Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 49; Yang Muda, Yang Ceria dan Berkarya: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Informasi Suplemen:''' {| |Sumber |: |[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima] |- |Tema |: |Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempua...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 3: Baris 3:
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima]
|[https://swararahima.com/2015/04/07/edisi-49/ Swara Rahima]
|-
|-
|Tema
|Tema
|:
|:
|Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempuan
|Yang Muda, Yang Ceria dan Berkarya
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Irma Riyani, MA
|Nurkhayati Aida, Khoirul Anam Haqiqi, Iva Ullailiyah, A’y’zatun Ni’amin Nahriyah, dan Ahmad Mubasyir
|-
|-
|Editor
|Editor
|:
|:
| A. Dicky Sofyan
| [[AD. Kusumaningtyas]]
|-
|-
|Seri
|Seri
|:
|:
|Edisi 29, Desember 2009
|Edisi 49, April 2015
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 27: Baris 27:
|Link Download
|Link Download
| :
| :
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download]
|[https://swararahima.com/2015/04/07/edisi-49/ Download]
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 29.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 29, Desember 2009|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|note=[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 49.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 49|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 49, April 2015|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 49|note=[https://swararahima.com/2015/04/07/edisi-49/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''


Syukur ''Alhamdulillah,'' ke hadirat ''Ilahi Rabbi'' yang mengutus Nabi Muhammad saw. untuk menyemai upaya pembebasan bagi seluruh umat manusia, lelaki dan perempuan. ''Swara Rahima'' edisi ke-29, hadir kembali dengan Suplemen bertema ''Kajian Kronologis Ayat-ayat Alquran tentang Perempuan.'' 
''Alhamdulillah,'' rasa bahagia tak terkira memenuhi rongga dada. Merasakan bahwa setiap tarikan nafas, setiap langkah kaki, setiap goresan pena, setiap tindak tanduk bisa kita lakukan hanya berkat kemurahan Allah swt., Sang Penguasa Semesta. Oleh karenanya, tak heran bila dalam QS. Ar Rahman senantiasa diulang-ulang sebaris ayat berbunyi ''“Fabiayyi alaa-i rabbikumaa tukadzzibaan?”,'' Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang hendak kamu dustakan?


Menarik ketika di awal bahasan tulisan ini, kita disuguhi pertanyaan ringan yang wajar dilontarkan masyarakat di sekitar kita. Katanya, bila seseorang ditanya, “sudah punya anak? Laki-laki atau perempuan?” Biasanya bila jawaban yang keluar “Sudah, anakku laki-laki,” maka respon penanya adalah “Alhamdulillah”. Tapi bila jawabnya “Anakku perempuan,” maka respon penanya akan biasabiasa saja; manggut-manggut, atau sekedar berkata “ooh”.


Memiliki anak laki-laki dianggap keistimewaan tersendiri bagi sebagian masyarakat. Sedang punya anak perempuan, dirasa biasa saja, biar lengkap, katanya. Meski dianggap wajar, persepsi yang kadung melekat dalam pemahaman masyarakat ini butuh diluruskan. Sebab, baik lelaki maupun perempuan sama-sama sempurna harga dirinya, dan sama-sama berpotensi mengembangkan diri. Sebagai penegasan tentang kesetaraan lelaki-perempuan ini, Alquran menyatakan Tuhan memberi kesempatan dan balasan sama bagi siapa saja yang berbuat kebajikan, tanpa melihat laki-laki atau perempuan (QS. ''Al-Nahl:'' 97).
''Shalawat'' dan ''salam,'' semoga tercurah di sisi Rasul tercinta, Muhammad saw. yang senantiasa menginspirasi kita untuk berbuat baik, peduli pada sesama, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, penuh kasih sayang pada perempuan dan anak-anak, memberi dukungan pada generasi muda.


Alquran, dalam memberi ketetapan-ketetapan tersebut tentang laki-laki dan perempuan, tidaklah terlepas dari konteks sosial yang melatarbelakangi, sebagaimana yang terkaji dalam ilmu ''Asbab al-Nuzul.'' Dengan memperhatikan teks sekaligus konteks, seorang ''mufassir'' diharapkan dapat menangkap makna yang terkandung dalam Alquran, tidak jauh berbeda dengan apa yang dimaksudkan Tuhan dan Rasul-Nya. Alasannya, sebuah konteks peristiwa akan memberi nuansa psikologi sosial yang berlaku pada saat teks diturunkan. Terlebih saat ini, Islam telah meluas ke seluruh penjuru dunia, dengan situasi dan pengalaman yang berbeda, maka penafsiran yang memperhatikan konteks sangat perlu agar semangat ajaran Alquran tetap dapat diaplikasikan di manapun dan kapanpun. Inilah yang diresapi sebagai ''Alquran shalihun likulli zaman wa makan''.
Bagi kami Redaksi, rasa syukur dan pengharapan itu tentu bertambah manakala setiap kali muncul wajah-wajah baru, generasi muda yang sangat inspiratif, peduli sesama dan mau berbagi.


Dalam pembacaan Alquran ini, salah satu aspek kontekstualisasi yang dikaji dalam tulisan ini adalah pembacaan secara kronologis, yang dimulai dari periode Mekah dan dilanjutkan dengan periode Madinah. Pembacaan ini dipandang penulis, sebagai salah satu “cara baca baru” yang dapat dijadikan alternatif untuk mengkaji ayat-ayat Alquran secara lebih tepat, terutama terkait ayat-ayat yang memberi advokasi terhadap eksistensi jenis kelamin perempuan.
''Pembaca yang tercinta,''


Pembacaan seperti ini perlu dikembangkan, terlebih saat ini, permasalahan yang dihadapi manusia, lelaki dan perempuan, telah semakin kompleks. Kesadaran akan konteks sosial yang berbeda kini, dengan saat Alquran diturunkan, harus disertai pendekatan yang lebih ramah terhadap semua, tanpa membedakan jenis kelamin. Apalagi, selama ini, kecenderungan pemahaman yang bias atas teks-teks agama, telah menjadikan perempuan sebagai ‘subordinat’. Karenanya, mengambil langkah re-evaluasi dan bersikap kritis terhadap penafsiran dan penggunaan ayat-ayat Alquran, dan sumber-sumber ajaran Islam, dibutuhkan untuk membangun kesetaraan di antara lelaki dan perempuan.
Sengaja bila pada edisi ke-49 kali ini Redaksi menampilkan sesuatu yang berbeda dalam sajian suplemen ini. Rasa syukur menemukan wajah-wajah baru, generasi muda penerus masa depan yang diharapkan dapat menginspirasi anak-anak muda yang lain untuk mengisi masa tumbuh-kembangnya dengan berbagai positif tentu tidak hendak Redaksi simpan sendiri. Oleh karenanya, Suplemen kali ini kami beri judul ''“Yang Muda, Yang Ceria dan Berkarya”''. Dan isinya, juga berupa refleksi pengalaman remaja-remaja pesantren mitra Rahima dari empat kabupaten: Jombang, Lamongan, Kediri, dan Banyuwangi yang mulai belajar mengenai ''Kesehatan Reproduksi'' dan secara ''intens'' berinteraksi dengan sosok muda juga yang mengawal program ini, Nurkhayati Aida.


Selanjutnya, bagaimana sesungguhnya kita harus mengkaji Alquran terutama ayat-ayat tentang hak-hak perempuan ini dengan lebih mendalami konteks sosial di mana ayat-ayat tersebut turun? Kembali salah satu Peserta Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) RAHIMA angkatan II Jawa Barat, 2009, Irma Riyani MA., akan mengurai hal tersebut. Pemaparannya tentang kajian kronologis ayat-ayat Alquran berperspektif perempuan ini'','' akan menambah [[khazanah]] pengetahuan kita dalam mengupayakan pemberdayaan untuk hak-hak perempuan. ''Selamat membaca!''
Tentu menarik menyimak cerita-cerita dari lapangan, misalnya Aizza yang sempat terheran-heran saat Waka Kesiswaan sekolahnya yang tiba-tiba mengutusnya untuk mengikuti kegiatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas. Dua kata ‘''Reproduksi'' dan ''Seksualitas''’ sempat menjadi gundah gulananya sehingga sempat ''suuzhan'' kalau mau diajari yang ''nggak-nggak'' karenanya. Juga Iva, siswi MAU Mambaul Huda yang senang karena ‘pertama kali ke Jakarta’ karena karya infografis tentang Kespro yang dibuatnya bersama teman-teman di sekolahnya. Juga kisah Khoirul Anam, yang bersama teman-temannya berhasil ‘membangkitkan kembali’ PIK R Sunan Drajat yang telah lama ‘mati suri’ setelah mengikuti lokalatih PKRS yang diselenggarakan oleh Rahima. Tak kalah menarik, juga cerita Ahmad Basyir tentang perubahan kebiasaan di kalangan santri (putra) di pondoknya; dari yang ganti ‘CD’ 2 hari sekali menjadi sehari sekali, dari yang punya kebiasaan ‘handuk satu dipakai ''rame-rame''’ dan sekarang mereka lebih suka punya handuk sendiri dan terpisah, serta adanya inisiatif santri yang mulai bersedia ''‘nyalon’'' jadi Seksi Kebersihan pondok.


''Wassalamu’alikum Wr. Wb.''
Kami yakin, bahwa mereka ‘tidak bermaksud ''nyombong''’ pada teman-teman lain karena prestasiprestasi mereka. Namun mereka hanya ingin ''“tahadduts bin-ni’mah”'' (berbagi rasa suka karena adanya nikmat kebaikan yang kini mereka dapatkan); dengan harapan bahwa para santri dan siswa di tempat lain akan mengikuti jejak mereka. Selain itu, tentu mereka juga berharap agar para guru, ustadz dan ustadzah berkenan menjadi teman sekaligus pembimbing mereka untuk mengenal lebih jauh “Kesehatan Reproduksi” sebagai panduan mereka menapaki usia dewasa.


Jakarta, November 2009
''Pembaca yang budiman,''
 
Kisah yang mereka ungkapkan tentang ‘perjalanan menuju Ibukota’; mungkin akan membuat kita semua menyadari arti pepatah ''“Banyak Jalan Menuju Roma”.'' Berkat prestasi yang mereka torehkan dalam lomba infografis, atau karena mereka memiliki pengalaman di [[komunitas]] yang bisa di-''sharing''-kan dengan remaja-remaja yang lain telah melapangkan jalan mereka untuk merajut tali silaturahmi. Kehadiran mereka ke rumah Rahima yang ‘sederhana tetapi terasa nyaman’ dan jauh dari kesan mewah dan ''glamour'' yang sempat mereka bayangkan serta pertemuan salah seorang dari mereka dengan ‘manusia gerobak’ di ibukota, mudah-mudahan membuat mereka dan kita semua senantiasa bersyukur atas segala nikmat Allah yang diberikan pada kita.
 
 
''Pembaca yang senantiasa dirahmati oleh Allah swt.''
 
Mudah-mudahan, kisah-kisah para remaja yang sedang belajar untuk mengenal jati dirinya ini bisa memberi manfaat agar kita bisa mengisi hidup dengan kebaikan. Berikanlah kepercayaan kepada para remaja kita untuk bisa mendapatkan informasi yang benar terkait kesehatan reproduksi dan seksualitas, sehingga mereka bisa menjadi sosok yang berperilaku sehat dan bertanggungjawab dalam setiap tindakan yang dipilihnya.
 
Dengan memahami setiap resiko, ''insyaallah'' mereka tidak akan terjerumus pada perilaku seksual yang tidak sehat dan terhindar dari berbagai bentuk kejahatan seksual; yang sejatinya bisa terjadi di manapun kita tinggal. Mudahmudahan, kita mendapatkan intisari dan pembelajaran berharga dari pengalaman ini dan menjadikan kita menjadi sosok yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitar kita. ''Khairun naasi anfa’uhum linnaas''. Sebaikbaik orang adalah yang paling mendatangkan manfaat bagi orang lain. Semoga kita termasuk salah satu di antaranya, dan akhirnya kami ucapkan: Selamat membaca!
 
''Wassalamu’alaikum Wr.Wb.''


'''''Redaksi'''''
'''''Redaksi'''''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]

Revisi per 24 Februari 2026 14.41

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Yang Muda, Yang Ceria dan Berkarya
Penulis : Nurkhayati Aida, Khoirul Anam Haqiqi, Iva Ullailiyah, A’y’zatun Ni’amin Nahriyah, dan Ahmad Mubasyir
Editor : AD. Kusumaningtyas
Seri : Edisi 49, April 2015
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 49; Yang Muda, Yang Ceria dan Berkarya
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 49
SeriEdisi 49, April 2015
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, rasa bahagia tak terkira memenuhi rongga dada. Merasakan bahwa setiap tarikan nafas, setiap langkah kaki, setiap goresan pena, setiap tindak tanduk bisa kita lakukan hanya berkat kemurahan Allah swt., Sang Penguasa Semesta. Oleh karenanya, tak heran bila dalam QS. Ar Rahman senantiasa diulang-ulang sebaris ayat berbunyi “Fabiayyi alaa-i rabbikumaa tukadzzibaan?”, Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang hendak kamu dustakan?


Shalawat dan salam, semoga tercurah di sisi Rasul tercinta, Muhammad saw. yang senantiasa menginspirasi kita untuk berbuat baik, peduli pada sesama, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, penuh kasih sayang pada perempuan dan anak-anak, memberi dukungan pada generasi muda.

Bagi kami Redaksi, rasa syukur dan pengharapan itu tentu bertambah manakala setiap kali muncul wajah-wajah baru, generasi muda yang sangat inspiratif, peduli sesama dan mau berbagi.

Pembaca yang tercinta,

Sengaja bila pada edisi ke-49 kali ini Redaksi menampilkan sesuatu yang berbeda dalam sajian suplemen ini. Rasa syukur menemukan wajah-wajah baru, generasi muda penerus masa depan yang diharapkan dapat menginspirasi anak-anak muda yang lain untuk mengisi masa tumbuh-kembangnya dengan berbagai positif tentu tidak hendak Redaksi simpan sendiri. Oleh karenanya, Suplemen kali ini kami beri judul “Yang Muda, Yang Ceria dan Berkarya”. Dan isinya, juga berupa refleksi pengalaman remaja-remaja pesantren mitra Rahima dari empat kabupaten: Jombang, Lamongan, Kediri, dan Banyuwangi yang mulai belajar mengenai Kesehatan Reproduksi dan secara intens berinteraksi dengan sosok muda juga yang mengawal program ini, Nurkhayati Aida.

Tentu menarik menyimak cerita-cerita dari lapangan, misalnya Aizza yang sempat terheran-heran saat Waka Kesiswaan sekolahnya yang tiba-tiba mengutusnya untuk mengikuti kegiatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas. Dua kata ‘Reproduksi dan Seksualitas’ sempat menjadi gundah gulananya sehingga sempat suuzhan kalau mau diajari yang nggak-nggak karenanya. Juga Iva, siswi MAU Mambaul Huda yang senang karena ‘pertama kali ke Jakarta’ karena karya infografis tentang Kespro yang dibuatnya bersama teman-teman di sekolahnya. Juga kisah Khoirul Anam, yang bersama teman-temannya berhasil ‘membangkitkan kembali’ PIK R Sunan Drajat yang telah lama ‘mati suri’ setelah mengikuti lokalatih PKRS yang diselenggarakan oleh Rahima. Tak kalah menarik, juga cerita Ahmad Basyir tentang perubahan kebiasaan di kalangan santri (putra) di pondoknya; dari yang ganti ‘CD’ 2 hari sekali menjadi sehari sekali, dari yang punya kebiasaan ‘handuk satu dipakai rame-rame’ dan sekarang mereka lebih suka punya handuk sendiri dan terpisah, serta adanya inisiatif santri yang mulai bersedia ‘nyalon’ jadi Seksi Kebersihan pondok.

Kami yakin, bahwa mereka ‘tidak bermaksud nyombong’ pada teman-teman lain karena prestasiprestasi mereka. Namun mereka hanya ingin “tahadduts bin-ni’mah” (berbagi rasa suka karena adanya nikmat kebaikan yang kini mereka dapatkan); dengan harapan bahwa para santri dan siswa di tempat lain akan mengikuti jejak mereka. Selain itu, tentu mereka juga berharap agar para guru, ustadz dan ustadzah berkenan menjadi teman sekaligus pembimbing mereka untuk mengenal lebih jauh “Kesehatan Reproduksi” sebagai panduan mereka menapaki usia dewasa.

Pembaca yang budiman,

Kisah yang mereka ungkapkan tentang ‘perjalanan menuju Ibukota’; mungkin akan membuat kita semua menyadari arti pepatah “Banyak Jalan Menuju Roma”. Berkat prestasi yang mereka torehkan dalam lomba infografis, atau karena mereka memiliki pengalaman di komunitas yang bisa di-sharing-kan dengan remaja-remaja yang lain telah melapangkan jalan mereka untuk merajut tali silaturahmi. Kehadiran mereka ke rumah Rahima yang ‘sederhana tetapi terasa nyaman’ dan jauh dari kesan mewah dan glamour yang sempat mereka bayangkan serta pertemuan salah seorang dari mereka dengan ‘manusia gerobak’ di ibukota, mudah-mudahan membuat mereka dan kita semua senantiasa bersyukur atas segala nikmat Allah yang diberikan pada kita.


Pembaca yang senantiasa dirahmati oleh Allah swt.

Mudah-mudahan, kisah-kisah para remaja yang sedang belajar untuk mengenal jati dirinya ini bisa memberi manfaat agar kita bisa mengisi hidup dengan kebaikan. Berikanlah kepercayaan kepada para remaja kita untuk bisa mendapatkan informasi yang benar terkait kesehatan reproduksi dan seksualitas, sehingga mereka bisa menjadi sosok yang berperilaku sehat dan bertanggungjawab dalam setiap tindakan yang dipilihnya.

Dengan memahami setiap resiko, insyaallah mereka tidak akan terjerumus pada perilaku seksual yang tidak sehat dan terhindar dari berbagai bentuk kejahatan seksual; yang sejatinya bisa terjadi di manapun kita tinggal. Mudahmudahan, kita mendapatkan intisari dan pembelajaran berharga dari pengalaman ini dan menjadikan kita menjadi sosok yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitar kita. Khairun naasi anfa’uhum linnaas. Sebaikbaik orang adalah yang paling mendatangkan manfaat bagi orang lain. Semoga kita termasuk salah satu di antaranya, dan akhirnya kami ucapkan: Selamat membaca!

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Redaksi