Husein Muhammad: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 5: | Baris 5: | ||
*Pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Fikr Cirebon.}}'''Dr. (Hc) KH. Husein Muhammad''' atau yang akrab disapa Buya Husein adalah salah satu [[tokoh]] yang aktif mengampanyekan pesan-pesan kesetaraan gender dalam Islam. Ia lahir di Cirebon pada tanggal 9 Mei 1953, putera pasangan Kiai Muhammad Asyarofuddin dan Ibu Nyai Ummu Salma Syatori. Ia adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Secara berurutan mereka adalah: (1) Hasan Thuba Muhammad, (2) Husein Muhammad, (3) Ahsin Sakho Muhammad, (4) Ubaidah Muhammad, (5) Mahsun Muhammad, (6) Azzah Nurlaila Muhammad, (7) Salman al-Faries, (8) Elok Faiqoh. | *Pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Fikr Cirebon.}}'''Dr. (Hc) KH. Husein Muhammad''' atau yang akrab disapa Buya Husein adalah salah satu [[tokoh]] yang aktif mengampanyekan pesan-pesan kesetaraan gender dalam Islam. Ia lahir di Cirebon pada tanggal 9 Mei 1953, putera pasangan Kiai Muhammad Asyarofuddin dan Ibu Nyai Ummu Salma Syatori. Ia adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Secara berurutan mereka adalah: (1) Hasan Thuba Muhammad, (2) Husein Muhammad, (3) Ahsin Sakho Muhammad, (4) Ubaidah Muhammad, (5) Mahsun Muhammad, (6) Azzah Nurlaila Muhammad, (7) Salman al-Faries, (8) Elok Faiqoh. | ||
Dalam Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]), Buya Husein termasuk tokoh kunci yang memiliki keterkaitan dengan tiga organisasi pelaksana KUPI, yaitu [[Rahima]], [[Fahmina]], dan [[Alimat]]. Dalam pandangan salah satu muridnya, Kiai Faqih Abdul Kodir, Buya Muhammad adalah jangkar dari semua gerakan ini. Ia juga magnet yang bisa menarik semua pihak, dari berbagai kalangan. | Dalam Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]), Buya Husein termasuk tokoh kunci yang memiliki keterkaitan dengan tiga organisasi pelaksana KUPI, yaitu [[Rahima]], [[Fahmina]], dan [[Alimat]]. Dalam pandangan salah satu muridnya, Kiai Faqih Abdul Kodir, Buya Muhammad adalah jangkar dari semua gerakan ini. Ia juga magnet yang bisa menarik semua pihak, dari berbagai kalangan. | ||
Pasca perhelatan akbar KUPI, Buya Husein mendapat amanah untuk menjadi ketua dewan penasihat yang anggotanya adalah beberapa tokoh seperti K.H. [[Mustofa Bisri]], Ibu Nyai [[Sinta Nuriyah]] Abdurrahman Wahid, dan Prof. Dr. [[Nasaruddin Umar]]. | Pasca perhelatan akbar KUPI, Buya Husein mendapat amanah untuk menjadi ketua dewan penasihat yang anggotanya adalah beberapa tokoh seperti K.H. [[Mustofa Bisri]], Ibu Nyai [[Sinta Nuriyah]] Abdurrahman Wahid, dan Prof. Dr. [[Nasaruddin Umar]]. | ||
Terkait KUPI, Buya Husein mengatakan: “KUPI dipandang publik dan Pemerintah sebagai [[lembaga]] sosial keagamaan yang memiliki posisi strategis bagi perubahan sosial sebagaimana MUI atau PBNU, tetapi dengan misi khusus: mewujudkan kesetaraaan dan keadilan gender. Pandangan-pandangannya dijadikan referensi publik dan pemerintah.” | Terkait KUPI, Buya Husein mengatakan: “KUPI dipandang publik dan Pemerintah sebagai [[lembaga]] sosial keagamaan yang memiliki posisi strategis bagi perubahan sosial sebagaimana MUI atau PBNU, tetapi dengan misi khusus: mewujudkan kesetaraaan dan keadilan gender. Pandangan-pandangannya dijadikan referensi publik dan pemerintah.” | ||
== Riwayat Hidup == | == Riwayat Hidup == | ||
| Baris 22: | Baris 23: | ||
Pada tahun 1983 ia kembali ke Indonesia untuk melanjutkan perjuangan leluhurnya: mengasuh Pesantren Dar al-Tauhid. Di samping aktif sebagai kiai pesantren, ia juga memiliki jiwa pergerakan. Sehingga pada tahun 2001, ia mendirikan beberapa lembaga swadaya untuk perempuan, seperti Puan Amal Hayati, Rahima, Fahmina Institute, dan Alimat. | Pada tahun 1983 ia kembali ke Indonesia untuk melanjutkan perjuangan leluhurnya: mengasuh Pesantren Dar al-Tauhid. Di samping aktif sebagai kiai pesantren, ia juga memiliki jiwa pergerakan. Sehingga pada tahun 2001, ia mendirikan beberapa lembaga swadaya untuk perempuan, seperti Puan Amal Hayati, Rahima, Fahmina Institute, dan Alimat. | ||
Pada tahun 2001 bersama Ibu Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan beberapa koleganya ia membuat forum Kajian Kitab Kuning di Jakarta, membahas kitab ''Uqud al-Lujain'' dan memberi komentar atas kitab itu dengan judul, ''“Wajah Baru Relasi Suami Istri: Telaah Kitab Uqud al-Lujain”.'' | Pada tahun 2001 bersama Ibu Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan beberapa koleganya ia membuat forum Kajian Kitab Kuning di Jakarta, membahas kitab ''Uqud al-Lujain'' dan memberi komentar atas kitab itu dengan judul, ''“Wajah Baru Relasi Suami Istri: Telaah Kitab Uqud al-Lujain”.'' | ||
== Tokoh dan Keulamaan Perempuan == | == Tokoh dan Keulamaan Perempuan == | ||
| Baris 34: | Baris 36: | ||
Untuk menguatkan tesis-tesis ini, Buya Husein mengutip Al-Qur’an dalam surat al-Rum [30]: 21 bahwa termasuk tanda kebesaran Allah SWT adalah menciptakan istri dari jenis yang sama dengan diri kita sendiri. Dalam sebuah hadits misalnya disebut poin keadilan, resiprokal. Ibnu Abbas berkata: | Untuk menguatkan tesis-tesis ini, Buya Husein mengutip Al-Qur’an dalam surat al-Rum [30]: 21 bahwa termasuk tanda kebesaran Allah SWT adalah menciptakan istri dari jenis yang sama dengan diri kita sendiri. Dalam sebuah hadits misalnya disebut poin keadilan, resiprokal. Ibnu Abbas berkata: | ||
<big>أحب أن أتزين لنسائي كما احب أن تزين لي</big> | <big>أحب أن أتزين لنسائي كما احب أن تزين لي</big> | ||
| Baris 52: | Baris 55: | ||
Dalam persoalan pendidikan perempuan, misalnya, ia menyebut bahwa pendidikan niscaya bagi laki-laki maupun perempuan. Sebab ayat atau hadits yang memotivasi untuk menuntut ilmu mencakup berbagai jenis kelamin. Dalam tataran yang lebih jauh, sebenarnya Islam datang memang mengangat martabat perempuan. Ia mengutip Umar ibn Khattab: | Dalam persoalan pendidikan perempuan, misalnya, ia menyebut bahwa pendidikan niscaya bagi laki-laki maupun perempuan. Sebab ayat atau hadits yang memotivasi untuk menuntut ilmu mencakup berbagai jenis kelamin. Dalam tataran yang lebih jauh, sebenarnya Islam datang memang mengangat martabat perempuan. Ia mengutip Umar ibn Khattab: | ||
<big>كنا في الجاهلية لا نعد النساء شيأ فلما جاء الاسلام وذكرهن الله رأينا أن لهن بذلك حقا</big> | <big>كنا في الجاهلية لا نعد النساء شيأ فلما جاء الاسلام وذكرهن الله رأينا أن لهن بذلك حقا</big> | ||
| Baris 58: | Baris 62: | ||
Dalam kasus bolehnya suami memukul istri, Buya Husein memberi catatan. Menurutnya, kekerasan dalam bentuk apa pun apalagi diatasnamakan relasi laki-laki dan perempuan adalah tidak dibenarkan. Sebab di samping berbahaya secara psikis juga ada beberapa dasar normatif lain yang menentangnya. Misalnya dalam sebuah hadits, nabi pernah bersabda: | Dalam kasus bolehnya suami memukul istri, Buya Husein memberi catatan. Menurutnya, kekerasan dalam bentuk apa pun apalagi diatasnamakan relasi laki-laki dan perempuan adalah tidak dibenarkan. Sebab di samping berbahaya secara psikis juga ada beberapa dasar normatif lain yang menentangnya. Misalnya dalam sebuah hadits, nabi pernah bersabda: | ||
<big>ما اكرم النساء الا كريم وم اهانهن الا لئيم</big> | <big>ما اكرم النساء الا كريم وم اهانهن الا لئيم</big> | ||
“Tidak disebut laki-laki mulia kecuali mereka yang memuliakan perempuan. Dan tidak menghinakan mereka kecuali laki-laki hina”. | ''“Tidak disebut laki-laki mulia kecuali mereka yang memuliakan perempuan. Dan tidak menghinakan mereka kecuali laki-laki hina”.'' | ||
Secara lebih tegas, nabi juga bersabda: | Secara lebih tegas, nabi juga bersabda: | ||
<big>خيركم خيركم لاهله وأنا خيركم لأهلي</big> | <big>خيركم خيركم لاهله وأنا خيركم لأهلي</big> | ||
“Sebaik-baiknya kalian adalah mereka yang baik kepada keluarganya dan aku adalah paling baiknya laki-laki kepada istrinya”. | ''“Sebaik-baiknya kalian adalah mereka yang baik kepada keluarganya dan aku adalah paling baiknya laki-laki kepada istrinya”.'' | ||
== Penghargaan dan Prestasi == | == Penghargaan dan Prestasi == | ||
Atas segala dedikasi dan perjuangannya Buya Husein mendapat banyak penghargaan. Misalnya ia pernah menerima Heroes to End Modern-Day Slavery, tahun 2006. Namanya juga pernah tercatat sebagai “The 500 Most Influential Muslims” yang diterbitkan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Center, Amman, Yordania selama beberapa tahun. Yang terbaru ia menerima penghargaan berupa doktor kehormatan (Honoris Causa) dari UIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah. | Atas segala dedikasi dan perjuangannya Buya Husein mendapat banyak penghargaan. Misalnya ia pernah menerima Heroes to End Modern-Day Slavery, tahun 2006. Namanya juga pernah tercatat sebagai “The 500 Most Influential Muslims” yang diterbitkan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Center, Amman, Yordania selama beberapa tahun. Yang terbaru ia menerima penghargaan berupa doktor kehormatan (Honoris Causa) dari UIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah. | ||
== Karya-Karya == | == Karya-Karya == | ||
| Baris 77: | Baris 87: | ||
Ia juga tercatat sebagai pendiri Fahmina Institute, sebuah lembaga yang juga concern terhadap isu-isu perempuan. Bersama Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, ia mendirikan Puan Amal Hayati, yang juga bergerak di isu perempuan. Pada tahun 2000, ia mendirikan RAHIMA dan masih banyak lagi karir kemasyarakatan yang ia inisiasi. | Ia juga tercatat sebagai pendiri Fahmina Institute, sebuah lembaga yang juga concern terhadap isu-isu perempuan. Bersama Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, ia mendirikan Puan Amal Hayati, yang juga bergerak di isu perempuan. Pada tahun 2000, ia mendirikan RAHIMA dan masih banyak lagi karir kemasyarakatan yang ia inisiasi. | ||
Buya Husein adalah penulis yang produktif yang sudah melahirkan banyak karya monumental, di antaranya: ''Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender; Islam yang mencerahkan dan Mencerdaskan; Memikirkan Kembali Pemahaman Islam Kita; Islam Agama Ramah Perempuan; Ijtihad Kiai Husein: Upaya Membangun Keadilan Gender; Perempuan, Islam dan Negara: Pergulatan identitas dan Entitas; Spritualitas Kemanusiaan, Perspektif Islam Pesantren; Upaya Membangun Keadilan; Dawrah Fiqh Perempuan; Fiqh Seksualitas; Fiqh HIV/AIDS; Mengaji Pluralisme pada Guru Pencerahan; Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur; Menyusuri Jalan Cahaya; Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus; Menangkal Siaran Kebencian Perspektif Islam; Toleransi Islam; Islam Tradisional yang Terus Bergerak'' dan karya lain-lainnya. | Buya Husein adalah penulis yang produktif yang sudah melahirkan banyak karya monumental, di antaranya: ''[[Fiqh]] Perempuan: Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender; Islam yang mencerahkan dan Mencerdaskan; Memikirkan Kembali Pemahaman Islam Kita; Islam Agama Ramah Perempuan; Ijtihad Kiai Husein: Upaya Membangun Keadilan Gender; Perempuan, Islam dan Negara: Pergulatan identitas dan Entitas; Spritualitas Kemanusiaan, Perspektif Islam Pesantren; Upaya Membangun Keadilan; Dawrah Fiqh Perempuan; Fiqh Seksualitas; Fiqh HIV/AIDS; Mengaji Pluralisme pada Guru Pencerahan; Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur; Menyusuri Jalan Cahaya; Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus; Menangkal Siaran Kebencian Perspektif Islam; Toleransi Islam; Islam Tradisional yang Terus Bergerak'' dan karya lain-lainnya. | ||
== Daftar Bacaan Lanjutan == | == Daftar Bacaan Lanjutan == | ||
A. Dicky Sofyan dan Noor Rahman (''Eds''), ''Ijtihad Kiai Husein: Upaya Membangun Keadilan Gender'' (Jakarta: Penerbit Rahima, 2011). | A. Dicky Sofyan dan Noor Rahman (''Eds''), ''Ijtihad Kiai Husein: Upaya Membangun Keadilan Gender'' (Jakarta: Penerbit Rahima, 2011). | ||