Lompat ke isi

Wasathiyah Islam: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 20: Baris 20:


''“Suatu saat, kami sedang bersama Nabi Saw. Tiba-tiba Nabi Saw membuat sebuah garis. Di samping kanannya, juga dibuat dua garis, begitupun di samping kirinya dibuat juga dua garis yang lain. Lalu Nabi Saw meletakkan tangan beliau pada satu garis yang di tengah itu (al-khath al-awsath), sambil bersabada: “Inilah jalan Allah itu”, sambil membaca ayat al-Qur’an:''  
''“Suatu saat, kami sedang bersama Nabi Saw. Tiba-tiba Nabi Saw membuat sebuah garis. Di samping kanannya, juga dibuat dua garis, begitupun di samping kirinya dibuat juga dua garis yang lain. Lalu Nabi Saw meletakkan tangan beliau pada satu garis yang di tengah itu (al-khath al-awsath), sambil bersabada: “Inilah jalan Allah itu”, sambil membaca ayat al-Qur’an:''  


<big>وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ (الأنعام، 6: 153).</big>
<big>وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ (الأنعام، 6: 153).</big>
Baris 79: Baris 80:


''Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. Al-Hujurat, 49: 13).''  
''Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. Al-Hujurat, 49: 13).''  


<big>يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۗوَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗوَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ (المائدة، 5: 2)</big>
<big>يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۗوَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗوَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ (المائدة، 5: 2)</big>
Baris 95: Baris 97:




<big>إِنَّ الْوَسَطَ هُوَ الْعَدْلُ وَالْخِيَارُ، وَذَلِكَ أَنَّ الزِّيَادَةَ عَلَى الْمَطْلُوبِ فِي الْأَمْرِ إِفْرَاطٌ، وَالنَّقْصَ عَنْهُ تَفْرِيطٌ وَتَقْصِيرٌ، وَكُلٌّ مِنَ الْإِفْرَاطِ وَالتَّفْرِيطِ مَيْلٌ عَنِ الْجَادَّةِ الْقَوِيمَةِ فَهُوَ شَرٌّ وَمَذْمُومٌ، فَالْخِيَارُ: هُوَ الْوَسَطُ بَيْنَ طَرَفَيِ الْأَمْرِ ; أَيِ: الْمُتَوَسِّطُ بَيْنَهُمَا "....."</big><ref>Muhammad Rasyid Ridha, ''Tafsir al-Qur’an al-Hakim (Tafsir al-Manar),'' (Cairo: al-Hay’ah al-Mishriyah li al-Kitab, 1990), juz 1, halaman 4.</ref>
<big>إِنَّ الْوَسَطَ هُوَ الْعَدْلُ وَالْخِيَارُ، وَذَلِكَ أَنَّ الزِّيَادَةَ عَلَى الْمَطْلُوبِ فِي الْأَمْرِ إِفْرَاطٌ، وَالنَّقْصَ عَنْهُ تَفْرِيطٌ وَتَقْصِيرٌ، وَكُلٌّ مِنَ الْإِفْرَاطِ وَالتَّفْرِيطِ مَيْلٌ عَنِ الْجَادَّةِ الْقَوِيمَةِ فَهُوَ شَرٌّ وَمَذْمُومٌ، فَالْخِيَارُ: هُوَ الْوَسَطُ بَيْنَ طَرَفَيِ الْأَمْرِ ; أَيِ: الْمُتَوَسِّطُ بَيْنَهُمَا "....."</big><ref>Muhammad Rasyid Ridha, ''[[Tafsir Al-Qur’an|Tafsir al-Qur’an]] al-Hakim (Tafsir al-Manar),'' (Cairo: al-Hay’ah al-Mishriyah li al-Kitab, 1990), juz 1, halaman 4.</ref>


''Kata “khiyarun” secara bahasa, jika merujuk pada Kamus Lisan al-‘Arab Ibn Manzhur (w. ) misalnya, berarti terpilih dan terbaik. Ia berasal dari akar kata “khair” yang seringkali disebutkan al-Qur’an yang berarti kebaikan.''<ref>Ibn Manzhur, Muhammad bin Mukarram, ''Lisan al-‘Arab,'' (Beirut: Dar Shadir, t.t.), juz 4, halaman: 264-265.</ref> ''Al-Qur’an tidak memiliki kosa kata “khiyarun”, tetapi beberapa teks Hadits menggunakan kosa kata itu untuk makna-makna keterpilihan dan kebaikan. Beberapa teks hadits di bawah ini bisa menjelaskan arti kata “khiyar”, sekaligus menginspirasi karakter dari wasathiyah itu sendiri.''
''Kata “khiyarun” secara bahasa, jika merujuk pada Kamus Lisan al-‘Arab Ibn Manzhur (w. ) misalnya, berarti terpilih dan terbaik. Ia berasal dari akar kata “khair” yang seringkali disebutkan al-Qur’an yang berarti kebaikan.''<ref>Ibn Manzhur, Muhammad bin Mukarram, ''Lisan al-‘Arab,'' (Beirut: Dar Shadir, t.t.), juz 4, halaman: 264-265.</ref> ''Al-Qur’an tidak memiliki kosa kata “khiyarun”, tetapi beberapa teks Hadits menggunakan kosa kata itu untuk makna-makna keterpilihan dan kebaikan. Beberapa teks hadits di bawah ini bisa menjelaskan arti kata “khiyar”, sekaligus menginspirasi karakter dari wasathiyah itu sendiri.''
Baris 137: Baris 139:
Selain kosa kata kebaikan dalam konsep wasathiyah, ada kosa kata lagi yang juga disebutkan para ulama tafsir, sebagai penjelasan kata “wasathan”. Yaitu kata ''‘udulun'' (عدول), yang berasal dari akar kata ''‘adl'' (عدل). Kata Ibn Manzhur dalam ''Lisan al-‘Arab,'' kata ''‘udul'' merupakan bentuk plural yang berarti orang-orang yang adil. Orang yang adil adalah ia yang tidak cenderung pada hawa nafsunya, sehingga tidak menyimpang ketika membuat sebuah keputusan. Ia memutuskan dengan kebenaran. Ia juga berarti orang yang diterima masyarakat, baik perkataan, perbuatan, dan keputusan-keputusannya. Ia juga berarti orang yang dipercaya dan diterima kesaksianya.<ref>Ibn Manzhur, ''Lisan al-‘Arab,'' juz 11, halaman: 430-431.</ref>
Selain kosa kata kebaikan dalam konsep wasathiyah, ada kosa kata lagi yang juga disebutkan para ulama tafsir, sebagai penjelasan kata “wasathan”. Yaitu kata ''‘udulun'' (عدول), yang berasal dari akar kata ''‘adl'' (عدل). Kata Ibn Manzhur dalam ''Lisan al-‘Arab,'' kata ''‘udul'' merupakan bentuk plural yang berarti orang-orang yang adil. Orang yang adil adalah ia yang tidak cenderung pada hawa nafsunya, sehingga tidak menyimpang ketika membuat sebuah keputusan. Ia memutuskan dengan kebenaran. Ia juga berarti orang yang diterima masyarakat, baik perkataan, perbuatan, dan keputusan-keputusannya. Ia juga berarti orang yang dipercaya dan diterima kesaksianya.<ref>Ibn Manzhur, ''Lisan al-‘Arab,'' juz 11, halaman: 430-431.</ref>


Konsep kunci dari kata ''‘udul'' adalah dipercaya, diterima, dan bertindak adil terhadap orang lain. Sikap ''wasathiyah'' meniscayakan semua karakter ini sebagai kepribadian individu maupun [[komunitas]]. Sikap ini secara sosial horizontal mengantarkan individu dan komunitas untuk saling berlaku adil satu sama lain, saling mempercayai, dan bekerjasama. Keadilan meniscayakan kesetaraan terlebih dahulu. Sehingga, tidak boleh ada orang yang diposisikan secara timpang dan atau menjadi korban sistim sosial yang hegemonik, dominatif, dan zalim. Suatu bangsa yang menerapkan norma keadilan, sejatinya, adalah bangsa yang telah mengukuhkan ajaran wasathiya Islam.
[[Konsep Kunci|Konsep kunci]] dari kata ''‘udul'' adalah dipercaya, diterima, dan bertindak adil terhadap orang lain. Sikap ''wasathiyah'' meniscayakan semua karakter ini sebagai kepribadian individu maupun [[komunitas]]. Sikap ini secara sosial horizontal mengantarkan individu dan komunitas untuk saling berlaku adil satu sama lain, saling mempercayai, dan bekerjasama. Keadilan meniscayakan kesetaraan terlebih dahulu. Sehingga, tidak boleh ada orang yang diposisikan secara timpang dan atau menjadi korban sistim sosial yang hegemonik, dominatif, dan zalim. Suatu bangsa yang menerapkan norma keadilan, sejatinya, adalah bangsa yang telah mengukuhkan ajaran wasathiya Islam.


Islam telah menegaskan ''karamah insaniyah'', bahwa seluruh umat manusia itu pada dasarnya bermartabat dan mulia (QS. Al-Isra, 17: 70), tercipta sebagai makhluk terbaik (QS. At-Tin, 95: 4), yang berbeda jenis kelamin, suku, dan bangsa, untuk saling mengenal satu sama lain (QS. Al-Hujurat, 49: 13), satu sama lain tidak saling menghina maupun merendahkan (QS. Al-Hujurat, 49: 11), berbuat dosa dan permusuhan, melainkan bekerjasama dalam ketakwaan, kebaikan dan keadilan, serta saling tolong menolong (QS. Al-Maidah, 5: 2), sekalipun berbeda keyakinan (QS. Al-Mumtahanah, 60: 8), bahkan keadilan harus ditegakkan sekalipun untuk orang yang mungkin kita benci, dan harus mengena atau akan merugikan diri dan golongan sendiri (QS. Al-Maidah, 5: 8).   Sebagaimana diketahui bersama, dalam berbagai ayat al-Qur’an, keadilan ditegaskan sebagai ajaran pokok Islam dalam kehidupan (QS. Al-Nisa, 4: 58 dan 135; al-Maidah, 5: 8; al-Anʻām, 6: 152; Hud, 11: 85; al-Nahl, 16: 90; al-Hadid, 57: 25; dan al-Mumtahanah, 60: 8).  
Islam telah menegaskan ''karamah insaniyah'', bahwa seluruh umat manusia itu pada dasarnya bermartabat dan mulia (QS. Al-Isra, 17: 70), tercipta sebagai makhluk terbaik (QS. At-Tin, 95: 4), yang berbeda jenis kelamin, suku, dan bangsa, untuk saling mengenal satu sama lain (QS. Al-Hujurat, 49: 13), satu sama lain tidak saling menghina maupun merendahkan (QS. Al-Hujurat, 49: 11), berbuat dosa dan permusuhan, melainkan bekerjasama dalam ketakwaan, kebaikan dan keadilan, serta saling tolong menolong (QS. Al-Maidah, 5: 2), sekalipun berbeda keyakinan (QS. Al-Mumtahanah, 60: 8), bahkan keadilan harus ditegakkan sekalipun untuk orang yang mungkin kita benci, dan harus mengena atau akan merugikan diri dan golongan sendiri (QS. Al-Maidah, 5: 8).   Sebagaimana diketahui bersama, dalam berbagai ayat al-Qur’an, keadilan ditegaskan sebagai ajaran pokok Islam dalam kehidupan (QS. Al-Nisa, 4: 58 dan 135; al-Maidah, 5: 8; al-Anʻām, 6: 152; Hud, 11: 85; al-Nahl, 16: 90; al-Hadid, 57: 25; dan al-Mumtahanah, 60: 8).  
Baris 155: Baris 157:


''Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (11). Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang (12). Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti (QS. Al-Hujurat, 49: 11-13).''  
''Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (11). Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang (12). Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti (QS. Al-Hujurat, 49: 11-13).''  


<big>يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۗوَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗوَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ (المائدة، 2)</big>
<big>يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۗوَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗوَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ (المائدة، 2)</big>


''Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. (QS. Al-Maidah, 5: 2).''  
''Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. (QS. Al-Maidah, 5: 2).''  


<big>يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ (المائدة، 8)</big>
<big>يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ (المائدة، 8)</big>
Baris 176: Baris 180:


Syekh Ahmad bin Musthafa al-Maraghi (w. 1371 H) menyatakan terkait makna ''wasath'' dalam ayat QS. Al-Baqarah (2: 143) di atas, bahwa itu adalah sikap moderat yang tidak berlebihan dalam beragama, tidak hanya menekuni aspek-aspek spiritual dan ritual belaka, tidak juga berlebihan dan melampaui batas dalam memanjakan aspek fisik material. Islam adalah agama ''wasath'', atau moderat, yang memberi perhatian pada kedua aspek spiritual dan material secara bersamaan dan berimbang, tanpa melebihkan yang satu dan melupakan yang lain, serta tidak melampaui batas.   
Syekh Ahmad bin Musthafa al-Maraghi (w. 1371 H) menyatakan terkait makna ''wasath'' dalam ayat QS. Al-Baqarah (2: 143) di atas, bahwa itu adalah sikap moderat yang tidak berlebihan dalam beragama, tidak hanya menekuni aspek-aspek spiritual dan ritual belaka, tidak juga berlebihan dan melampaui batas dalam memanjakan aspek fisik material. Islam adalah agama ''wasath'', atau moderat, yang memberi perhatian pada kedua aspek spiritual dan material secara bersamaan dan berimbang, tanpa melebihkan yang satu dan melupakan yang lain, serta tidak melampaui batas.   


<big>وقد جعلنا المسلمين خيارا وعدولا، لأنهم وسط فليسوا من أرباب الغلوّ في الدين المفرطين، ولا من أرباب التعطيل المفرّطين. وقد كان الناس قبل الإسلام قسمين: مادّى لا همّ له إلا الحظوظ الجثمانية كاليهود والمشركين، وقسم تحكمت فيه تقاليده الروحانية الخالصة وترك الدنيا وما فيها من اللذات الجسمية، كالنصارى والصابئة وطوائف من وثنى الهنود أصحاب الرياضات. فجاء الإسلام جامعا بين الحقّين حق الروح وحق الجسم، وأعطى المسلم جميع الحقوق الإنسانية، فالإنسان جسم وروح، وإن شئت فقل: الإنسان حيوان وملك، فكماله بإعطائه الحقين معا</big>
<big>وقد جعلنا المسلمين خيارا وعدولا، لأنهم وسط فليسوا من أرباب الغلوّ في الدين المفرطين، ولا من أرباب التعطيل المفرّطين. وقد كان الناس قبل الإسلام قسمين: مادّى لا همّ له إلا الحظوظ الجثمانية كاليهود والمشركين، وقسم تحكمت فيه تقاليده الروحانية الخالصة وترك الدنيا وما فيها من اللذات الجسمية، كالنصارى والصابئة وطوائف من وثنى الهنود أصحاب الرياضات. فجاء الإسلام جامعا بين الحقّين حق الروح وحق الجسم، وأعطى المسلم جميع الحقوق الإنسانية، فالإنسان جسم وروح، وإن شئت فقل: الإنسان حيوان وملك، فكماله بإعطائه الحقين معا</big>
Baris 187: Baris 192:


''“Dan carilah (kebahagiaan hidup) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu (untuk kebahagiaan hidup) di dunia dan berbuat-baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash, 28: 77).''  
''“Dan carilah (kebahagiaan hidup) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu (untuk kebahagiaan hidup) di dunia dan berbuat-baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash, 28: 77).''  


<big>يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (31) قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (32) قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (الأعراف، 7: 31-33)</big>
<big>يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (31) قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (32) قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (الأعراف، 7: 31-33)</big>
Baris 213: Baris 219:


''Dari Abu Mas’ud al-Anshari ra berkata: Seseorang mengeluh kepada Rasulullah Saw: “Saya tidak mampu mengikuti shalat seseorang karena bacaanya panjang dan lama”. Lalu aku (Abu Mas’ud) melihat Nabi Saw seperti marah sekali pada saat itu dan berkata: “Hai, kalian semua telah membuat lari orang-orang, jika seseorang shalat menjadi imam bagi orang lain, maka lakukan dengan ringan (tidak lama), karena di antara yang mengikuti itu ada yang sakit, sudah lemah, atau orang yang sedang memiliki kebutuhan (yang harus segera ditunaikan)“. (Sahih Bukhari, no. hadits: 90).''  
''Dari Abu Mas’ud al-Anshari ra berkata: Seseorang mengeluh kepada Rasulullah Saw: “Saya tidak mampu mengikuti shalat seseorang karena bacaanya panjang dan lama”. Lalu aku (Abu Mas’ud) melihat Nabi Saw seperti marah sekali pada saat itu dan berkata: “Hai, kalian semua telah membuat lari orang-orang, jika seseorang shalat menjadi imam bagi orang lain, maka lakukan dengan ringan (tidak lama), karena di antara yang mengikuti itu ada yang sakit, sudah lemah, atau orang yang sedang memiliki kebutuhan (yang harus segera ditunaikan)“. (Sahih Bukhari, no. hadits: 90).''  


<big>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ أَبِى قَتَادَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنِّى لأَقُومُ فِى الصَّلاَةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِىِّ فَأَتَجَوَّزُ فِى صَلاَتِى كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ ( صحيح البخاري، رقم: 712)</big>
<big>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ أَبِى قَتَادَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنِّى لأَقُومُ فِى الصَّلاَةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِىِّ فَأَتَجَوَّزُ فِى صَلاَتِى كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ ( صحيح البخاري، رقم: 712)</big>
Baris 257: Baris 264:


''Dia (Allah) telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama (ini, sebagai agama) nenek moyangmu Ibrahim. (QS. Al-Hajj, 22: 78).''  
''Dia (Allah) telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama (ini, sebagai agama) nenek moyangmu Ibrahim. (QS. Al-Hajj, 22: 78).''  


<big>عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَىُّ الأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ (مسند أحمد، رقم: 2138)</big>
<big>عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَىُّ الأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ (مسند أحمد، رقم: 2138)</big>
Baris 268: Baris 276:


''Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah salat; tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. (QS. Al-Hajj, 22: 78).''  
''Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah salat; tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. (QS. Al-Hajj, 22: 78).''  


<big>قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰىنِيْ رَبِّيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ەۚ دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ (الأنعام، 6: 161)</big>
<big>قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰىنِيْ رَبِّيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ەۚ دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ (الأنعام، 6: 161)</big>