Lompat ke isi

Hindun Anisah: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 2: Baris 2:


Persinggungan Neng Hindun dengan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia dimulai dengan keterlibatannya dalam program P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) untuk orang-orang pesantren dan aktivis, dan kemudian dengan [[Rahima]].  Dalam pelaksanaan [[KUPI]] 2017, Neng Hindun menjadi sekretaris Steering Committee (SC) KUPI.  
Persinggungan Neng Hindun dengan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia dimulai dengan keterlibatannya dalam program P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) untuk orang-orang pesantren dan aktivis, dan kemudian dengan [[Rahima]].  Dalam pelaksanaan [[KUPI]] 2017, Neng Hindun menjadi sekretaris Steering Committee (SC) KUPI.  
== Riwayat Hidup ==
== Riwayat Hidup ==
Neng Hindun merupakan anak tunggal dari ayah (Alm) H.M. Nasih Hamid putera KH. Hamid Pasuruan dan Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali, puteri KH. Ali Maksum yang saat ini menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Puteri Kompleks Hindun Anisah Krapyak Yogyakarta. Ia menikah dengan KH. Nuruddin Amin Pengasuh Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara dan telah dikaruniai lima orang putera dan puteri yaitu Muhammad Arief Arafat (15 Maret 2000), Danial Fayyadl (30 Desember 2001), Achmed Levi Samachat (24 Juli 2003), Zhareva Bilqis Faqeeha (23 Mei 2009), dan Medina Alea Syareeva (21 Oktober 2010).  
Neng Hindun merupakan anak tunggal dari ayah (Alm) H.M. Nasih Hamid putera KH. Hamid Pasuruan dan Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali, puteri KH. Ali Maksum yang saat ini menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Puteri Kompleks Hindun Anisah Krapyak Yogyakarta. Ia menikah dengan KH. Nuruddin Amin Pengasuh Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara dan telah dikaruniai lima orang putera dan puteri yaitu Muhammad Arief Arafat (15 Maret 2000), [[Danial]] Fayyadl (30 Desember 2001), Achmed Levi Samachat (24 Juli 2003), Zhareva Bilqis Faqeeha (23 Mei 2009), dan Medina Alea Syareeva (21 Oktober 2010).  


Neng Hindun menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di SD & TK Islam Pasuruan, Jawa Timur (1980-1986), Madrasah Muallimin-Muallimat Bahrul Ulum Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang (1986-1989), dan Madrasah Aliyah (MA) Ali Maksum Krapyak Yogyakarta (1989-1992). Ia kemudian menempuh pendidikan S1 di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1992-1998) dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1993-1998). Gelar Master of Art ia peroleh dari Jurusan Medical Anthropology, Amsterdam University, Belanda (2004-2005). Saat ini ia sedang menyelesaikan program S3 Islam Nusantara di UNUSIA Jakarta.
Neng Hindun menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di SD & TK Islam Pasuruan, Jawa Timur (1980-1986), Madrasah Muallimin-Muallimat Bahrul Ulum Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang (1986-1989), dan Madrasah Aliyah (MA) Ali Maksum Krapyak Yogyakarta (1989-1992). Ia kemudian menempuh pendidikan S1 di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1992-1998) dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1993-1998). Gelar Master of Art ia peroleh dari Jurusan Medical Anthropology, Amsterdam University, Belanda (2004-2005). Saat ini ia sedang menyelesaikan program S3 Islam Nusantara di UNUSIA Jakarta.


Neng Hindun, pernah menjadi Anggota Satgas Presiden untuk Penanganan WNI di Luar Negeri yang Terancam Hukuman Mati (wilayah Arab Saudi & Malaysia) 2011-2012, Sekretaris Rahima (NGO) 2011-2018, Ketua LPBHNU ([[Lembaga]] Pendampingan dan Bantuan Hukum NU) 2010-2015, dan Wakil Sekretaris Forum Nasional Pesantren 2005-2010. dan sebagai Ketua JP3M (Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren & Mubalighah) Jepara sejak tahun 2018. Ia juga sebagai Koordinator Divisi Advokasi dan Hukum Gerakan Ayo Mondok RMI PBNU sejak 2017, dan sejak 2010 ia menjabat sebagai Koordinator APPA (Aliansi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak). Dalam susunan redaksi Majalah Swara Rahima, Neng Hindun sebagai salah satu pengasuh rubrik Tanya Jawab yang terbit setiap enam bulan sekali.
Neng Hindun, pernah menjadi Anggota Satgas Presiden untuk Penanganan WNI di Luar Negeri yang Terancam Hukuman Mati (wilayah Arab Saudi & Malaysia) 2011-2012, Sekretaris Rahima (NGO) 2011-2018, Ketua LPBHNU ([[Lembaga]] Pendampingan dan Bantuan Hukum NU) 2010-2015, dan Wakil Sekretaris Forum Nasional Pesantren 2005-2010. dan sebagai Ketua JP3M (Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren & Mubalighah) Jepara sejak tahun 2018. Ia juga sebagai Koordinator Divisi Advokasi dan Hukum Gerakan Ayo Mondok RMI PBNU sejak 2017, dan sejak 2010 ia menjabat sebagai Koordinator APPA (Aliansi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak). Dalam susunan redaksi Majalah Swara Rahima, Neng Hindun sebagai salah satu pengasuh rubrik Tanya Jawab yang terbit setiap enam bulan sekali.
== Aktivitas Keulamaan Perempuan ==
== Aktivitas Keulamaan Perempuan ==
Sejak di bangku SD Neng Hindun lebih banyak diasuh oleh neneknya, Nyai Nafisah, istri KH. Hamid Pasuruan. Karena saat itu sang ibu, Nyai Durroh Nafisah Ali, sedang melanjutkan pendidikannya di PTIQ Jakarta. Ketika ibunya sekolah, Neng Hindun sering menerima surat berlembar-lembar dari Jakarta. Surat itu berisi cerita perempuan hebat baik [[tokoh]] lokal, nasional, atau dari Timur Tengah. Surat itu menjadi kenangan masa kecil Neng Hindun yang sangat berharga. Sejak kecil ia sudah mengenal sosok perempuan-perempuan hebat.  
Sejak di bangku SD Neng Hindun lebih banyak diasuh oleh neneknya, Nyai Nafisah, istri KH. Hamid Pasuruan. Karena saat itu sang ibu, Nyai Durroh Nafisah Ali, sedang melanjutkan pendidikannya di PTIQ Jakarta. Ketika ibunya sekolah, Neng Hindun sering menerima surat berlembar-lembar dari Jakarta. Surat itu berisi cerita perempuan hebat baik [[tokoh]] lokal, nasional, atau dari Timur Tengah. Surat itu menjadi kenangan masa kecil Neng Hindun yang sangat berharga. Sejak kecil ia sudah mengenal sosok perempuan-perempuan hebat.  
Baris 25: Baris 21:
Neng Hindun terlibat secara aktif dalam beberapa pertemuan persiapan acara KUPI. Namun, ia tidak bisa menghadiri perhelatan KUPI karena berbarengan dengan jadwal menemani jamaah umroh yang di dalamnya terdapat keluarga dekat yang sangat mengharapkan kehadirannya. Absennya Neng Hindun ini sebenarnya tidak disengaja, mengingat jadwal KUPI yang semula tanggal 19 April bergeser menjadi 25-27 April demi menunggu selesainya pemilihan gubernur DKI Jakarta yang menyita perhatian publik tidak hanya warga Jakarta.  
Neng Hindun terlibat secara aktif dalam beberapa pertemuan persiapan acara KUPI. Namun, ia tidak bisa menghadiri perhelatan KUPI karena berbarengan dengan jadwal menemani jamaah umroh yang di dalamnya terdapat keluarga dekat yang sangat mengharapkan kehadirannya. Absennya Neng Hindun ini sebenarnya tidak disengaja, mengingat jadwal KUPI yang semula tanggal 19 April bergeser menjadi 25-27 April demi menunggu selesainya pemilihan gubernur DKI Jakarta yang menyita perhatian publik tidak hanya warga Jakarta.  


Paska KUPI, Neng Hindun giat mensosialisasikan hasil musyawarah keagamaan KUPI baik di tingkat lokal di Pesantren dan masyarakat, juga di level nasional dan internasional dalam beberapa event yang ia ikuti. Di Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara, Ning Hindun selalu menyelipkan pesan untuk penghormatan dan pemberdayaan perempuan dalam setiap materi kajiannya dengan membedah hasil KUPI bersama para santri. Dalam beberapa aktivitas kemasyarakatan seperti di JP3M (Jaringan Pengasuh Puteri Pesantren dan Mubalighat), Neng Hindun sebagai ketua untuk wilayah Jepara, juga mengkaji dan mensosialisasikan hasil dan perspektif KUPI.  
Paska KUPI, Neng Hindun giat mensosialisasikan hasil musyawarah keagamaan KUPI baik di tingkat lokal di Pesantren dan masyarakat, juga di level nasional dan internasional dalam beberapa event yang ia ikuti. Di Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara, Ning Hindun selalu menyelipkan pesan untuk penghormatan dan pemberdayaan perempuan dalam setiap materi kajiannya dengan membedah hasil KUPI bersama para santri. Dalam beberapa aktivitas kemasyarakatan seperti di JP3M ([[Jaringan]] Pengasuh Puteri Pesantren dan Mubalighat), Neng Hindun sebagai ketua untuk wilayah Jepara, juga mengkaji dan mensosialisasikan hasil dan perspektif KUPI.  


Saat ini Neng Hindun sedang menyelesaikan disertasi dengan tema tentang “Ulama Nusantara”. Disertasinya akan membahas tentang KUPI sebagai sebuah gerakan ulama nusantara dan pengaruhnya terhadap ulama perempuan. Paska KUPI para ibu nyai menjadi lebih solid, dan KUPI menginspirasi lahirnya beberapa kegiatan ulama perempuan. Di tingkat nasional, lahir Silatnas (Silaturahmi Nasional) Ulama Perempuan pada tahun 2019 dan diikuti dengan pelaksanaan Silatda (silaturrahim daerah), forum halaqah Ulama Perempuan di Jawa Tengah, dan JP3M (Jaringan Pengasuh Pesantren Puteri dan Mubalighah).  
Saat ini Neng Hindun sedang menyelesaikan disertasi dengan tema tentang “Ulama Nusantara”. Disertasinya akan membahas tentang KUPI sebagai sebuah gerakan ulama nusantara dan pengaruhnya terhadap ulama perempuan. Paska KUPI para ibu nyai menjadi lebih solid, dan KUPI menginspirasi lahirnya beberapa kegiatan ulama perempuan. Di tingkat nasional, lahir Silatnas (Silaturahmi Nasional) Ulama Perempuan pada tahun 2019 dan diikuti dengan pelaksanaan Silatda (silaturrahim daerah), forum halaqah Ulama Perempuan di Jawa Tengah, dan JP3M (Jaringan Pengasuh Pesantren Puteri dan Mubalighah).  
Baris 40: Baris 36:


Neng Hindun memanfaatkan ''privilege''-nya sebagai cucu Mbah Hamid Pasuruan, ulama besar Jawa Timur dan cucu KH. Ali Maksum, untuk mengajak para ibu nyai dan pesantren lain agar terbuka terhadap isu perempuan. Ia baru menyadari potensinya itu ketika mengkonsolidasikan para ibu nyai saat Silatnas tahun 2019. Silatnas digunakan untuk menggerakan para ibu nyai yang masih belum terbuka terhadap isu perempuan. Neng Hindun mengajak para nyai yang mempunyai ''privilege'' untuk berstrategi mengajak para ibu nyai yang lain yang masih tertutup. Menurutnya, tantangan dalam melakukan sosialisasi mengenai keadilan gender adalah para ibu nyai masih melihat siapa yang berbicara bukan pada apa yang dibicarakan.  
Neng Hindun memanfaatkan ''privilege''-nya sebagai cucu Mbah Hamid Pasuruan, ulama besar Jawa Timur dan cucu KH. Ali Maksum, untuk mengajak para ibu nyai dan pesantren lain agar terbuka terhadap isu perempuan. Ia baru menyadari potensinya itu ketika mengkonsolidasikan para ibu nyai saat Silatnas tahun 2019. Silatnas digunakan untuk menggerakan para ibu nyai yang masih belum terbuka terhadap isu perempuan. Neng Hindun mengajak para nyai yang mempunyai ''privilege'' untuk berstrategi mengajak para ibu nyai yang lain yang masih tertutup. Menurutnya, tantangan dalam melakukan sosialisasi mengenai keadilan gender adalah para ibu nyai masih melihat siapa yang berbicara bukan pada apa yang dibicarakan.  
== Prestasi dan Penghargaan ==
== Prestasi dan Penghargaan ==
Neng Hindun pernah mendapat penghargaan Juara 1 Mufassiroh tahun 1993 saat kuliah semester 3.  
Neng Hindun pernah mendapat penghargaan Juara 1 Mufassiroh tahun 1993 saat kuliah semester 3.  
== Karya-Karya ==
== Karya-Karya ==
Berikut beberapa tulisan Neng Hindun yang telah diterbitkan:
Berikut beberapa tulisan Neng Hindun yang telah diterbitkan: