Lompat ke isi

Hal yang Tak Tergantikan oleh Uang: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''<u>Informasi Artikel Berita:</u>''' {| |Sumber Original |: |[https://www.tribunnews.com/tribunners/2020/06/09/nyai-badriyah-fayumi-ulama-feminis-fenomenal-nu-masa-kini TribunNews] |- |Penulis |: |KH. Imam Jazuli, Lc., M.A |- |Tanggal Tayang |: |Selasa, 9 Juni 2020 07:15 WIB |} {| |Artikel Lengkap: '''''[https://www.tribunnews.com/tribunners/2020/06/09/nyai-badriyah-fayumi-ulama-feminis-fenomenal-nu-masa-kini Nyai Badriyah Fayumi, Ulama Feminis Fenomenal NU Mas...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://www.tribunnews.com/tribunners/2020/06/09/nyai-badriyah-fayumi-ulama-feminis-fenomenal-nu-masa-kini TribunNews]
|[https://aceh.tribunnews.com/2023/08/13/hal-yang-tak-tergantikan-oleh-uang SerambiNews]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|KH. Imam Jazuli, Lc., M.A
|Editor: '''Mufti'''
|-
|-
|Tanggal Tayang
|Tanggal Tayang
|:
|:
|Selasa, 9 Juni 2020 07:15 WIB
|Minggu, 13 Agustus 2023 10:23 WIB
|}
|}
{|
{|
|Artikel Lengkap: '''''[https://www.tribunnews.com/tribunners/2020/06/09/nyai-badriyah-fayumi-ulama-feminis-fenomenal-nu-masa-kini Nyai Badriyah Fayumi, Ulama Feminis Fenomenal NU Masa Kini]'''''
|Artikel Lengkap: '''''[https://aceh.tribunnews.com/2023/08/13/hal-yang-tak-tergantikan-oleh-uang Hal yang Tak Tergantikan oleh Uang]'''''
|}
|}
Dialah Dra. Hj. Badriyah Fayumi, Lc., M.A., seorang Azhariyyin kelahiran Pati, 5 Agustus 1971. Dia pula yang menggawangi Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), suatu perkumpulan kaum perempuan akademisi dan aktivis. Sebagai politisi, perjuangan menyuarakan ide-ide kesetaraan gender telah dia gaungkan melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
'''AYU ‘ULYA''', Koordinator Perempuan Peduli Leuser, Anggota FAMe, dan Peserta Kongres Ulama Perempuan (KUPI) II, melaporkan dari Aceh Barat


Sebagai seorang pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an Wal Hadist, Badriyah Fayumi menerjemahkan feminisme Barat ke dalam konteks yang sesuai dengan masyarakat dan tradisi muslim Nusantara. Ia mengatakan, “ulama perempuan memiliki peran yang sama dengan ulama laki-laki dalam memperkuat Islam washathiyah (moderat) di Nusantara ini,” (Lokadata, 2017).
“'''Pesan nenek''', ‘Orang yang dekat dengan Allah maka akan dekat juga dengan hewan ciptaan Allah.’ Nyatanya hewan juga mengetahui apa yang kita lakukan, perbuatan baik maupun jahat,” jelas Tgk Hj Rahimun Sag, mewakili Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang hadir sebagai pemateri FGD Teungku Inong yang digelar di Aceh Barat pada 28 Juli 2023.


Melalui bukunya “Halaqah Islam: Mengaji Perempuan, HAM, dan Demokrasi (2004),” Badriyah Fayumi tampak mencarikan panggung bagi kaum perempuan Indonesia, agar turut serta bersama laki-laki memperjuangkan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi. Kaum perempuan harus segera naik ke pentas publik membawa gagasan orisinil mereka. Di mata publik, ia tampak berjuang keras mencarikan panggung bagi suara perempuan (Kompas, 2017).
Teungku Inong merupakan sebutan yang disematkan kepada para perempuan ulama di Provinsi Aceh. Umumnya mereka memimpin pesantren tradisional (dayah), mengajar Al-Qur'an dan hadis, juga penceramah, dan biasanya memiliki sejumlah jamaah.
[[Kategori:Berita KUPI]]
[[Kategori:Berita KUPI]]
[[Kategori:Berita 2023]]
[[Kategori:Berita 2023]]

Revisi terkini sejak 9 April 2026 14.12

Informasi Artikel Berita:

Sumber Original : SerambiNews
Penulis : Editor: Mufti
Tanggal Tayang : Minggu, 13 Agustus 2023 10:23 WIB
Artikel Lengkap: Hal yang Tak Tergantikan oleh Uang

AYU ‘ULYA, Koordinator Perempuan Peduli Leuser, Anggota FAMe, dan Peserta Kongres Ulama Perempuan (KUPI) II, melaporkan dari Aceh Barat

Pesan nenek, ‘Orang yang dekat dengan Allah maka akan dekat juga dengan hewan ciptaan Allah.’ Nyatanya hewan juga mengetahui apa yang kita lakukan, perbuatan baik maupun jahat,” jelas Tgk Hj Rahimun Sag, mewakili Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang hadir sebagai pemateri FGD Teungku Inong yang digelar di Aceh Barat pada 28 Juli 2023.

Teungku Inong merupakan sebutan yang disematkan kepada para perempuan ulama di Provinsi Aceh. Umumnya mereka memimpin pesantren tradisional (dayah), mengajar Al-Qur'an dan hadis, juga penceramah, dan biasanya memiliki sejumlah jamaah.