Lompat ke isi

2026 From Hierarchy To Reciprocity: Re-Envisioning Teacher-Student Relations In Islamic Education Through Qira’ah Mubadalah: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|image=Berkas:Jurnal Syakhshiyyah vol5 n2.jpg|italic title=From Hierarchy To Reciprocity: Re-Envisioning Teacher-Student Relations In Islamic Education Through Qira’ah Mubadalah|isbn=2655-6634|pub_date=2026-03-10|series=Vol. 6 No. 1 (2026)|author=*Mahmud Yunus Mustofa (Sekolah Tinggi Islam Kendal)
{{Infobox book|image=Berkas:Istifkar.jpg|italic title=From Hierarchy To Reciprocity: Re-Envisioning Teacher-Student Relations In Islamic Education Through Qira’ah Mubadalah|isbn=2655-6634|pub_date=2026-03-10|series=Vol. 6 No. 1 (2026)|author=*Mahmud Yunus Mustofa (Sekolah Tinggi Islam Kendal)
*Muh Syauqi Malik (Universitas Negeri Surabaya, Indonesia)
*Muh Syauqi Malik (Universitas Negeri Surabaya, Indonesia)
*Mikke Novia Indriani (Universitas Islam Negeri KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan)
*Mikke Novia Indriani (Universitas Islam Negeri KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan)

Revisi per 14 April 2026 09.29

JudulFrom Hierarchy To Reciprocity: Re-Envisioning Teacher-Student Relations In Islamic Education Through Qira’ah Mubadalah
Penulis
  • Mahmud Yunus Mustofa (Sekolah Tinggi Islam Kendal)
  • Muh Syauqi Malik (Universitas Negeri Surabaya, Indonesia)
  • Mikke Novia Indriani (Universitas Islam Negeri KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan)
  • Makmur Sofyan Mustofa (Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)
SeriVol. 6 No. 1 (2026)
Tahun terbit
2026-03-10
ISBN2655-6634
Download PDF

Informasi Artikel Jurnal:

Sumber : Istifkar: Media Transformasi Pendidikan
Seri : Vol. 6 No. 1 (2026)
Penulis : Mahmud Yunus Mustofa, Muh Syauqi Malik
Mikke Novia Indriani, Makmur Sofyan Mustofa
DOI : https://doi.org/10.62509/ji.v6i1.382
PDF : Download PDF

Abstrak

Hubungan antara guru dan murid dalam tradisipendidikan Islam sering kali dicirikan sebagaihubungan hierarki vertikal searah di mana murid hanya menjadi penerima ilmu yang pasif. Ketimpangan relasi kuasa ini sering kali memicu stagnasi pedagogis dan dalam kasus ekstrem bahkan dapat bermanifestasi menjadi tindakan kekerasan atau keterputusan emosional. Studi ini mengusulkan adanya pergeseran paradigma dengan mengonsep ulang dinamika relasi guru-murid melalui lensa Mubadalah(Kesalingan). Paper ini merupakan penelitiankualitatif yang berfokus pada analisis hermeneutikauntuk mendekonstruksi hubungan konvensional "subjek-objek" dan menggantinya dengan kemitraan "subjek-subjek" berdasarkan prinsip Mubadalah. Analisis ini menerapkan kerangka kerja tiga langkah Mubadalah: Pertma, mengidentifikasi prinsip-prinsip universal Islam tentang keadilan; Kedua, mengekstraksi nilai-nilai pedagogis inti dari teks-teks keagamaan; Ketiga mendistribusikan nilai-nilai tersebut secara timbal balik baik kepada guru maupun murid. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan Mubadalahdalam relasi guru-murid mentransformasi ruang kelas menjadi ruang martabat bersama di mana kedua belah pihak menjadi partisipan aktif dalam perjalanan spiritual dan intelektual. Model kesalingan ini tidak mengurangi peran guru, melainkan membingkai ulang posisinya dari otoritas mutlak menjadimentordan fasilitatoryang penuh kasih (rahmah). Pada akhirnya, penelitian ini berkontribusi pada diskursus reformasi pendidikan Islam dengan menyediakan basis teologis dan metodologis untuk menciptakan lingkungan belajar yang non-kekerasan, egaliter, dan harmonis yang sesuai dengan tantangan abad ke-21.

Kata Kunci: Pendidikan Islam, Qira’ah Mubadalah, Relasi Guru-Murid, Kesalingan, Faqihuddin Abdul Kodir

Abstract: Teacher-student relationships within the Islamic educational tradition are frequently characterized by a unidirectional, vertical hierarchy in which the student is relegated to a passive recipient of knowledge. This power imbalance often triggers pedagogical stagnation and, in extreme cases, manifests as physical violence or emotional detachment. This study proposes a paradigm shift by re-envisioning the dynamics of teacher-student relations through the lens of Mubādalah (Reciprocity). Employing a qualitative approach grounded in hermeneutic analysis, this paper deconstructs the conventional "subject-object" dichotomy and replaces it with a "subject-to-subject" partnership grounded in Mubādalah principles. The analysis applies a three-step Mubādalah framework: first, identifying universal Islamic principles of justice; second, extracting core pedagogical values from religious texts; and third, reciprocally distributing these values to both teachers and students. The findings demonstrate that applying Mubādalah to teacher-student relations transforms the classroom into a space of mutual dignity, where both parties become active participants in a shared spiritual and intellectual journey. This reciprocal model does not diminish the teacher's role but reframes their position from an absolute authority to a mentor and facilitator grounded in compassion (raḥmah). Ultimately, this research contributes to the discourse on Islamic educational reform by providing a theological and methodological foundation for creating non-violent, egalitarian, and harmonious learning environments suited to the challenges of the 21st century.

Keywords: Islamic Education, Qira’ah Mubādalah, Teacher-Student Relations, Reciprocity, Faqihuddin Abdul Kodir