Lompat ke isi

Solider Inklusi: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi ''''<u>Informasi Artikel:</u>''' {| |Sumber Original |: |[https://sigab.org/good/ Sigab.org] |- |Tanggal Terbit |: |2025 |- |Penulis |: | |- |Artikel Lengkap |: |[https://sigab.org/good/ Program Good SIGAB] |} Persoalan mendasar gerakan difabel, yakni hadirnya ketimpangan kesempatan Organisasi Difabel untuk terlibat aktif dan berkontribusi di dalam gerakan. Situasi ini telah mendorong berbagai pihak untuk turut mengupayakan penguatan kapasitas kelembagaan maupun i...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://sigab.org/good/ Sigab.org]
|[https://sigab.org/solider/ Sigab.org]
|-
|-
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|2025
| -
|-
|-
|Penulis
|Penulis
Baris 15: Baris 15:
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://sigab.org/good/ Program Good SIGAB]
|[https://sigab.org/solider/ Solider Inklusi]
|}
|}
Persoalan mendasar gerakan difabel, yakni hadirnya ketimpangan kesempatan Organisasi Difabel untuk terlibat aktif dan berkontribusi di dalam gerakan. Situasi ini telah mendorong berbagai pihak untuk turut mengupayakan penguatan kapasitas kelembagaan maupun individu-individu penggerak Organisasi Difabel di Indonesia. Adapun ketimpangan yang dimaksud meliputi aspek-aspek sebagai berikut:  '''''Pertama''''', aspek geografis. Disparitas kapasitas Organisasi Difabel, dimana di kantong-kantong perkotaan jauh lebih berkembang jika dibandingkan wilayah pedesaan. Pada konteks yang lebih luas, Organisasi Difabel di Pulau Jawa, khususnya di Jakarta dan sekitarnya, tumbuh lebih maju dibandingkan Organisasi Difabel di luar Pulau Jawa. Ketimpangan akses sumberdaya, informasi yang terbatas, masih minimnya akses layanan dasar serta sarana pendukung lainnya yang belum memadai, telah mengantarkan gerakan difabel di luar Jawa pada situasi sulit untuk bertumbuh. Kalaupun organisasi itu ada, jumlahnya terbatas dan kerap mengalami kesulitan mempertahankan eksistensinya. '''''Kedua''''', pada aspek gender, peran perempuan difabel dalam gerakan difabel masih jauh untuk bisa dikatakan setara. Di konteks masyarakat patriarkis, eksistensi perempuan, khususnya perempuan dengan difabilitas kerap terhambat pada ragam aspek sehingga secara sosial lebih memarjinalkan posisi perempuan. Meminjam pendekatan interseksionalitas untuk melihat lebih dalam gerakan difabel, struktur sosial yang ada saat ini tidak hanya mendiskriminasi perempuan secara struktural dan budaya, tetap lebih jauh melepaskan peran-peran strategis perempuan difabilitas dari gerakan difabel. '''''Ketiga''''', akses pengetahuan. Organisasi Difabel yang memiliki akses lebih luas akan lebih berkembang dibandingkan Organisasi Difabel yang kurang memiliki akses terhadap sumber-sumber pengetahuan. Umumnya, akses pada sumber-sumber pengetahuan di antara Organisasi Difabel dapat terbangun ketika sudah terjalin jaringan gerakan yang kuat secara intensif. Melalui jaringan yang terjalin, organisasi-organisasi difabel yang lebih berdaya dapat membuka akses dan membagikan pembelajaran atas kemajuan yang telah mereka capai kepada organisasi-organisasi difabel yang baru bertumbuh ataupun yang sedang berkembang untuk lebih berdaya melalui pendampingan jangka panjang.
Program '''SOLIDER''' (''Strengthening Social Inclusion for Diffability Equity and Rights'' – Memperkuat Inklusi Sosial untuk Kesetaraan dan Hak-hak Difabel/Penyandang Disabilitas) adalah program yang didesain untuk mendorong dan meningkatkan pemenuhan hak difabel dan kelompok marjinal (paling terpinggirkan) lainnya di Indonesia yang belum terlayani oleh layanan pemerintah dan pelindungan sosial. Program ini didukung oleh INKLUSI (Program kemitraan Pemerintah lndonesia dan Pemerintah Australia untuk mewujudkan masyarakat inklusif), yang direncanakan diimplementasi di tahun 2O2O-2O28 dengan cita-cita berkontribusi pada kesejahteraan lndonesia dengan mendukung tujuan pembangunan sehingga lebih banyak orang yang termarjinalkan berpartisipasi dan mendapat manfaat dari pembangunan sosial, budaya, ekonomi, dan politik sehingga tidak ada satupun yang tertinggal. Sebagai bagian dari program INKLUSI, program SOLIDER mempunyai relevansi yang kuat dengan berbagai prioritas awal INKLUSI, RPJMN, maupun SDGs.
 
Program SOLIDER – INKLUSI memiliki empat strategi kunci yaitu:
[[Kategori:Inspirasi Advokasi]]
[[Kategori:Inspirasi Advokasi]]