Lompat ke isi

Dinamika Demokrasi Kongres II FORMASI Disabilitas: M. Ismail Terpilih Sebagai Nahkoda Baru Periode 2025-2028: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''<u>Informasi Artikel:</u>''' {| |Sumber Original |: |[https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilitas-dari-seluruh-indonesia-ikuti-sekolah-perempuan-disabilitas-tahap-pertama-yang-diselenggarakan-oleh-sapda-dengan-dukungan-women/ SAPDA] |- |Tanggal Terbit |: |2025 |- |Penulis |: |Media SAPDA |} {| |Artikel Lengkap: [https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilita...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilitas-dari-seluruh-indonesia-ikuti-sekolah-perempuan-disabilitas-tahap-pertama-yang-diselenggarakan-oleh-sapda-dengan-dukungan-women/ SAPDA]
|[https://formasidisabilitas.id/2025/12/dinamika-demokrasi-kongres-ii-formasi-disabilitas-m-ismail-terpilih-sebagai-nahkoda-baru-periode-2025-2028/ Formasi Disabilitas]
|-
|-
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|2025
|17 Des 2025
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Media SAPDA
| -
|}
|}
{|
{|
|Artikel Lengkap: [https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilitas-dari-seluruh-indonesia-ikuti-sekolah-perempuan-disabilitas-tahap-pertama-yang-diselenggarakan-oleh-sapda-dengan-dukungan-women/ Perempuan Disabilitas Bergerak: 20 Perempuan Penyandang Disabilitas dari Seluruh Indonesia Ikuti Sekolah Perempuan Disabilitas Tahap Pertama yang Diselenggarakan oleh SAPDA dengan dukungan Women’s Fund Asia (WFA)]
|Artikel Lengkap: [https://formasidisabilitas.id/2025/12/dinamika-demokrasi-kongres-ii-formasi-disabilitas-m-ismail-terpilih-sebagai-nahkoda-baru-periode-2025-2028/ Dinamika Demokrasi Kongres II FORMASI Disabilitas: M. Ismail Terpilih Sebagai Nahkoda Baru Periode 2025-2028]
|}
|}
Bagi perempuan disabilitas, kesetaraan adalah perjuangan panjang yang saat ini belum sepenuhnya tercapai. Perempuan disabilitas tidak hanya menghadapi berbagai masalah ketimpangan dalam kondisi masyarakat patriarki, tetapi juga harus berjuang agar suara mereka didengar dalam gerakan perempuan secara umum. Dalam hal ini, stigma masih kuat melekat terhadap perempuan penyandang disabilitas, di mana masyarakat dengan pandangan ableism kerap memandang mereka sebagai sosok lemah, tergantung, dan tidak memiliki peran yang berarti dalam masyarakat.
Yogyakarta – Forum Masyarakat Pemantau untuk Indonesia Inklusif Disabilitas (FORMASI Disabilitas) sukses menggelar perhelatan akbarnya, Kongres Nasional ke-2, yang berlangsung penuh khidmat dan dinamis di Pusat Rehabilitasi Yakkum (PR Yakkum), Yogyakarta, pada tanggal 16 Desember 2025.


Kondisi ini juga diperparah dengan adanya hambatan struktural dan kultural, hambatan tersebut menghalangi perempuan disabilitas dalam menikmati hak-hak dasarnya. Perempuan disabilitas mengalami kesulitan dalam mendapatkan pendidikan yang layak, layanan kesehatan yang memadai, aksesibilitas dan akomodasi yang sesuai, kesempatan kerja dengan upah yang setara, serta hak-hak sebagai perempuan dan warga negara menjadi tantangan utama yang dihadapi. Kerentanan ini pun semakin kompleks ketika dipengaruhi oleh ragam disabilitas yang dimiliki, tempat tinggal, serta bagaimana keluarga dan masyarakat mempersepsikan mereka.
Perhelatan ini menjadi momentum strategis bagi gerakan disabilitas di Indonesia, mempertemukan gagasan dan semangat dari berbagai penjuru nusantara.
 
Konsolidasi Nasional dan Energi Baru
 
Kongres kali ini mencatatkan partisipasi yang luar biasa dengan kehadiran perwakilan Koordinator Wilayah (Korwil) dan anggotanya dari berbagai provinsi di Indonesia yang diikutsertakan secara hybrid. Kehadiran para delegasi ini menegaskan soliditas jaringan FORMASI Disabilitas dalam mengawal isu-isu inklusi di tingkat nasional maupun daerah.
 
Selain memperkuat jejaring lama, Kongres II ini juga menyuntikkan energi baru ke dalam tubuh organisasi melalui pengukuhan 31 anggota baru yang berasal dari berbagai provinsi. Bertambahnya anggota ini diharapkan dapat memperluas jangkauan advokasi pemantauan dan memperkaya perspektif dalam perjuangan hak-hak penyandang disabilitas.
 
Agenda kongres tidak hanya sebatas seremonial, melainkan diisi dengan pembahasan substansial melalui sidang-sidang komisi yang intensif. Terdapat tiga komisi utama yang bekerja merumuskan arah gerak organisasi:
[[Kategori:Informasi dan Opini Kupibilitas]]
[[Kategori:Informasi dan Opini Kupibilitas]]
[[Kategori:Berita Kupibilitas]]
[[Kategori:Berita Kupibilitas]]

Revisi terkini sejak 11 April 2026 01.44

Informasi Artikel:

Sumber Original : Formasi Disabilitas
Tanggal Terbit : 17 Des 2025
Penulis : -
Artikel Lengkap: Dinamika Demokrasi Kongres II FORMASI Disabilitas: M. Ismail Terpilih Sebagai Nahkoda Baru Periode 2025-2028

Yogyakarta – Forum Masyarakat Pemantau untuk Indonesia Inklusif Disabilitas (FORMASI Disabilitas) sukses menggelar perhelatan akbarnya, Kongres Nasional ke-2, yang berlangsung penuh khidmat dan dinamis di Pusat Rehabilitasi Yakkum (PR Yakkum), Yogyakarta, pada tanggal 16 Desember 2025.

Perhelatan ini menjadi momentum strategis bagi gerakan disabilitas di Indonesia, mempertemukan gagasan dan semangat dari berbagai penjuru nusantara.

Konsolidasi Nasional dan Energi Baru

Kongres kali ini mencatatkan partisipasi yang luar biasa dengan kehadiran perwakilan Koordinator Wilayah (Korwil) dan anggotanya dari berbagai provinsi di Indonesia yang diikutsertakan secara hybrid. Kehadiran para delegasi ini menegaskan soliditas jaringan FORMASI Disabilitas dalam mengawal isu-isu inklusi di tingkat nasional maupun daerah.

Selain memperkuat jejaring lama, Kongres II ini juga menyuntikkan energi baru ke dalam tubuh organisasi melalui pengukuhan 31 anggota baru yang berasal dari berbagai provinsi. Bertambahnya anggota ini diharapkan dapat memperluas jangkauan advokasi pemantauan dan memperkaya perspektif dalam perjuangan hak-hak penyandang disabilitas.

Agenda kongres tidak hanya sebatas seremonial, melainkan diisi dengan pembahasan substansial melalui sidang-sidang komisi yang intensif. Terdapat tiga komisi utama yang bekerja merumuskan arah gerak organisasi: