Kongres Ulama Perempuan: Modalitas Perempuan Dalam Kontestasi Global: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler VisualEditor |
||
| Baris 2: | Baris 2: | ||
Banyak teori dan pandangan [[tokoh]] mengatakan bahwa modernitas sebagai sebuah keniscayaan mensyaratkan adanya peminggiran peran dan fungsi agama dalam kehidupan masyarakat. Rasionalisasi menjadi ukuran dan substansi modernitas dan sekularisasi sebagai salah satu aspek penting serta tatanan ilahiyah tidak lagi berkuasa (Bruce Lawrence: 1995, 57). Marginalisasi agama dalam pandangan ini menjadi prasyarat yang diperlukan bagi sebuah modernitas (Roxanne L. Euben: 1999, 21)." Dengan kata lain, modernitas dipandang tidak sejalan dengan agama dan religiusitas. | Banyak teori dan pandangan [[tokoh]] mengatakan bahwa modernitas sebagai sebuah keniscayaan mensyaratkan adanya peminggiran peran dan fungsi agama dalam kehidupan masyarakat. Rasionalisasi menjadi ukuran dan substansi modernitas dan sekularisasi sebagai salah satu aspek penting serta tatanan ilahiyah tidak lagi berkuasa (Bruce Lawrence: 1995, 57). Marginalisasi agama dalam pandangan ini menjadi prasyarat yang diperlukan bagi sebuah modernitas (Roxanne L. Euben: 1999, 21)." Dengan kata lain, modernitas dipandang tidak sejalan dengan agama dan religiusitas. | ||
Modernisasi telah melahirkan globalisasi dengan berbagai capaian kemajuan yang semakin menyejahterakan umat manusia. Namun demikian modernisasi dan globalisasi juga melahirkan setumpuk persoalan, salah satunya terkait dengan keberadaan agama dan penganut agama. Globalisasi diartikan sebagai proses intensifikasi hubungan sosial di seluruh dunia yang menghubungkan daerah-daerah atau tempat yang jauh sedemikian rupa sehingga kejadian di satu lokasi dibentuk atau dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di tempat yang jauhnya bermil-mil, dan sebaliknya (Inayah Rohmaniyah: 2014, 2). Globalisasi ditandai salah satunya dengan adanya interkoneksi yaitu meluasnya keterkaitan global dan hubungan antar budaya, identitas, ideologi, pemikiran, modal dan berbagai aspek lainnya (Firmanzah: 2007, 41). Globalisasi juga ditandai dengan dunia tanpa batas, baik dalam pengertian fisik maupun imajiner. | Modernisasi telah melahirkan globalisasi dengan berbagai capaian kemajuan yang semakin menyejahterakan umat manusia. Namun demikian modernisasi dan globalisasi juga melahirkan setumpuk persoalan, salah satunya terkait dengan keberadaan agama dan penganut agama. Globalisasi diartikan sebagai proses intensifikasi hubungan sosial di seluruh dunia yang menghubungkan daerah-daerah atau tempat yang jauh sedemikian rupa sehingga kejadian di satu lokasi dibentuk atau dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di tempat yang jauhnya bermil-mil, dan sebaliknya ([[Inayah Rohmaniyah]]: 2014, 2). Globalisasi ditandai salah satunya dengan adanya interkoneksi yaitu meluasnya keterkaitan global dan hubungan antar budaya, identitas, ideologi, pemikiran, modal dan berbagai aspek lainnya (Firmanzah: 2007, 41). Globalisasi juga ditandai dengan dunia tanpa batas, baik dalam pengertian fisik maupun imajiner. | ||
Gagasan baru, pemikiran, kepercayaan, budaya, ekonomi, bahkan kerjasama menembus batas Negara atau lokalitas tertentu (Inda, Jonathan Xavier, and Renato Rosaldo: 2002, 1-34). Globalisasi yang tidak mengenal batas memunculkan pemaknaan baru tentang ruang dan waktu. Dunia yang saling terkoneksi dan tanpa batas merubah pemahaman orang tentang ruang dan waktu: dunia dialami dan dirasakan menjadi sempit, mengecil dan jarak menjadi dekat. | Gagasan baru, pemikiran, kepercayaan, budaya, ekonomi, bahkan kerjasama menembus batas Negara atau lokalitas tertentu (Inda, Jonathan Xavier, and Renato Rosaldo: 2002, 1-34). Globalisasi yang tidak mengenal batas memunculkan pemaknaan baru tentang ruang dan waktu. Dunia yang saling terkoneksi dan tanpa batas merubah pemahaman orang tentang ruang dan waktu: dunia dialami dan dirasakan menjadi sempit, mengecil dan jarak menjadi dekat. | ||
| Baris 11: | Baris 11: | ||
Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Panitia, Dr. Badriyah Fayumi, Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia diselenggarakan dengan tujuan '''''“'''Mengakui dan mengukuhkan keberadaan [[Ulama Perempuan Dalam Sejarah Islam Indonesia|ulama perempuan dalam sejarah Islam Indonesia]]''.” Pengakuan dan pengukuhan dalam konteks menghadapi dunia global tentu menjadi urgen karena kompetisi dan kontestasi membutuhkan ''power'' baik dalam bentuk ''knowledge'' yang bersifat simbolik maupun solidaritas sosial sebagai bentuk kekuatan sebuah [[komunitas]]. Pengakuan dan pengukuhan keberadaan [[Ulama Perempuan Dalam Sejarah Islam Indonesia|ulama perempuan dalam sejarah Islam Indonesia]] merupakan modal sosial penting dalam memperjuangkan keadilan sosial dan kesetaraan dalam segala bidang, termasuk agama. | Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Panitia, Dr. Badriyah Fayumi, Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia diselenggarakan dengan tujuan '''''“'''Mengakui dan mengukuhkan keberadaan [[Ulama Perempuan Dalam Sejarah Islam Indonesia|ulama perempuan dalam sejarah Islam Indonesia]]''.” Pengakuan dan pengukuhan dalam konteks menghadapi dunia global tentu menjadi urgen karena kompetisi dan kontestasi membutuhkan ''power'' baik dalam bentuk ''knowledge'' yang bersifat simbolik maupun solidaritas sosial sebagai bentuk kekuatan sebuah [[komunitas]]. Pengakuan dan pengukuhan keberadaan [[Ulama Perempuan Dalam Sejarah Islam Indonesia|ulama perempuan dalam sejarah Islam Indonesia]] merupakan modal sosial penting dalam memperjuangkan keadilan sosial dan kesetaraan dalam segala bidang, termasuk agama. | ||
Pengakuan tersebut juga menjadi titik awal perjuangan berat | Pengakuan tersebut juga menjadi titik awal perjuangan berat ulama perempuan Indonesia menghadapi dunia global. Di satu sisi perempuan harus mempertahankan nilai nilai lokalitas sebagai perempuan Timur dengan tradisi khasnya, sementara di sisi lain menunjukkan relijiusitas yang sejalan dengan nilai-nilai modernitas. | ||
Fenomena | Fenomena Kongres Ulama Perempuan menunjukkan langkah revolutif kaum perempuan baik dalam ranah paradigmatik, sosial maupun politik, dan dari wacana menuju aksi nyata yang lebih kongrit dan komprehensif. Revolusi paradigmatik ditunjukkan dengan disseminasi secara lebih luas dan mengglobal peran penting agama dalam membangun masyarakat, dan terutama konstruksi agama yang egaliter, non-patriarkhi dan berkeadilan. Jumlah peserta yang begitu banyak dan mewakili perempuan dari seluruh Indonesia bahkan beberapa negara lain memberikan pesan pada dunia global bahwa paradigma baru tafsir agama yang inklusif gender, non patriarkhi dan kontekstual tersosialisasikan secara massif dan sejalan dengan nilai-nilai modernitas. Diseminasi secara meluas menunjukkan adanya narasi baru sebagai wacana alternatif dari narasi pemahaman agama mainstream yang bias gender, ''androsentris'' dan patriarkhi dan dipandang tidak relevan dengan prinsip hak azasi manusia dan prinsip-prinsip modernitas lainnya. | ||
Revolusi sosial juga terlihat dalam Kongres Ulama Perempuan dengan terbangunnya ''network'' perempuan yang luas dan kuat, merangkul berbagai kalangan baik pemangku kepentingan di pesantren, akademisi, peneliti, LSM, pekerja sosial, praktisi sosial-keagamaan dan politik, dan bahkan buruh dan kelompok-kelompok marginal. Kongres juga dihadiri dan didukung oleh perempuan lintas aliran, golongan, etnis, dan agama. Solidaritas mekanik yang terbangun akan menjadi modal sosial yang diperhitungan tidak hanya di level nasional tetapi juga internasional. | Revolusi sosial juga terlihat dalam Kongres Ulama Perempuan dengan terbangunnya ''network'' perempuan yang luas dan kuat, merangkul berbagai kalangan baik pemangku kepentingan di pesantren, akademisi, peneliti, LSM, pekerja sosial, praktisi sosial-keagamaan dan politik, dan bahkan buruh dan kelompok-kelompok marginal. Kongres juga dihadiri dan didukung oleh perempuan lintas aliran, golongan, etnis, dan agama. Solidaritas mekanik yang terbangun akan menjadi modal sosial yang diperhitungan tidak hanya di level nasional tetapi juga internasional. | ||