Lompat ke isi

Warkah Al-Basyar Volume VIII Tahun 2009; Edisi 02 Jaminan Kesehatan Reproduksi Beum Terpenuhi Aborsi Marak Lagi: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
'''Informasi Buletin:'''
[[Berkas:AlBasyar Vol8 (Cov2).jpg|kiri|nirbing|459x459px]]
'''<u>Informasi Buletin:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
Baris 32: Baris 33:
|:
|:
|[https://drive.google.com/file/d/1HyM13y0LyF6-2WMZ7XSrZzh9Aq8etz4W/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|[https://drive.google.com/file/d/1HyM13y0LyF6-2WMZ7XSrZzh9Aq8etz4W/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|}{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol8 (Cov2).jpg|italic title=Warkah Al-Basyar Volume VIII|title_orig=Warkah Al-Basyar Volume VIII|notes=[https://drive.google.com/file/d/1HyM13y0LyF6-2WMZ7XSrZzh9Aq8etz4W/view?usp=drive_link Download Al-Basyar Vol.8 Tahun 2009; Edisi 2]}}Banyaknya perempuan yang melakukan praktek aborsi tidak aman karena masyarakat masih memandang persoalan aborsi sebagai peroalan moralitas dan kriminalitas semata. Kematian seorang ibu yang melakukan aborsi di Indonesia cukup tinggi. Data menunjukkan sebanyak 307 ibu meninggal dari 100.000 angka kelahiran. Sebanyak 50 persen diakibatkan karena praktek aborsi yang tidak aman.
|}Banyaknya perempuan yang melakukan praktek aborsi tidak aman karena masyarakat masih memandang persoalan aborsi sebagai peroalan moralitas dan kriminalitas semata. Kematian seorang ibu yang melakukan aborsi di Indonesia cukup tinggi. Data menunjukkan sebanyak 307 ibu meninggal dari 100.000 angka kelahiran. Sebanyak 50 persen diakibatkan karena praktek aborsi yang tidak aman.


Sepekan ini isu aborsi kembali mencuat ke permukaan. Tepatnya Kamis 22 Januari lalu, masyarakat  kembali dikejutkan dengan tertangkapnya dr Ownie, salah satu dokter yang melakukan praktik aborsi. Seperti yang diberitakan sejumlah media, ketika pembongkaran dua septic tank di tempat klinik miliknya, polisi menemukan sebuah janin embrio berusia 3 bulan dan satu gumpalan darah berusia 1 bulan. Pembongkaran tempat klinik terus berlanjut di hari-hari berikutnya. Hingga ditemukan embrio atau janin. Titik penggalian juga dilakukan petugas di samping klinik yang letaknya tidak jauh dari septic tank. Sebelumnya aparat telah berhasil menemukan dua janin. Kemungkinan masih ada delapan janin yang terkubur di sekitar klinik dr Ownie.
Sepekan ini isu aborsi kembali mencuat ke permukaan. Tepatnya Kamis 22 Januari lalu, masyarakat  kembali dikejutkan dengan tertangkapnya dr Ownie, salah satu dokter yang melakukan praktik aborsi. Seperti yang diberitakan sejumlah media, ketika pembongkaran dua septic tank di tempat klinik miliknya, polisi menemukan sebuah janin embrio berusia 3 bulan dan satu gumpalan darah berusia 1 bulan. Pembongkaran tempat klinik terus berlanjut di hari-hari berikutnya. Hingga ditemukan embrio atau janin. Titik penggalian juga dilakukan petugas di samping klinik yang letaknya tidak jauh dari septic tank. Sebelumnya aparat telah berhasil menemukan dua janin. Kemungkinan masih ada delapan janin yang terkubur di sekitar klinik dr Ownie.
Baris 38: Baris 39:
Terbongkarnya klinik dr Ownie, seakan kembali mengingatkan kita akan peristiwa Pasuruan beberapa bulan lalu. Salah satu siswi SMA Negeri di Kota Pasuruan nekat melakukan aborsi ke seorang dukun. Hebohnya proses aborsi itu terekam dalam kamera ponsel yang saat ini telah beredar luas di masyarakat. Kasus ini terkuak setelah rekaman aborsi pelajar itu tersebar luas dan banyak dijumpai di masyarakat. Dalam rekaman video format MP4 yang berdurasi sekitar 45 menit itu, memperlihatkan seorang perempuan muda berinisial D sedang menahan sakit lantaran perutnya dipijat oleh tangan seorang laki-laki tua yang diperkirakan seorang dukun aborsi.
Terbongkarnya klinik dr Ownie, seakan kembali mengingatkan kita akan peristiwa Pasuruan beberapa bulan lalu. Salah satu siswi SMA Negeri di Kota Pasuruan nekat melakukan aborsi ke seorang dukun. Hebohnya proses aborsi itu terekam dalam kamera ponsel yang saat ini telah beredar luas di masyarakat. Kasus ini terkuak setelah rekaman aborsi pelajar itu tersebar luas dan banyak dijumpai di masyarakat. Dalam rekaman video format MP4 yang berdurasi sekitar 45 menit itu, memperlihatkan seorang perempuan muda berinisial D sedang menahan sakit lantaran perutnya dipijat oleh tangan seorang laki-laki tua yang diperkirakan seorang dukun aborsi.


Tentu saja, kedua fakta tersebut masing-masing saling berkaitan. Dan lagi-lagi, ini adalah persoalan perempuan. Perempuan selalu saja menjadi korban. Korban secara fisik, psikis, moral maupun agama. Meskipun aborsi dianggap sebagai tindakan kriminal. Namun kenyataannya, sekitar dua juta perempuan Indonesia melakukan aborsi setiap tahunnya. Dan kebanyakan dilakukan secara tidak aman atau tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan yang memadai. Bahkan tahun ini, berdasarkan data yang dihimpun badan koordinasi keluarga berencana nasional (BKKBN), kasus aborsi di tanah air telah mencapai 2,6 juta.
Tentu saja, kedua fakta tersebut masing-masing saling berkaitan. Dan lagi-lagi, ini adalah persoalan perempuan. Perempuan selalu saja menjadi korban. Korban secara fisik, psikis, moral maupun agama. Meskipun aborsi dianggap sebagai tindakan kriminal. Namun kenyataannya, sekitar dua juta perempuan Indonesia melakukan aborsi setiap tahunnya. Dan kebanyakan dilakukan secara tidak aman atau tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan yang memadai. Bahkan tahun ini, berdasarkan data yang dihimpun badan koordinasi [[Keluarga Berencana|keluarga berencana]] nasional (BKKBN), kasus aborsi di tanah air telah mencapai 2,6 juta.


Sebagian besar, perempuan sendiri tidak memiliki persiapan mental untuk menghadapi berbagai konsekuensi akibat aborsi. Kebanyakan perempuan yang melakukan aborsi cenderung mengambil keputusan tersebut karena faktor-faktor di luar dirinya. Karena merasa hal itu menjadi aib bagi dirinya dan keluarganya. Karena merasa malu telah melakukan dosa. Karena merasa takut pada keluarga dan malu pada lingkungan. Alasan-alasan inilah yang kemudian tumpang tindih dengan suara hatinya sendiri.
Sebagian besar, perempuan sendiri tidak memiliki persiapan mental untuk menghadapi berbagai konsekuensi akibat aborsi. Kebanyakan perempuan yang melakukan aborsi cenderung mengambil keputusan tersebut karena faktor-faktor di luar dirinya. Karena merasa hal itu menjadi aib bagi dirinya dan keluarganya. Karena merasa malu telah melakukan dosa. Karena merasa takut pada keluarga dan malu pada lingkungan. Alasan-alasan inilah yang kemudian tumpang tindih dengan suara hatinya sendiri.