Lompat ke isi

2025 Relasi Suami Isteri Dalam Perkawinan Poligami Sirri Di Kecamatan Seputih Banyak: Analisis Qira'ah Mubadalah: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Reformulating the Concept of Nusyuz in Malaysian Islamic Family Law: A Mubadalah-Based Gender Justice Analysis in Malaysian Islamic Family Law|author=*Wan Abdul Rahim Bin Wan Abd Aziz (Universitas Sains Islam Malaysia (USIM), Malaysia) *Achmad Faishal (Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia)|title_orig=Reformulating the Concept of Nusyuz in Malaysian Islamic Family Law: A Mubadalah-Based Gender Justice Analysis in Malaysian...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Reformulating the Concept of Nusyuz in Malaysian Islamic Family Law: A Mubadalah-Based Gender Justice Analysis in Malaysian Islamic Family Law|author=*Wan Abdul Rahim Bin Wan Abd Aziz (Universitas Sains Islam Malaysia (USIM), Malaysia)
{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Relasi Suami Isteri Dalam Perkawinan Poligami Sirri Di Kecamatan Seputih Banyak: Analisis Qira'ah Mubadalah|author=*Wan Abdul Rahim Bin Wan Abd Aziz (Universitas Sains Islam Malaysia (USIM), Malaysia)
*Achmad Faishal (Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia)|title_orig=Reformulating the Concept of Nusyuz in Malaysian Islamic Family Law: A Mubadalah-Based Gender Justice Analysis in Malaysian Islamic Family Law|name=|issn=3063-587x|note=[https://journal.brajamustipublication.com/index.php/jim/article/view/167/44 (Download Original)]|pub_date=2025-12-27|series=Vol. 2 No. 2 December (2025)|image=Berkas:Mubadalah vol2 no2.png|image_caption=[https://journal.brajamustipublication.com/index.php/jim/article/view/167 Journal of Islamic Mubadalah]|sumber=[https://journal.brajamustipublication.com/index.php/jim/article/view/167 Journal of Islamic Mubadalah]|doi=[https://doi.org/10.70992/5wj72143 https://doi.org/10.70992/5wj72143]}}'''Abstrak:''' Artikel ini mengkaji ulang  konstruksi nusyuzdalam  Undang-Undang Keluarga Islam Malaysia. Formulasi legal yang berpusat pada ketaatan istri tersebut menimbulkan persoalan serius terkait hierarki gender dan  berdampak langsung pada hak perempuan atas nafkah, perlindungan, martabat, dan akses keadilan. Artikelini bertujuan mengevaluasi bias gender dalam definisi serta penerapan nusyuz, sekaligus menawarkan kerangka alternatif menggunakan  teori hermeneutika mubadalah, yang  menekankan kesalingan, tanggung jawab bersama, dan relasi setara dalam keluarga. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif kualitatif dengan  pendekatan  komparatif terhadap enakmen hukum keluarga Islam  di beberapa negeri di Malaysia, dianalisis berdasarkan teori mubādalah. Kebaruannya terletak pada penerapan mubādalahsebagai kerangka  analisis  untuk  menegaskan  prinsip kesalingan dan  keadilan  dalam  hukum keluarga Islam.Hasilpenelitian menemukan bahwa reduksi nusyuzmenjadi kewajiban unilateral perempuan tidak hanya memperkuat relasi kekuasaan yang timpang, tetapi juga melemahkan perlindungan hukum bagi perempuan dalam kasus konflik domestik. Melalui perspektif mubadalah, artikel ini mengusulkan reformulasi nusyuzsebagai kategori hukum bilateral yang berlandaskan kesalingan moral dan legal.  Rekomendasi meliputi revisi legislasi, perumusan garis panduan yudisial yang lebih setara, serta integrasi asas kesalingan dalam pembaruan hukum keluarga Islam Malaysia.
*Achmad Faishal (Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia)|title_orig=Relasi Suami Isteri Dalam Perkawinan Poligami Sirri Di Kecamatan Seputih Banyak: Analisis Qira'ah Mubadalah|name=|issn=|note=[https://jurnal2.umala.ac.id/index.php/bhsa/article/view/294/112 (Download Original)]|pub_date=2025-12-09|series=Vol. 2 No. 2 (2025)|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|image_caption=[https://jurnal2.umala.ac.id/index.php/bhsa/article/view/294 Berkala Hukum, Sosial dan Agama]|sumber=[https://jurnal2.umala.ac.id/index.php/bhsa/article/view/294 Berkala Hukum, Sosial dan Agama]|doi=}}'''Abstrak:''' Poligami merupakan bentuk perkawinan antara satu laki-laki dengan beberapa perempuan. Dalam praktiknya, poligami sering menimbulkan konflik dan  ketidaksetaraan, terutama jika dilakukan secara sirri tanpa pencatatan resmi. Hal ini kerap dipicu oleh kurangnyakomunikasi antara suami dan istri yang sah secara agama dan hukum. Penelitian ini bertujuan: 1) Mengetahui  bentuk relasi suami istri dalam  perkawinan  poligami sirri di Kecamatan Seputih Banyak, dan 2) Menganalisisnya menggunakan perspektif Qiroah Mubādalah. Metode penelitian yang  digunakan adalah kualitatif dengan  pendekatan  studi kasus melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta analisis data induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi suami istri dalam poligami sirri tidak sesuai dengan prinsip Qiroah Mubādalahyang menekankan kesetaraan dan  keadilan. Implementasi poligami sirri cenderung menimbulkan konflik dan ketimpangan peran gender. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran akan dampak negatif poligami sirri. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan perlindungan hukum bagi perempuan dan anak, serta mendorong strategi intervensi yang efektif dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan psikologi oleh akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan.


'''''Kata Kunci:''' Nusyuz,Mubadalah,Hukum Keluarga Islam,Perempuan, Reformasi Hukum''
'''''Kata Kunci:''' Relasi Suami Isteri, Poligami, Sirri, Qiroah Mubadalah''


'''''Abstract:''' This article reexamines the legal construction of nusyuzwithin Malaysian Islamic Family Law. The formulation that positions obedience as a unilateral obligation of the wife generates serious concerns related to gender hierarchy and directly affects women’s rights to maintenance, protection, dignity, and accessto justice. The study aims to evaluate gender bias in both the legal definition and judicial application of nusyuz, while proposing an alternative framework based on the Mubadalah hermeneutical theory, which emphasizes reciprocity, shared responsibility, and egalitarian family relations.This study employs a qualitative normative legal method with a comparative approach to examine Islamic family law enactments across several states in Malaysia, analyzed through the framework of the theory of mubādalah. The novelty of this research lies in the application of the mubādalah perspective as an analytical framework to articulate principles of reciprocity and justice in Islamic family law.The research results found thatreduction of nusyuzinto a one-sided duty imposed on women not only reinforces unequal power relations but also undermines legal protection for women  in  situations  of  domestic  conflict. Through  the  Mubadalah  perspective, this  article  proposes  the reformulation  of nusyuzas  a bilateral  legal category  grounded  in moral  and legal  reciprocity. Recommendations include legislative revision, the development of more equitable judicial guidelines, and the integration of reciprocal principles into future reforms of Malaysian Islamic family law.''
'''''Abstract:''' Polygamy is a form of marriage between one man and multiple women. In practice, polygamy often leads to conflict and inequality, especially when carried out in secret without official registration. This is often triggered by a lack of communication betweenhusband and wife, both religiously and legally. This study aims to: 1) Determine the form of husband-wife relations in secret polygamous marriages in Seputih Banyak District, and 2) Analyze it using a religious perspective.Qiraah MubādalahThe research method used was qualitative with a case study approach through observation, interviews, and documentation, as well as inductive data analysis. The results showed that the husband-wife relationship in unregistered polygamy does not conform to the principles ofQiraah Mubādalahwhich emphasizes equality and justice. The implementation of unregistered polygamy tends to create conflict and gender inequality. Therefore, increased awareness of the negative impacts of unregistered polygamy is needed. This research is expected to provide a basis for developing legal protection policies for women and children, as well as encourage effective intervention strategies in education, health, economics, and psychology by academics, practitioners, and policymakers.''


'''''Keywords:''' Nusyuz,Mubadalah,Islamic Family Law,Women, Legal Reform.''
'''''Keywords:''' Husband and Wife Relations, Polygamy,Secret, Qiraah Mubadalah''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]

Revisi terkini sejak 21 April 2026 11.18

JudulRelasi Suami Isteri Dalam Perkawinan Poligami Sirri Di Kecamatan Seputih Banyak: Analisis Qira'ah Mubadalah
Penulis
  • Wan Abdul Rahim Bin Wan Abd Aziz (Universitas Sains Islam Malaysia (USIM), Malaysia)
  • Achmad Faishal (Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia)
SeriVol. 2 No. 2 (2025)
Tahun terbit
2025-12-09
Sumber OriginalBerkala Hukum, Sosial dan Agama
(Download Original)

Abstrak: Poligami merupakan bentuk perkawinan antara satu laki-laki dengan beberapa perempuan. Dalam praktiknya, poligami sering menimbulkan konflik dan ketidaksetaraan, terutama jika dilakukan secara sirri tanpa pencatatan resmi. Hal ini kerap dipicu oleh kurangnyakomunikasi antara suami dan istri yang sah secara agama dan hukum. Penelitian ini bertujuan: 1) Mengetahui bentuk relasi suami istri dalam perkawinan poligami sirri di Kecamatan Seputih Banyak, dan 2) Menganalisisnya menggunakan perspektif Qiroah Mubādalah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta analisis data induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi suami istri dalam poligami sirri tidak sesuai dengan prinsip Qiroah Mubādalahyang menekankan kesetaraan dan keadilan. Implementasi poligami sirri cenderung menimbulkan konflik dan ketimpangan peran gender. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran akan dampak negatif poligami sirri. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan perlindungan hukum bagi perempuan dan anak, serta mendorong strategi intervensi yang efektif dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan psikologi oleh akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan.

Kata Kunci: Relasi Suami Isteri, Poligami, Sirri, Qiroah Mubadalah

Abstract: Polygamy is a form of marriage between one man and multiple women. In practice, polygamy often leads to conflict and inequality, especially when carried out in secret without official registration. This is often triggered by a lack of communication betweenhusband and wife, both religiously and legally. This study aims to: 1) Determine the form of husband-wife relations in secret polygamous marriages in Seputih Banyak District, and 2) Analyze it using a religious perspective.Qiraah MubādalahThe research method used was qualitative with a case study approach through observation, interviews, and documentation, as well as inductive data analysis. The results showed that the husband-wife relationship in unregistered polygamy does not conform to the principles ofQiraah Mubādalahwhich emphasizes equality and justice. The implementation of unregistered polygamy tends to create conflict and gender inequality. Therefore, increased awareness of the negative impacts of unregistered polygamy is needed. This research is expected to provide a basis for developing legal protection policies for women and children, as well as encourage effective intervention strategies in education, health, economics, and psychology by academics, practitioners, and policymakers.

Keywords: Husband and Wife Relations, Polygamy,Secret, Qiraah Mubadalah