Difabel News Edisi 04; Difabel Day: Halangan Bukan Hambatan untuk Berkarya: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 14: | Baris 14: | ||
|Th. X Januari 2010 Edisi 4 | |Th. X Januari 2010 Edisi 4 | ||
|} | |} | ||
SOLO- Seorang atlet difabel, M Sabar, bakal memanjat bangunan setinggi 25 lantai dalam rangka memperingati Hari Penyandang Cacat Sedunia, Kamis (3/12). Lelaki berusia 41 tahun tersebut berencana menggunakan teknik jumaring atau memanjat seutas tali vertikal guna mencapai tingkat 25 apartemen Solo Paragon, yang bangunannya masih dalam proses penyelesaian. ”Saya ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa penyandang cacat pun mampu menaklukkan gedung bertingkat yang tingginya sekitar 96 meter,” kata Sabar, kemarin. Berbagai persiapan telah dilakukan peraih medali emas nomor lead khusus difabel dalam kejuaraan panjat tebing Asian Championship 2008 di Chuncheoen, Korea itu. Di antaranya izin dari pihak-pihak terkait, termasuk pengelola Solo Paragon. Dia juga melakukan orientasi medan, karakteristik bangunan, serta bidang sisi mana yang akan digunakan untuk menunjukkan kemampuannya itu. | |||
”Saya sudah menyiapkan dua utas tali, masing-masing panjangnya sekitar 125 meter. Seutas untuk media jumaring, satu lainnya untuk pengamanan tubuh saat memanjat,” tutur dia. Lirik Monas. Begitu sampai di tempat tertinggi rencananya ”spiderman” kelahiran Solo, 9 September 1968 itu akan memotong balon dan membuka banner bertema peringatan Hari Penyandang Cacat Sedunia. Selanjutnya, dia kembali turun menggunakan tali dengan teknik raplyng. Sebenarnya, warga kampung Gendingan RT 3 RW 16 Kelurahan/Kecamatan Jebres Solo tersebut pernah melirik Monas di Jakarta untuk media unjuk gigi, saat idenya tercetus pertengahan November lalu. Namun mengingat sempitnya waktu, padahal dia sama sekali belum mengajukan perizinan, rencana itu dialihkan ke Solo Paragon. ”Setahu saya, bangunan apartemen tersebut merupakan yang tertinggi di Solo saat ini,” katanya. | |||
Dia mengalami kecacatan seumur hidup pada kakinya sejak 1989. Ketika itu, dia terjatuh dari kereta api dan kaki kanannya terlindas roda. Namun semangat diri yang tinggi, mendorong ayah Novalia Eka Sadriani (8) tersebut tidak merasa minder. Keterbatasan justru memacunya guna menunjukkan eksistensi diri. Dia pun bergabung latihan panjat tebing bersama para mahasiswa di kompleks Kampus UNS Kentingan sejak 1995. Atas kemampuannya itu, dia sering menerima tawaran pekerjaan membersihkan jendela atau mengecat gedung-gedung bertingkat, termasuk Bale Tawangpraja kompleks Balai Kota Surakarta setinggi enam lantai. '''(D11-60) Suara''' '''Merdeka 01 Desember 2009''' | |||
[[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]] | [[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]] | ||
[[Kategori:Majalah, Buletin dan Sumplemen Kupibilitas]] | [[Kategori:Majalah, Buletin dan Sumplemen Kupibilitas]] | ||
[[Kategori:Buletin Kupibilitas]] | [[Kategori:Buletin Kupibilitas]] | ||
[[Kategori:Difabel News]] | [[Kategori:Difabel News]] | ||