Lompat ke isi

Warkah Al-Basyar Volume VII Tahun 2008; Edisi 36 Perkosaan Disekitar Kita, Perempuan Cenderung Jadi Korban: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 29: Baris 29:
|[https://drive.google.com/file/d/1QCeP6f-RgPxkUqPOTa9xus7tm0DNx-rS/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|[https://drive.google.com/file/d/1QCeP6f-RgPxkUqPOTa9xus7tm0DNx-rS/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|}
|}
{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol7 (Cov36).jpg|italic title=Volume VII Tahun 2008; Edisi 36|title_orig=|notes=[https://drive.google.com/file/d/1QCeP6f-RgPxkUqPOTa9xus7tm0DNx-rS/view?usp=drive_link Download Al-Basyar Vol.7 Tahun 2008; Edisi 36]}}


Kita sering melihat seorang perempuan mengenakan pakaian street atau rok di atas lutut (sebut saja rok mini) berjalan di keramaian. Lalu sekelompok laki-laki menggodanya dengan siulan. Hal serupa dialami pula oleh perempuan berjilbab. Dengan busana rapi dan tertutup, ternyata perempuan masih sering pula mendapat sindiran yang kurang pantas didengar oleh telinga kita. Padahal Tuhan telah menciptakan perempuan dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Dan perempuan diciptakan untuk dihargai, bukan untuk dilecehkan atau diperlakukan semena-mena.
Pemerkosaan dan berbagai tindakan kekerasan dan pelecehan memang sering menimpa perempuan. Musibah ini pun terjadi tidak memandang bulu. Asalkan dia seorang perempuan, baik cantik atau lebih cantik, perempuan dewasa bahkan anak-anak pun menjadi korbannya. Dan korban perkosaaan itu bukan hanya perempuan yang mempunyai aktivitas publik yang penuh kesibukan atau aktivitas hingga menyebabkan dia bekerja sampai larut malam. Seperti karyawan, buruh pabrik, bahkan pekerja seks. Namun juga dialami oleh perempuan yang berada di lingkungan domestik. Menyakitkan lagi korbannya adalah anak-anak di bawah umur.
Pemerkosaan tersebut dilakukan oleh laki-laki yang tidak bermoral. Pelaku juga bukan saja laki- laki berada di luar rumah (baca: yang laki-laki tak dikenal). Ironisnya, pelaku adalah pacar, teman, guru, bahkan kerabat terdekat dari korban. Ini banyak kita saksikan di media masa, cetak dan elektronik, radio dan televisi.
'''Kenapa Perempuan Sering Jadi Korban?'''
Dalam beberapa kasus, kita menemukan bahwa yang menjadi obyeknya adalah perempuan. Sementara subyeknya adalah laki-laki. Tapi justru tidak jarang pihak perempuan yang disalahkan. Barangkali ini disebabkan masih kentalnya mitos dalam masyarakat bahwa seorang perempuan adalah mahluk yang merepotkan, lemah, pasrah dan banyak lagi nilai rendah yang diterima perempuan. Karena sifat feminimnya (anggun, cantik, lembut), dia pantas dijadikan sebagai obyek dari sebuah tindak kekerasan dan pelecehan seksual. Dan kesalahan tersebut dilimpahkan pada! perempuan. Perempuan dianggap telah memulai atau memancing laki- laki untuk melakukan tindak kekerasan (pelecehan) terhadap dirinya. Dengan asumsi perempuan tersebut mengenakan pakaian yang "mencolok", mengundang syahwat dengan membuka [[aurat]].
Sebuah konstruk budaya patriarki (budaya yang menunggulkan laki-laki lebih dari pada perempuan) agaknya kuat sekali dalam masyarakat kita. Karena konstruk atau institusi patriarki, masyarakat tidak menerima seorang perempuan berpakaian mencolok. Perempuan dianggap 'baik' jika ia tidak berdandan dengan sengaja agar berpenampilan menarik. Sebaliknya jika perempuan itu sengaja berdandan untuk menarik perhatian orang, ia akan dianggap perempuan 'murahan' dan cenderung akan diperlakukan seenaknya Semua anggapan dan konstruk budaya patriarki yang mengakar di masyarakat demikian kuatnya. Sehingga nilai perempuan selalu berada di bawah dan ditentukan oleh kaum laki-laki. Seringkali superioritas dan heroisme laki-laki telah mendiskreditkan perempuan. Hingga bentuk kekerasan
apapun seolah layak diterima dan dialami oleh perempuan.
Akibat dari tindak kekerasan (perkosaan dan pelecehan seksual) yang dialami oleh perempuan sangatlah berat. Secara fisik ia mengalami kerusakan organ tubuh, terutama pada jenis kelaminnya. Korbanpun mempunyai peluang untuk terkena penyakit menular seks. Ia juga dapat mengalami suatu kehamilan yang tidak dikehendakinya. Selain berakibat secara fisik, korban akan mengalami tekanan mental yang cukup serius dan berkepanjangan. Korban akan merasa telah direndahkan martabatnya. Ia akan mengalami tekanan batin (deppresi) dan trauma, serta penuh rasa takut. Ia akan cenderung menyalahkan diri dan menganggap dirinya kotor. Akhirnya ia akan menarik diri dari lingkungannya. Jika korbannya anak-anak, maka ia akan menjadi anak yang pemurung, tidak bersemangat, ketakutan, pendiam, mudah marah (sensitiv) atau sebaliknya ia akan menjadi hiperaktif.
'''Apa Upaya Kita?'''
Jika Anda atau teman Anda menjadi korban tindak kekerasan (perkosaan) maka sesungguhnya Anda atau teman Anda tidak bersalah, dan tidak pantas disalahkan. Ada beberapa saran bagi para korban perkosaan. Pertama, pergi ke dokter untuk pemeriksaan. Jangan membersihkan diri terlebih dahulu. Biarkan dokter melakukan pengobatan, untuk mengantisipasi penyaklit menular. Lalu simpanlah semua barang bukti untuk mengadili pihak pelaku. Kemudian melaporkannya kepada yang berwajib.
Sementara jika ada di antara kita yang menjadi korban, kita perlu berupaya mengurangi derita korban, mengajak bicara dan meminta dia menceritakan apa yang telah dialami. Kemudian memberikan dukungan psikologis pada korban, bahwa ia tidak bersalah atas musibah yang dialaminya tersebut. Tidak kalah penting, menerima ia seperti apa adanya, tidak mengucilkannya serta meyakinkan korban bahwa ia dalam posisi yang aman. Karena banyak sekali korban perkosaan yang tidak berani mengungkapkan pelaku karena ancamannya. Dan penuh ketakutan karena anggapan dirinya tidak akan diterima lagi di keluarga dan masyarakat.
Di sinilah peran keluarga sangat dominan. Sebab merekalah orang terdekat yang dipercayai oleh korban. Semua kejadian yang menimpa kaum perempuan dapatlah diminimalisir agar tidak terjadi. Jika kita mau menghargai dan menghormati sesama kita. Dan tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam perlakuan. Juga dengan mengikis sedikit demi sedikit budaya patriarkhi, serta memberikan pemahaman kesetaraan gender. Lebih jauh adalah memberikan ruang gerak yang sama bagi korban kekerasan perempuan. Dan mempelakukannya sama seperti perempuan lain. Juga memberikan hukuman seberat-beratnya pada para pelaku tindak kekerasan terhadap perempuan. Karena Allah tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan.
Sebagaimana pesan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Turmudzi ''"Ingatlah! aku berpesan agar kalian berbuat baik terhadap perempuan karena mereka sering menjadi sasaran pelecehan di antara kalian, padahal sedikit pun kalian tidak berhak memperlakukan mereka, kecuali untuk kebaikan." (H.R. At-Turmudzi)'' ''Wallahu Alam bi al-shawab''.
''<small>*Tulisan ini adalah hasil repro tulisan yang pernah dimuat di al-Basyar th. 2003 dengan judul 'Kenapa Perempuan Sering Jadi Korhan'</small>''
''<small>**Penulis adalah alumnus PMII Cirebon dan Fahmina Institute yang sekarang tetap aktif di berbagai gerakan perempuan di Cirebon</small>''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Buletin]]
[[Kategori:Buletin]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol7]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol7]]

Revisi per 15 Maret 2026 04.43

Informasi Buletin:

Sumber : Yayasan Fahmina
Nama Buletin : Warkah Al-Basyar
Seri : Volume VII Tahun 2008; Edisi 36
Tanggal Terbit : 31 Oktober 2008 (31 Syawal 1429H)
Penerbit : Fahmina Institute
Penulis : Evi Wahyuningsih
Link Download : Download Warkah Al-Basyar
Warkah Al-Basyar Volume VII Tahun 2008; Edisi 36 Perkosaan Disekitar Kita, Perempuan Cenderung Jadi Korban
Download Al-Basyar Vol.7 Tahun 2008; Edisi 36

Kita sering melihat seorang perempuan mengenakan pakaian street atau rok di atas lutut (sebut saja rok mini) berjalan di keramaian. Lalu sekelompok laki-laki menggodanya dengan siulan. Hal serupa dialami pula oleh perempuan berjilbab. Dengan busana rapi dan tertutup, ternyata perempuan masih sering pula mendapat sindiran yang kurang pantas didengar oleh telinga kita. Padahal Tuhan telah menciptakan perempuan dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Dan perempuan diciptakan untuk dihargai, bukan untuk dilecehkan atau diperlakukan semena-mena.

Pemerkosaan dan berbagai tindakan kekerasan dan pelecehan memang sering menimpa perempuan. Musibah ini pun terjadi tidak memandang bulu. Asalkan dia seorang perempuan, baik cantik atau lebih cantik, perempuan dewasa bahkan anak-anak pun menjadi korbannya. Dan korban perkosaaan itu bukan hanya perempuan yang mempunyai aktivitas publik yang penuh kesibukan atau aktivitas hingga menyebabkan dia bekerja sampai larut malam. Seperti karyawan, buruh pabrik, bahkan pekerja seks. Namun juga dialami oleh perempuan yang berada di lingkungan domestik. Menyakitkan lagi korbannya adalah anak-anak di bawah umur.

Pemerkosaan tersebut dilakukan oleh laki-laki yang tidak bermoral. Pelaku juga bukan saja laki- laki berada di luar rumah (baca: yang laki-laki tak dikenal). Ironisnya, pelaku adalah pacar, teman, guru, bahkan kerabat terdekat dari korban. Ini banyak kita saksikan di media masa, cetak dan elektronik, radio dan televisi.

Kenapa Perempuan Sering Jadi Korban?

Dalam beberapa kasus, kita menemukan bahwa yang menjadi obyeknya adalah perempuan. Sementara subyeknya adalah laki-laki. Tapi justru tidak jarang pihak perempuan yang disalahkan. Barangkali ini disebabkan masih kentalnya mitos dalam masyarakat bahwa seorang perempuan adalah mahluk yang merepotkan, lemah, pasrah dan banyak lagi nilai rendah yang diterima perempuan. Karena sifat feminimnya (anggun, cantik, lembut), dia pantas dijadikan sebagai obyek dari sebuah tindak kekerasan dan pelecehan seksual. Dan kesalahan tersebut dilimpahkan pada! perempuan. Perempuan dianggap telah memulai atau memancing laki- laki untuk melakukan tindak kekerasan (pelecehan) terhadap dirinya. Dengan asumsi perempuan tersebut mengenakan pakaian yang "mencolok", mengundang syahwat dengan membuka aurat.

Sebuah konstruk budaya patriarki (budaya yang menunggulkan laki-laki lebih dari pada perempuan) agaknya kuat sekali dalam masyarakat kita. Karena konstruk atau institusi patriarki, masyarakat tidak menerima seorang perempuan berpakaian mencolok. Perempuan dianggap 'baik' jika ia tidak berdandan dengan sengaja agar berpenampilan menarik. Sebaliknya jika perempuan itu sengaja berdandan untuk menarik perhatian orang, ia akan dianggap perempuan 'murahan' dan cenderung akan diperlakukan seenaknya Semua anggapan dan konstruk budaya patriarki yang mengakar di masyarakat demikian kuatnya. Sehingga nilai perempuan selalu berada di bawah dan ditentukan oleh kaum laki-laki. Seringkali superioritas dan heroisme laki-laki telah mendiskreditkan perempuan. Hingga bentuk kekerasan

apapun seolah layak diterima dan dialami oleh perempuan.

Akibat dari tindak kekerasan (perkosaan dan pelecehan seksual) yang dialami oleh perempuan sangatlah berat. Secara fisik ia mengalami kerusakan organ tubuh, terutama pada jenis kelaminnya. Korbanpun mempunyai peluang untuk terkena penyakit menular seks. Ia juga dapat mengalami suatu kehamilan yang tidak dikehendakinya. Selain berakibat secara fisik, korban akan mengalami tekanan mental yang cukup serius dan berkepanjangan. Korban akan merasa telah direndahkan martabatnya. Ia akan mengalami tekanan batin (deppresi) dan trauma, serta penuh rasa takut. Ia akan cenderung menyalahkan diri dan menganggap dirinya kotor. Akhirnya ia akan menarik diri dari lingkungannya. Jika korbannya anak-anak, maka ia akan menjadi anak yang pemurung, tidak bersemangat, ketakutan, pendiam, mudah marah (sensitiv) atau sebaliknya ia akan menjadi hiperaktif.

Apa Upaya Kita?

Jika Anda atau teman Anda menjadi korban tindak kekerasan (perkosaan) maka sesungguhnya Anda atau teman Anda tidak bersalah, dan tidak pantas disalahkan. Ada beberapa saran bagi para korban perkosaan. Pertama, pergi ke dokter untuk pemeriksaan. Jangan membersihkan diri terlebih dahulu. Biarkan dokter melakukan pengobatan, untuk mengantisipasi penyaklit menular. Lalu simpanlah semua barang bukti untuk mengadili pihak pelaku. Kemudian melaporkannya kepada yang berwajib.

Sementara jika ada di antara kita yang menjadi korban, kita perlu berupaya mengurangi derita korban, mengajak bicara dan meminta dia menceritakan apa yang telah dialami. Kemudian memberikan dukungan psikologis pada korban, bahwa ia tidak bersalah atas musibah yang dialaminya tersebut. Tidak kalah penting, menerima ia seperti apa adanya, tidak mengucilkannya serta meyakinkan korban bahwa ia dalam posisi yang aman. Karena banyak sekali korban perkosaan yang tidak berani mengungkapkan pelaku karena ancamannya. Dan penuh ketakutan karena anggapan dirinya tidak akan diterima lagi di keluarga dan masyarakat.

Di sinilah peran keluarga sangat dominan. Sebab merekalah orang terdekat yang dipercayai oleh korban. Semua kejadian yang menimpa kaum perempuan dapatlah diminimalisir agar tidak terjadi. Jika kita mau menghargai dan menghormati sesama kita. Dan tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam perlakuan. Juga dengan mengikis sedikit demi sedikit budaya patriarkhi, serta memberikan pemahaman kesetaraan gender. Lebih jauh adalah memberikan ruang gerak yang sama bagi korban kekerasan perempuan. Dan mempelakukannya sama seperti perempuan lain. Juga memberikan hukuman seberat-beratnya pada para pelaku tindak kekerasan terhadap perempuan. Karena Allah tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan.

Sebagaimana pesan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Turmudzi "Ingatlah! aku berpesan agar kalian berbuat baik terhadap perempuan karena mereka sering menjadi sasaran pelecehan di antara kalian, padahal sedikit pun kalian tidak berhak memperlakukan mereka, kecuali untuk kebaikan." (H.R. At-Turmudzi) Wallahu Alam bi al-shawab.

*Tulisan ini adalah hasil repro tulisan yang pernah dimuat di al-Basyar th. 2003 dengan judul 'Kenapa Perempuan Sering Jadi Korhan'

**Penulis adalah alumnus PMII Cirebon dan Fahmina Institute yang sekarang tetap aktif di berbagai gerakan perempuan di Cirebon