Lompat ke isi

Temu Ulama Perempuan: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi '=== Kerukunan Antarumat Beragama Jadi Modal Bangsa. === ''Lebih dari 700 perempuan ulama, akademisi, dan perempuan aktivis duduk bersama pada Kongres Ulama Perempuan I...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 4: Baris 4:




Kongres [[Ulama Perempuan Indonesia]] ([[KUPI]]) yang akan berlangsung hingga kamis (27/4) direncanakan menghasilkan ikrar keulamaan perempuan Indonesia, fatwa, dan rekomendasi.
Kongres Ulama Perempuan Indonesia ([[KUPI]]) yang akan berlangsung hingga kamis (27/4) direncanakan menghasilkan ikrar keulamaan perempuan Indonesia, fatwa, dan rekomendasi.


Tiga isu utama adalah kekerasan seksual dan pernikahan anak, perusakan alam dalam konteks ketimpangan sosial dan migrasi serta radikalisme.
Tiga isu utama adalah kekerasan seksual dan pernikahan anak, perusakan alam dalam konteks ketimpangan sosial dan migrasi serta radikalisme.


“Peserta akan bertukar pikiran tetang perjuangan perempuan ulama di beberapa negara dalam menghadapi masalah, seperti kekerasan terhadap perempuan hingga kemiskinan,” ujar sekretaris panitia KUPI, Ninik Rahayu, Senin di Cirebon.
“Peserta akan bertukar pikiran tetang perjuangan perempuan ulama di beberapa negara dalam menghadapi masalah, seperti kekerasan terhadap perempuan hingga kemiskinan,” ujar sekretaris panitia KUPI, [[Ninik Rahayu]], Senin di Cirebon.


Hingga kemarin panitia mencatat 1.270 pendaftar. Namun dengan pertimbangan keterwakilan wilayah dan ketersediaan tempat, hanya 574 peserta dan 185 pengamat, termasuk perempuan aktivis yang diterima, jumlah itu termasuk 35 peserta yang berasal dari 16 Negara, seperti Malaysia, Nigeria, dan Arab Saudi. Jumlah ini melebihi target awal panitia, yaitu 500 peserta termasuk pengamat.
Hingga kemarin panitia mencatat 1.270 pendaftar. Namun dengan pertimbangan keterwakilan wilayah dan ketersediaan tempat, hanya 574 peserta dan 185 pengamat, termasuk perempuan aktivis yang diterima, jumlah itu termasuk 35 peserta yang berasal dari 16 Negara, seperti Malaysia, Nigeria, dan Arab Saudi. Jumlah ini melebihi target awal panitia, yaitu 500 peserta termasuk pengamat.


Sejumlah peserta, antara lain dari Aceh, Sumatra Barat, dan Banten, kemarin tiba di pondok pesantren Kebon Jambu, Kecamatan Ciwaringin, Cirebon. Peserta akan tinggal di pondok pesantren yang dipimpin oleh Hj. Masriyah Amva.
Sejumlah peserta, antara lain dari Aceh, Sumatra Barat, dan Banten, kemarin tiba di pondok pesantren Kebon Jambu, Kecamatan Ciwaringin, Cirebon. Peserta akan tinggal di pondok pesantren yang dipimpin oleh Hj. [[Masriyah Amva]].


“Masyarakat juga antusias. Ada enam pesantren di sekitar Cirebon yang sukarela menyediakan tempat bagi para peserta.” Lanjut Ninik.
“Masyarakat juga antusias. Ada enam pesantren di sekitar Cirebon yang sukarela menyediakan tempat bagi para peserta.” Lanjut Ninik.


KH. Husein Muhammad, pengasuh pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon mengatakan, KUPI merupakan peristiwa langka di Indonesia, bahkan di dunia, menurut dia, eksistensi perempuan ulama selama ini kerap diabaikan, padahal, perempuan ulama sudah banyak berbuat untuk pesantren, bahkan bangsa,” ujarnya.
KH. [[Husein Muhammad]], pengasuh pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon mengatakan, KUPI merupakan peristiwa langka di Indonesia, bahkan di dunia, menurut dia, eksistensi perempuan ulama selama ini kerap diabaikan, padahal, perempuan ulama sudah banyak berbuat untuk pesantren, bahkan bangsa,” ujarnya.