Lompat ke isi

Warkah Al-Basyar Volume X Tahun 2020; Edisi 12 Tantangan Kemerdekaan Bangsa Indonesia: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 11: Baris 11:
|Seri
|Seri
|:
|:
|Volume X Tahun 2020; Edisi 01
|Volume X Tahun 2020; Edisi 12
|-
|-
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|21 Februari 2020 (27  Jumadil Akhir 1441H)
|17 Juli 2020 (25 Dzulqa'idah 1441H)
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 23: Baris 23:
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|KH. [[Husein Muhammad]]
|Marzuki Rais
|-
|-
|Link Download
|Link Download
|:
|:
|Download Al-Basyar
|[https://drive.google.com/file/d/1kMjVm3YKu7PJW8mPJHHlDok26nQeZkfw/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|}
|}


{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol10 (Cov1).jpg|italic title=Warkah Al-Basyar Vol.10|title_orig=Warkah Al-Basyar Vol.10|notes=[https://drive.google.com/file/d/19JRitJJdTHaAk526hVgropope_yNr1_f/view?usp=drive_link Download Al-Basyar Vol.10 Tahun 2020; Edisi 1]}}
{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol10 (Cov12).jpg|italic title=Warkah Al-Basyar Volume X|title_orig=Warkah Al-Basyar Volume X|notes=[https://drive.google.com/file/d/1kMjVm3YKu7PJW8mPJHHlDok26nQeZkfw/view?usp=drive_link Download Al-Basyar Vol.10 Tahun 2020; Edisi 12]}}


[[Jihad]] yang diartikan sebagai perang suci dalam pandangan saya tidak dimaksudkan oleh teks kitab suci sendiri. Perang dalam teks suci [[al-Qur’an]] disebut “Qital” atau “Harb”. Secara literal Jihad bermakna: “usaha sungguh-sungguh”, atau bekerja keras”.   
Agustus tahun 2020 ini, bangsa Indonesia genap berusia 75 tahun. Usia yang tidak muda lagi bagi perjalanan sebuah bangsa. Namun diusianya yang semakin matang ini, Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan. Bukan saja terkait kesejahteraan rakyatnya, tapi juga masih adanya kelompok yang terus berusaha merongrong dan menggantikan sistem negara ini dengan sistem [[khilafah]]. Tentu ini menjadi tugas kita yang masih mencintai NKRI, untuk terus menjaga dan mempertahankannya. Disamping para pemimpin negeri ini juga harus lebih serius lagi dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia, dalam mensejahterakan rakyat dan pemerataan pembangunan diseluruh pelosok negeri.   


Terlepas dari apa motivasi mereka dalam memperjuangkan pendirian khilafah, isu kemiskinan dan ketidakadilan, menjadi bahan propaganda agar rakyat Indonesia membenci pemerintahan dengan sistem demokrasi ini. Dengan tanpa lelah, mereka terus berusaha menggalang kekuatan dengan berbagai cara, memprovokasi dan mencari dukungan rakyat Indonesia agar cita-cita mereka dalam menjadikan Indonesia sebagai negara khilafah bisa terwujud.
Khilafah adalah sistem pemerintahan yang wilayah kekuasannya tidak terbatas pada satu negara saja. Melainkan banyak negara dunia yang berada dibawah satu kepemimpinan dengan hukum Islam sebagai dasarnya. Sistem khilafah, menyatukan negara-negera yang selama ini dibatasi oleh wilayah tertentu. Dengan demikian sistem khilafah akan menghilangkan nama-nama negara yang selama ini dikenal masyarakat dunia seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam dan negara lainnya yang berada dalam wilayah kekhalifahan. Nama pemimpinnya adalah khalifah, bukan lagi presiden atau perdana menteri.
Dalam sejarah Islam, sistem ini pernah diterapkan pada masa ''khulafaurrasyidin.'' Meskipun pada masa ini, banyak yang tidak memasukannya sebagai sistem khilafah, sebagaimana Muawiyah, Umayah, Mamluk dan Usmaniyah.  Namun sebagian yang lain menganggapnya sebagai permulaan sistem khilafah didunia Islam yang berakhir pada masa khilafah Utsmaniyah sekitar tahun 1924. Majlis Agung Nasional Turki pada 3 Maret 1924 atas desakan kelompok nasionalis, secera resmi membubarkan kekhalifahan Usmaniyah yang menandakan berakhirnya sistem kekhalifahan di muka bumi. Setelah itu, negara-negara yang sebelumnya dibawah kekhalifahan Usmaniyah, membentuk negara-negara sendiri dan mayoritas memilih sistem demokrasi sebagai penggantinya.
Sistem demokrasi banyak dipilih negara-negera dunia, karena saat ini dianggap paling sesuai dengan perkembangan zaman. Sistem demokrasi mensyaratkan keterlibatan dan memberikan hak yang sama kepada seluruh warga negara. Tidak ada hak utama ''(privilege)'' dalam satu [[komunitas]] atau masyarakat. Semua warga negara tanpa terkecuali, mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam segala hal, baik hukum, politik, ekonomi maupun lainnya.
Meskipun Indonesia tidak masuk dalam negara yang dibawah kekhalifahan Usmaniyah, namun belajar dari pengalaman yang ada, para ''founding fathers'' memilih demokrasi sebagai sistem negara Indonesia, dan presiden sebagai pemimpinnya. Bagi bangsa Indonesia, kemerdekaan Indonesia adalah anugerah terbesar dari Allah setelah dijajah Belanda, Jepang, Portugis dan negara lainnya selama beratus tahun dengan pengorbanan harta dan nyawa. Oleh karena itu, mayoritas bangsa Indonesia yang memahami sejarah, mempertahankan NKRI adalah harga mati. Disamping karena sistem ini masih dianggap yang ideal dan mencerminkan kebersamaan dalam mengelola negara yang diperjuangkan bersama oleh seluruh komponen bangsa. NKRI juga dihasilkan dari proses diskusi dan permenungan panjang yang dilakukan oleh para [[tokoh]] pejuang bangsa ini.
Dalam konteks ini, upaya kelompok tertentu yang ingin menggantikan NKRI dengan sistem khilafah, pada hakekatnya melukai perjuangan seluruh bangsa Indonesia. Disamping sistem khilafah yang diusung dianggap semu, sistem khilafah juga dalam sejarahnya, diwarnai dengan konflik dan peperangan. Karena pergantian kempimpinan dalam sistem khilafah, hanya bisa dilakukan ketika yang bersangkutan meninggal dunia. Oleh karena itu, seburuk apapun khalifah dalam mempimpin umatnya, tidak bisa digantikan kecuali dengan direbut melalui peperangan, kudeta atau pembunuhan. Realitas sejarah ini tentu membuat bangsa Indonesia berpikir dalam memilih sistem yang sesuai dengan perkambangan zaman dan dianggap mewakili seluruh kelompok yang sama-sama berjuang dalam memerdekakan Indonesia.  
Dalam sejarah Indonesia, upaya kelompok tertentu yang ingin menggantikan sistem demokrasi atau NKRI dengan sistem Islam tidak pernah padam. Pada masa kemerdekaan atau awal Orde Lama, kita mengenal kelompok Darul Islam (DI) yang dideklarasikan pada 1948 oleh SM Kartosuwiryo pada 1948 dan berpusat di Jawa Barat. Kelompok ini, mengusung Negara Islam Indonesia (NII), sebagai sistem negara yang dianggap sesuai dengan bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Berbagai cara dilakukan untuk mewujdukan DI termasuk melawan pemerintah NKRI. Pada masa ini, pemberontakan juga terjadi di beberapa daerah seperti Aceh pimpinan Daud Beureueuh, Kalimantan Selatan pimpinan Ibnu Hajar, Jawa Tengah pimpinan Amir Fatah, Sulawesi Selatan pimpinan Kahar Muzakkar dan lain sebagainya. Meskipun pada awalnya mereka adalah bagian dari pejuang kemerdekaan, namun karena ketidakpuasan atas sistem dan kepemimpinan yang ada, mereka kemudian bergabung dengan perjuangan SM. Kartosuwiryo, dan bersama-sama berusaha menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam dengan melawan pemerintah NKRI karena dianggap tidak islami.
Pada masa Orde Baru, perjuangan kelompok Islamis (Islam politik) juga muncul. Meskipun SM. Kartosuwiryo, pimpinan DI, dieksekusi pada tahun 1962, namun para pengikut setia DI tetap menginginkan Negara Islam mewujud di Indonesia. Setelah vakum beberapa tahun, pada masa Orde Baru mereka bangkit lagi melanjutkan cita-cita mendirikan Negara Islam Indonesia melalui wadah ''(tandhim)'' Komando [[Jihad]] (KOMJI). Meskipun ada pendapat yang mengatakan bahwa komji dibentuk intelejen sebagai sarana menghadapi PKI, namun kenyataannya komji juga melakukan perlawanan terhadap pemerintah dengan berbagai teror dalam upaya mewujudkan NII.
Pada masa Orde Baru juga muncul Jama’ah Islamiyah (JI) pimpinan Abdullah Sungkar. ''Tandhim'' ini bercita-cita mendirikan negara Islam bukan saja di Indonesia, melainkan juga sampai ke Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina dan Brunai. Disamping JI, pada masa orde baru juga muncul Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh dan NII KW 9 pimpinan Seno alias Basyar dilanjutkan Abu Karim Hasan dan sampai sekarang dipegang oleh Abdus Salam alis Abu Ma’ariq alis Nur Alamsyah alis Abu Toto alis Toto Salam alis Panji Gumilang.
Perjuangan kelompok Islamis juga berlanjut pada awal reformasi sampai sekarang. Melalui berbagai organisasi mereka terus berjuang untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam atau khilafah. Pada masa ini, kelompok lama maupun baru secara terang-terangan meneriakkan pentingnya Indonesia sebagai Negara Islam. Organisasi seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),  Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Jama’ah Anshor [[Tauhid]] (JAT), Laskar Jihad, Jama’ah Anshor Syariah (JAS), Jama’ah Anshor Daulah (JAD) dan organisasi lainnya, adalah organisasi pengusung negara Islam atau Khilafah. Meskipun antara satu dengan lainnya tidak saling ketemu, namun dengan berbagai cara mereka berusaha dan memaksakan agar umat Islam Indonesia mendukung gerakan mereka. Mereka juga memaksakan kepada aparat agar gerakan mereka tidak diganggu. Sehingga ketika aparat menghalangi gerakan mereka dan umat juga tidak menyetujui gerakan mereka, kemudian mereka melakukan aksi teror yang utamanya ditujukan kepada pemerintah meskipun dengan mengorbankan masyarakat/umat.
Inilah tantangan terbesar Indonesia dalam mengawal dan mewujudkan amanat kemerdekaan. Oleh karena itu, pemerintah harus betul-betul melaksanakan amanat kemerdekaan untuk mensejahteraan rakyatnya, sehingga gerakan islamis ini tidak mendapat dukungan dari masyarakat Indonesia. Pemerataan pembangunan juga harus diperhatikan, agar daerah-daerah tidak merasa dianaktirikan di negerinya sendiri. Dengan demikian cita-cita pendirian NKRI betul-betul dirsasakan oleh seluruh bangsa Indonesia, masyarakat hidup dalam NKRI sebagai ''baldatun toyyibatun warabbun ghofur''. ''Wallhu a’lam. []''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Buletin]]
[[Kategori:Buletin]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol10]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol10]]