Lompat ke isi

Warkah Al-Basyar Volume VIII Tahun 2009; Edisi 24 Ulama Pelopor Kebangkitan Ummat: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
'''Informasi Buletin:'''
[[Berkas:AlBasyar Vol8 (Cov24).jpg|kiri|nirbing|459x459px]]
'''<u>Informasi Buletin:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
Baris 32: Baris 33:
|:
|:
|[https://drive.google.com/file/d/13PMg4hu3iqrPddnG_5VCd_2uuc2hpX6J/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|[https://drive.google.com/file/d/13PMg4hu3iqrPddnG_5VCd_2uuc2hpX6J/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|}{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol8 (Cov24).jpg|italic title=Warkah Al-Basyar Volume VIII|title_orig=Warkah Al-Basyar Volume VIII|notes=[https://drive.google.com/file/d/13PMg4hu3iqrPddnG_5VCd_2uuc2hpX6J/view?usp=drive_link Download Al-Basyar Vol.8 Tahun 2009; Edisi 24]}}Di dunia ini tidak ada yang memiliki derajat yang lebih mulia selain para ulama (di banyak tempat ada yang menyebut kiai, Tuan Guru, Tengku, Syaikh, buya, ustadz, dll). Karena para ulama itulah pewaris para nabi (al-ulama waratsatul ambiya). Di tangan para ulama ini ajaran-ajaran para nabi dititipkan untuk diteruskan kepada ummat. Setiap berkurangnya (kematian) ulama maka ilmu ajaran kenabian juga surut dengan sendirinya, karena begitulah cara Allah mencabut ilmu kepada manusia. Namun demikian Al-Ghazali, telah mengingatkan bahwa ulama itu ada yang buruk (ulama syu’) dan ada ulama yang baik (ulama khair). Maka meskipun sama-sama pewaris, ada yang “menjual warisannya” (ulama syu’) ada juga yang menjaga warisannya (ulama khair). Sebagai pemegang warisan tahta kenabian, maka sudah semestinya para ulama ini menjadi pelopor dari segala macam krisis yang melanda umat manusia. Setiap ada krisis baik ekonomi, politik, sosial, budaya, adalah tugas ulama untuk tampil sebagai garda depan perubahan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan berkecukupan.
|}Di dunia ini tidak ada yang memiliki derajat yang lebih mulia selain para ulama (di banyak tempat ada yang menyebut kiai, Tuan Guru, Tengku, Syaikh, buya, ustadz, dll). Karena para ulama itulah pewaris para nabi (al-ulama waratsatul ambiya). Di tangan para ulama ini ajaran-ajaran para nabi dititipkan untuk diteruskan kepada ummat. Setiap berkurangnya (kematian) ulama maka ilmu ajaran kenabian juga surut dengan sendirinya, karena begitulah cara Allah mencabut ilmu kepada manusia. Namun demikian Al-Ghazali, telah mengingatkan bahwa ulama itu ada yang buruk (ulama syu’) dan ada ulama yang baik (ulama khair). Maka meskipun sama-sama pewaris, ada yang “menjual warisannya” (ulama syu’) ada juga yang menjaga warisannya (ulama khair). Sebagai pemegang warisan tahta kenabian, maka sudah semestinya para ulama ini menjadi pelopor dari segala macam krisis yang melanda umat manusia. Setiap ada krisis baik ekonomi, politik, sosial, budaya, adalah tugas ulama untuk tampil sebagai garda depan perubahan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan berkecukupan.


'''Meneladani Para Nabi'''
'''Meneladani Para Nabi'''