat dengan format tulisan, bentuk terbitan dan hal­hal teknis yang seringkali membuat kami harus berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan kembali.


Alquran, dalam memberi ketetapan-ketetapan tersebut tentang laki-laki dan perempuan, tidaklah terlepas dari konteks sosial yang melatarbelakangi, sebagaimana yang terkaji dalam ilmu ''Asbab al-Nuzul.'' Dengan memperhatikan teks sekaligus konteks, seorang ''mufassir'' diharapkan dapat menangkap makna yang terkandung dalam Alquran, tidak jauh berbeda dengan apa yang dimaksudkan Tuhan dan Rasul-Nya. Alasannya, sebuah konteks peristiwa akan memberi nuansa psikologi sosial yang berlaku pada saat teks diturunkan. Terlebih saat ini, Islam telah meluas ke seluruh penjuru dunia, dengan situasi dan pengalaman yang berbeda, maka penafsiran yang memperhatikan konteks sangat perlu agar semangat ajaran Alquran tetap dapat diaplikasikan di manapun dan kapanpun. Inilah yang diresapi sebagai ''Alquran shalihun likulli zaman wa makan''.
Selamat menikmati sajian, selamat membaca.


Dalam pembacaan Alquran ini, salah satu aspek kontekstualisasi yang dikaji dalam tulisan ini adalah pembacaan secara kronologis, yang dimulai dari periode Mekah dan dilanjutkan dengan periode Madinah. Pembacaan ini dipandang penulis, sebagai salah satu “cara baca baru” yang dapat dijadikan alternatif untuk mengkaji ayat-ayat Alquran secara lebih tepat, terutama terkait ayat-ayat yang memberi advokasi terhadap eksistensi jenis kelamin perempuan.
''Wassalam''


Pembacaan seperti ini perlu dikembangkan, terlebih saat ini, permasalahan yang dihadapi manusia, lelaki dan perempuan, telah semakin kompleks. Kesadaran akan konteks sosial yang berbeda kini, dengan saat Alquran diturunkan, harus disertai pendekatan yang lebih ramah terhadap semua, tanpa membedakan jenis kelamin. Apalagi, selama ini, kecenderungan pemahaman yang bias atas teks-teks agama, telah menjadikan perempuan sebagai ‘subordinat’. Karenanya, mengambil langkah re-evaluasi dan bersikap kritis terhadap penafsiran dan penggunaan ayat-ayat Alquran, dan sumber-sumber ajaran Islam, dibutuhkan untuk membangun kesetaraan di antara lelaki dan perempuan.
''Redaksi''
 
Selanjutnya, bagaimana sesungguhnya kita harus mengkaji Alquran terutama ayat-ayat tentang hak-hak perempuan ini dengan lebih mendalami konteks sosial di mana ayat-ayat tersebut turun? Kembali salah satu Peserta Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) RAHIMA angkatan II Jawa Barat, 2009, Irma Riyani MA., akan mengurai hal tersebut. Pemaparannya tentang kajian kronologis ayat-ayat Alquran berperspektif perempuan ini'','' akan menambah [[khazanah]] pengetahuan kita dalam mengupayakan pemberdayaan untuk hak-hak perempuan. ''Selamat membaca!''
 
''Wassalamu’alikum Wr. Wb.''
 
Jakarta, November 2009
 
'''''Redaksi'''''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]

Revisi per 24 Februari 2026 12.17

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Mereka Berbicara tentang Kespro (Kesehatan Reproduksi) dan KDP (Kekerasan dalam Pacaran)
Penulis : -
Editor : -
Seri : Edisi 41, April 2013
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 41; Mereka Berbicara tentang Kespro (Kesehatan Reproduksi) dan KDP
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 41
SeriEdisi 41, April 2013
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Apa yang menarik dari sebuah keteraturan? Yups. Benar. Yang menarik dari keteraturan adalah ketidakteraturan yang menemaninya. Ibarat laut, ketidakteraturan adalah gelombang yang menjadikan laut menjadi semakin cantik dengan bunyi ombaknya. Dan, edisi kali ini suplemen hadir menemani Swara Rahima dengan sedikit nuansa berbeda, mencoba menjadi ombak di tengah keteraturan dengan bunyinya yang menarik.

Ombak itu dimulai dari bahasannya, Suplemen yang biasa ditulis oleh satu orang saja, kali ini ditulis keroyokan oleh beberapa pelajar dan guru di beberapa sekolah pesantren dan umum, tampilannya yang lumayan seger, tentunya juga dengan isi Suplemen; pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi, kekerasan dalam pacaran, tips dan juga info­info yang lain.

Dengan segala kekurangan dan atas restu Tuhan, akhirnya Suplemen edisi “berbeda” ini mampu hadir. Setelah sebelumnya harus bergulat dengan format tulisan, bentuk terbitan dan hal­hal teknis yang seringkali membuat kami harus berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan kembali.

Selamat menikmati sajian, selamat membaca.

Wassalam

Redaksi