Lompat ke isi

2025 Reconstruction of Nusyuz in the Compilation of Islamic Law from the Perspectives of Qira'ah Mubadalah and Rawls’s Theory of Justice: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|image=Berkas:Jurnal Syakhshiyyah vol5 n2.jpg|italic title=Tinjauan Qira'ah Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir Dan Maqashid Syariah Dalam Pemenuhan Hak Anak Pasca Perceraian|isbn=2986-5409|pub_date=2026-01-04|series=Vol. 5 No. 2 (2025)|author=*Dede Al Mustaqim (Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon) *Nazula Alfirahmah (Universitas Al-Azhar Cairo)|title_orig=Tinjauan Qira'ah Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir Dan Maqashid Syariah Dalam Pem...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|image=Berkas:Jurnal Syakhshiyyah vol5 n2.jpg|italic title=Tinjauan Qira'ah Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir Dan Maqashid Syariah Dalam Pemenuhan Hak Anak Pasca Perceraian|isbn=2986-5409|pub_date=2026-01-04|series=Vol. 5 No. 2 (2025)|author=*Dede Al Mustaqim (Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon)
{{Infobox book|image=Berkas:Journal Al Qadha vol12 no1.png|italic title=Reconstruction of Nusyuz in the Compilation of Islamic Law from the Perspectives of Qira'ah Mubadalah and Rawls’s Theory of Justice|isbn=2581-0103|pub_date=2025-08-20|series=Vol. 12 No. 2 (2025)|author=*Achmad Kadarisman (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia)
*Nazula Alfirahmah (Universitas Al-Azhar Cairo)|title_orig=Tinjauan Qira'ah Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir Dan Maqashid Syariah Dalam Pemenuhan Hak Anak Pasca Perceraian|name=|notes=[https://e-journal.metrouniv.ac.id/syakhsiyah/article/view/10616 Download PDF]|image_caption=[https://e-journal.metrouniv.ac.id/syakhsiyah/article/view/10616 Syakhshiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam]}}
*Saifullah Saifullah (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia)
*Erfaniah Zuhriah (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia)
*Abd Rouf (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia)
*Abdul Hakim (Universiti of Malaya, Malaysia)|title_orig=Reconstruction of Nusyuz in the Compilation of Islamic Law from the Perspectives of Qira'ah Mubadalah and Rawls’s Theory of Justice|name=|notes=[https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/qadha/article/view/11356 Download PDF]|image_caption=[https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/qadha/article/view/11356 Al-Qadha: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-Undangan]}}
'''<u>Informasi Artikel Jurnal:</u>'''
'''<u>Informasi Artikel Jurnal:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://e-journal.metrouniv.ac.id/syakhsiyah/article/view/10616 Syakhshiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam]
|[https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/qadha/article/view/11356 Al-Qadha: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-Undangan]
|-
|-
|Seri
|Seri
|:
|:
|Vol. 5 No. 2 (2025)
|Vol. 12 No. 2 (2025)
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Dede Al Mustaqim, Nazula Alfirahmah
|Achmad Kadarisman, Saifullah Saifullah, Erfaniah Zuhriah,
|-
|
|
|Abd Rouf, Abdul Hakim
|-
|-
|DOI
|DOI
|:
|:
|https://doi.org/10.32332/ek0nhr69
|https://doi.org/10.32505/qadha.v12i2.11356
|}
|}
'''Abstrak'''
'''''Abstract'''''
 
''The Compilation of Islamic Law in Indonesia gives the impression of marginalizing wives and does not regulate the possibility of nusyuz committed by husbands. The existing nusyuz norms in Indonesia still reflect gender dominance, which is contrary to the principles of justice and equality increasingly emphasized in modern society. This research seeks to address the legal gap by reconstructing the nusyuz norms in Articles 80, 84, and 149 of the Compilation of Islamic Law, drawing on the concept of Qiraah Mubadalah and John Rawls's theory of justice. This study employs legal research using legislative, historical, conceptual, case, and comparative approaches, with qualitative methods for analyzing legal materials. The findings reveal that the current nusyuz norms in the Compilation of Islamic Law still contain patriarchal bias and fail to fully realize the principle of relational justice. From the perspective of Qiraah Mubadalah, both husbands and wives have the potential to commit nusyuz, thus requiring fair legal treatment. The reconstruction of these norms should affirm the importance of reciprocity (mubadalah) in marital relationships, in which husbands and wives are not positioned hierarchically but as equal partners who fairly fulfill each other’s rights and obligations. Meanwhile, Rawls’s theory of justice suggests that legal norms should be drafted without gender bias, ensuring justice for all parties, particularly those in vulnerable positions. Therefore, the reconstructed nusyuz norms must recognize the mutual rights and obligations of both husband and wife in a fair and equal manner.''
 
'''''Keywords:''' Compilation of Islamic Law, Qira'ah Mubadalah, Rawls’s Theory of Justice, Nusyuz Norms''


Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik pemenuhan hak anak pasca perceraian di Desa Kerandon, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, melalui perspektif Qira’ah Mubadalah [[Faqihuddin Abdul Kodir]] dan Maqashid Syariah. Terdapat tiga fokus utama dalam penelitian ini: (1) bagaimana praktik pemenuhan hak anak pasca perceraian di tingkat lokal, (2) bagaimana nilai-nilai kesalingan (mubadalah) diterapkan dalam relasi orang tua pasca perceraian, dan (3) bagaimana prinsip-prinsip maqashid syariah direfleksikan dalam pemenuhan hak-hak anak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan normatif-sosiologis. Data diperoleh melalui wawancara dengan lima keluarga yang telah bercerai dan memiliki anak, observasi, serta studi dokumen. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang mencakup tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pemenuhan hak anak pascaperceraian sangat dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, dan kualitas hubungan antara kedua orang tua. Dalam beberapa kasus, prinsip Qira’ah [[Mubadalah]] seperti musyawarah dan taradhin dapat diinternalisasi melalui komunikasi yang produktif dan kolaboratif antara orang tua. Namun, terdapat pula situasi yang menunjukkan kegagalan dalam pemenuhan hak anak karena putusnya komunikasi dan abainya salah satu pihak. Dari perspektif maqashid syariah, ditemukan bahwa sebagian keluarga tetap menjaga prinsip perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta anak, meskipun dalam keterbatasan. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan berbasis kesalingan dan perlindungan maqashid dalam merancang kebijakan dan praktik perlindungan anak pasca perceraian.
Kompilasi Hukum Islam di Indonesia memberikan kesan memarginalkan istri dan tidak mengatur kemungkinan terjadinya nusyūzyang dilakukan oleh suami. Norma nusyūzyang ada di Indonesia masih mencerminkan dominasi gender, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan yang semakin ditekankan dalam masyarakat modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan hukum dengan merekonstruksi norma nusyūzdalam Pasal 80, 84, dan 149 Kompilasi Hukum Islam, dengan menggunakan konsep ''Qirāʾah'' ''Mubādalah'' dan teori keadilan John Rawls. Penelitian ini merupakan penelitian hukum yang menggunakan pendekatan legislatif, historis, konseptual, kasus, dan komparatif, dengan metode kualitatif dalam menganalisis bahan hukum. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa norma nusyūzdalam Kompilasi Hukum Islam masih mengandung bias patriarkal dan belum sepenuhnya mewujudkan prinsip keadilan relasional. Dari perspektif Qirāʾah Mubādalah, baik suami maupun istri sama-sama berpotensi melakukan nusyūz, sehingga diperlukan perlakuan hukum yang adil. Rekonstruksi norma tersebut harus menegaskan pentingnya prinsip timbal balik (mubādalah) dalam hubungan perkawinan, di mana suami dan istri tidak diposisikan secara hierarkis, tetapi sebagai mitra yang setara dalam memenuhi hak dan kewajiban secara adil. Sementara itu, teori keadilan Rawls menekankan bahwa norma hukum harus dirumuskan tanpa bias gender, sehingga keadilan dapat terjamin bagi semua pihak, khususnya mereka yang berada dalam posisi rentan. Oleh karena itu, rekonstruksi norma nusyūzharus mengakui hak dan kewajiban timbal balik antara suami dan istri secara adil dan setara.


'''''Kata Kunci:''' Qira’ah Mubadalah, Maqashid Syariah, Hak Anak, Perceraian.''
'''''Kata Kunci:'''Kompilasi Hukum Islam, Qirāʾah Mubādalah, Teori Keadilan John Rawls, Nusyūz''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]

Revisi terkini sejak 6 April 2026 14.43

JudulReconstruction of Nusyuz in the Compilation of Islamic Law from the Perspectives of Qira'ah Mubadalah and Rawls’s Theory of Justice
Penulis
  • Achmad Kadarisman (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia)
  • Saifullah Saifullah (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia)
  • Erfaniah Zuhriah (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia)
  • Abd Rouf (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia)
  • Abdul Hakim (Universiti of Malaya, Malaysia)
SeriVol. 12 No. 2 (2025)
Tahun terbit
2025-08-20
ISBN2581-0103
Download PDF

Informasi Artikel Jurnal:

Sumber : Al-Qadha: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-Undangan
Seri : Vol. 12 No. 2 (2025)
Penulis : Achmad Kadarisman, Saifullah Saifullah, Erfaniah Zuhriah,
Abd Rouf, Abdul Hakim
DOI : https://doi.org/10.32505/qadha.v12i2.11356

Abstract

The Compilation of Islamic Law in Indonesia gives the impression of marginalizing wives and does not regulate the possibility of nusyuz committed by husbands. The existing nusyuz norms in Indonesia still reflect gender dominance, which is contrary to the principles of justice and equality increasingly emphasized in modern society. This research seeks to address the legal gap by reconstructing the nusyuz norms in Articles 80, 84, and 149 of the Compilation of Islamic Law, drawing on the concept of Qiraah Mubadalah and John Rawls's theory of justice. This study employs legal research using legislative, historical, conceptual, case, and comparative approaches, with qualitative methods for analyzing legal materials. The findings reveal that the current nusyuz norms in the Compilation of Islamic Law still contain patriarchal bias and fail to fully realize the principle of relational justice. From the perspective of Qiraah Mubadalah, both husbands and wives have the potential to commit nusyuz, thus requiring fair legal treatment. The reconstruction of these norms should affirm the importance of reciprocity (mubadalah) in marital relationships, in which husbands and wives are not positioned hierarchically but as equal partners who fairly fulfill each other’s rights and obligations. Meanwhile, Rawls’s theory of justice suggests that legal norms should be drafted without gender bias, ensuring justice for all parties, particularly those in vulnerable positions. Therefore, the reconstructed nusyuz norms must recognize the mutual rights and obligations of both husband and wife in a fair and equal manner.

Keywords: Compilation of Islamic Law, Qira'ah Mubadalah, Rawls’s Theory of Justice, Nusyuz Norms

Kompilasi Hukum Islam di Indonesia memberikan kesan memarginalkan istri dan tidak mengatur kemungkinan terjadinya nusyūzyang dilakukan oleh suami. Norma nusyūzyang ada di Indonesia masih mencerminkan dominasi gender, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan yang semakin ditekankan dalam masyarakat modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan hukum dengan merekonstruksi norma nusyūzdalam Pasal 80, 84, dan 149 Kompilasi Hukum Islam, dengan menggunakan konsep Qirāʾah Mubādalah dan teori keadilan John Rawls. Penelitian ini merupakan penelitian hukum yang menggunakan pendekatan legislatif, historis, konseptual, kasus, dan komparatif, dengan metode kualitatif dalam menganalisis bahan hukum. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa norma nusyūzdalam Kompilasi Hukum Islam masih mengandung bias patriarkal dan belum sepenuhnya mewujudkan prinsip keadilan relasional. Dari perspektif Qirāʾah Mubādalah, baik suami maupun istri sama-sama berpotensi melakukan nusyūz, sehingga diperlukan perlakuan hukum yang adil. Rekonstruksi norma tersebut harus menegaskan pentingnya prinsip timbal balik (mubādalah) dalam hubungan perkawinan, di mana suami dan istri tidak diposisikan secara hierarkis, tetapi sebagai mitra yang setara dalam memenuhi hak dan kewajiban secara adil. Sementara itu, teori keadilan Rawls menekankan bahwa norma hukum harus dirumuskan tanpa bias gender, sehingga keadilan dapat terjamin bagi semua pihak, khususnya mereka yang berada dalam posisi rentan. Oleh karena itu, rekonstruksi norma nusyūzharus mengakui hak dan kewajiban timbal balik antara suami dan istri secara adil dan setara.

Kata Kunci:Kompilasi Hukum Islam, Qirāʾah Mubādalah, Teori Keadilan John Rawls, Nusyūz