Suraiya Kamaruzzaman: Perbedaan antara revisi
Tampilan
←Membuat halaman berisi '{{Infobox person|name=Faqihuddin Abdul Kodir|birth_date=Cirebon, 31 Desember 1971|image=Faqih.jpeg|imagesize=180px|known for=Penulis Buku: *Qira’ah Mubadalah *Sunnah...' |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox person|name= | {{Infobox person|name=Suraiya Kamaruzzaman|birth_date=Aceh Besar, 03 Juni 1968|image=Berkas:Suraiya Kamaruzzaman.jpg|imagesize=220px|known for=*Penulis Buku Women and the war in Aceh, Inside Indonesia (2000), dan Women and Children in Aceh after the tsunami: disaster, survival, relief, reconstruction (2012)|occupation=*Dosen Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala Aceh sejak 1998 | ||
*Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh (BSuIA) 2 periode (2011 sd sekarang) | |||
*Ketua Komisi Pemasyarakatan HAM dan Advokasi, ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) Aceh 2 periode (2012 sd sekarang)}}'''Suraiya Kamaruzzaman,''' lahir pada tanggal 3 Juni 1968 di Kabupaten Aceh Besar, adalah aktivis hak perempuan dan pendiri [[Lembaga]] Swadaya Masyarakat yang fokus pada pemberdayaan dan penguatan perempuan bernama Flower Aceh pada tanggal 23 September 1989. Suraiya dianugerahi penghargaan perdamaian UNDP N-Peace Award atas upayanya melakukan peningkatan kapasitas dan advokasi pemenuhan hak perempuan Aceh, terutama perempuan yang terpinggirkan dari akses ekonomi dan korban kekerasan seksual yang terperangkap dalam konflik bersenjata<ref><small>https://elsam.or.id/team/suraiya-kamaruzzaman-s-t-ll-m/ diakses pada 25 Juni 2021</small></ref>. | |||
* | |||
Suraiya bekerja sebagai Dosen Fakultas Teknik di Universitas Syiah Kuala (USK) sejak tahun 1998. Ia juga menjabat sebagai Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim USK (2017 sampai sekarang), Ketua Devisi Penelitian dan Pengembangan Masyarakat, Pusat Riset Atsiry (ARC) USK (2016 sampai sekarang), Sekretaris Pusat Riset HAM USK (2015 sampai sekarang), Wakil Ketua Forum SGDs USK (2020 sampai sekarang), Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) Aceh (2020 sampai sekarang), Anggota Komisi penelitian dan Pengembangan Pendidikan Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh Besar (2019 sampai 2026), Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh (BSuIA) 2 periode (2011 sampai sekarang), Pengurus GMB (Gerakan Mari Berbagi) (2012 sampai sekarang), Ketua Komisi Pemasyarakatan HAM dan Advokasi, ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) Aceh 2 periode (2012 sampai sekarang), dan Ketua Bidang Lingkungan, KAHMI Aceh (2015 sampai sekarang). | Suraiya bekerja sebagai Dosen Fakultas Teknik di Universitas Syiah Kuala (USK) sejak tahun 1998. Ia juga menjabat sebagai Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim USK (2017 sampai sekarang), Ketua Devisi Penelitian dan Pengembangan Masyarakat, Pusat Riset Atsiry (ARC) USK (2016 sampai sekarang), Sekretaris Pusat Riset HAM USK (2015 sampai sekarang), Wakil Ketua Forum SGDs USK (2020 sampai sekarang), Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) Aceh (2020 sampai sekarang), Anggota Komisi penelitian dan Pengembangan Pendidikan Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh Besar (2019 sampai 2026), Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh (BSuIA) 2 periode (2011 sampai sekarang), Pengurus GMB (Gerakan Mari Berbagi) (2012 sampai sekarang), Ketua Komisi Pemasyarakatan HAM dan Advokasi, ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) Aceh 2 periode (2012 sampai sekarang), dan Ketua Bidang Lingkungan, KAHMI Aceh (2015 sampai sekarang). | ||
Suraiya mengetahui tentang [[KUPI]] sejak sebelum penyelenggarannya pada bulan April 2017. Ia sering berkomunikasi untuk membantu Tim KUPI mengidentifikasi nama-nama ulama perempuan dari Aceh yang mungkin bisa diundang. Selain itu, ia bersama Kiai [[Faqihuddin Abdul Kodir]] melobi The Asia Foundation untuk memfasilitasi kedatangan mereka. Dalam kesempatan tersebut, Suraiya juga menulis tentang satu ulama, yakni Umi Hanisah, dan dimuat di dalam salah satu buku yang diluncurkan oleh KUPI. Suraiya ikut menghadiri KUPI, yaitu pada sesi Seminar Internasional pada hari pertama. Suraiya merasa terharu. Menurutnya, KUPI merupakan satu bentuk pengakuan terhadap ulama perempuan, semacam merayakan bahwa kita memiliki banyak sekali ulama perempuan yang hebat-hebat. | Suraiya mengetahui tentang [[KUPI]] sejak sebelum penyelenggarannya pada bulan April 2017. Ia sering berkomunikasi untuk membantu Tim KUPI mengidentifikasi nama-nama [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] dari Aceh yang mungkin bisa diundang. Selain itu, ia bersama Kiai [[Faqihuddin Abdul Kodir]] melobi The Asia Foundation untuk memfasilitasi kedatangan mereka. Dalam kesempatan tersebut, Suraiya juga menulis tentang satu ulama, yakni Umi Hanisah, dan dimuat di dalam salah satu buku yang diluncurkan oleh KUPI. Suraiya ikut menghadiri KUPI, yaitu pada sesi Seminar Internasional pada hari pertama. Suraiya merasa terharu. Menurutnya, KUPI merupakan satu bentuk pengakuan terhadap ulama perempuan, semacam merayakan bahwa kita memiliki banyak sekali ulama perempuan yang hebat-hebat. | ||
== Riwayat Hidup == | == Riwayat Hidup == | ||