Inggris Akui Ulama Perempuan Indonesia Berperan dalam Perdamaian: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 21: | Baris 21: | ||
Hal itu terungkap dalam Seminar RISING Women Ulama: Women Leadership for Peace, Prosperity and Pluralism` yang digelar Centre for Trust Peace and Social Relations (CTPSR), Universitas Coventry bertempat di Gedung Parlemen Inggris/House of Lords, London, Kamis. | Hal itu terungkap dalam Seminar RISING Women Ulama: Women Leadership for Peace, Prosperity and Pluralism` yang digelar Centre for Trust Peace and Social Relations (CTPSR), Universitas Coventry bertempat di Gedung Parlemen Inggris/House of Lords, London, Kamis. | ||
[[Kategori:Berita KUPI]] | [[Kategori:Berita KUPI]] | ||
[[Kategori:Berita | [[Kategori:Berita 2018]] | ||
Revisi terkini sejak 8 April 2026 23.54
Informasi Artikel Berita:
| Sumber Original | : | Antara |
| Penulis | : | Editor: Suryanto |
| Tanggal Terbit | : | Jumat, 23 Maret 2018 04:25 WIB |
| Artikel Lengkap | : | Inggris Akui Ulama Perempuan Indonesia Berperan dalam Perdamaian |
London (ANTARA News) - Inggris mengakui ulama perempuan Indonesia memainkan peranan kunci dalam membangun perdamaian dan kesejahteraan masyarakat, bahkan dalam sejarahnya mereka juga berkontribusi penting dalam memimpin perjuangan melawan penjajah maupun memimpin kerajaan Islam di Nusantara.
Hal itu terungkap dalam Seminar RISING Women Ulama: Women Leadership for Peace, Prosperity and Pluralism` yang digelar Centre for Trust Peace and Social Relations (CTPSR), Universitas Coventry bertempat di Gedung Parlemen Inggris/House of Lords, London, Kamis.