Lompat ke isi

Inayah Rohmaniyah: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 6: Baris 6:
Setelah meyelesaikan pendidikan Menengah Atas, Inayah melanjutkan S1 Jurusan Tafsir dan Hadis di Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Kalijara Yogyakarta, pada 1990-1995. Kemudian ia melanjutkan jenjang S2 Program Studi Ilmu Filsafat di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 2001. Pada tahun 2004-2006 ia meraih gelar MA yang kedua di Jurusan Studi Agama, College of Liberal Art and Science, Arizona State University, Tempe, Arizona, USA. Dan, gelar doktor didapatkan Inayah di program Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), UGM/UIN Sunan Kalijaga/Universitas Kristen Duta Wacana, pada 2013.
Setelah meyelesaikan pendidikan Menengah Atas, Inayah melanjutkan S1 Jurusan Tafsir dan Hadis di Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Kalijara Yogyakarta, pada 1990-1995. Kemudian ia melanjutkan jenjang S2 Program Studi Ilmu Filsafat di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 2001. Pada tahun 2004-2006 ia meraih gelar MA yang kedua di Jurusan Studi Agama, College of Liberal Art and Science, Arizona State University, Tempe, Arizona, USA. Dan, gelar doktor didapatkan Inayah di program Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), UGM/UIN Sunan Kalijaga/Universitas Kristen Duta Wacana, pada 2013.


Sejak 2018 Inayah menjadi Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia, sampai sekarang. Beberapa aktivitas lain yaitu sebagai Pengurus Harian Daerah (PHD) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, 2013-sekarang; Pengawas Keuangan Yayasan Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah, Kebarongan, Kemranjen, Banyumas, 2017-sekarang; Anggota Komite Pengarah [[Komunitas]] Indonesia Adil dan Setara (KIAS), 2011-sekarang; Peneliti Arizona State University (ASU), Arizona USA, 2009-sekarang.
Sejak 2018 Inayah menjadi Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia, sampai sekarang. Beberapa aktivitas lain yaitu sebagai Pengurus Harian Daerah (PHD) Perkumpulan [[Keluarga Berencana]] Indonesia (PKBI) DIY, 2013-sekarang; Pengawas Keuangan Yayasan Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah, Kebarongan, Kemranjen, Banyumas, 2017-sekarang; Anggota Komite Pengarah [[Komunitas]] Indonesia Adil dan Setara (KIAS), 2011-sekarang; Peneliti Arizona State University (ASU), Arizona USA, 2009-sekarang.


== Tokoh dan Keulamaan Perempuan ==
== Tokoh dan Keulamaan Perempuan ==
Baris 15: Baris 15:
Dalam sudut pandang Inayah, KUPI merupakan gerakan perempuan yang sistemik dan memiliki modal yang koprehensif. Ia menyebut komprehensif karena di dalam KUPI berisi perempuan-perempuan cerdik-pandai yang memiliki latar belakang keilmuan berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama. Artinya, KUPI bukan kumpulan perempuan yang dikumpulkan karena menguasai satu bidang ilmu tertentu. Berbagai latar belakang dapat dijumpai di dalam KUPI, seperti aktivis, dosen, nyai, dan lain sebagainya.  
Dalam sudut pandang Inayah, KUPI merupakan gerakan perempuan yang sistemik dan memiliki modal yang koprehensif. Ia menyebut komprehensif karena di dalam KUPI berisi perempuan-perempuan cerdik-pandai yang memiliki latar belakang keilmuan berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama. Artinya, KUPI bukan kumpulan perempuan yang dikumpulkan karena menguasai satu bidang ilmu tertentu. Berbagai latar belakang dapat dijumpai di dalam KUPI, seperti aktivis, dosen, nyai, dan lain sebagainya.  


Setiap [[tokoh]] memiliki modal yang kuat untuk melakukan perubahan, memengaruhi dan menggerakkan masyarakat. Inayah mencontohkan sosok nyai. Baginya, nyai adalah sebutan untuk alim ulama yang mengetahui ilmu agama. Nyai juga memiliki modal kultural yang kuat, ia juga memiliki jaringan pesantren yang kuat. Nyai memiliki modal simbolik, yang memberikan mereka kekuasaan yang tidak bisa diukur dengan simbol jabatan. Begitu juga dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti aktivis, atau dosen, lanjut Inayah, mereka memiliki jaringan yang bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan perubahan. Kumpulan tokoh dengan lintas-latar belakang di dalam KUPI itu diyakini Inayah sebagai ''epistemik,'' yang memiliki kekuasaan untuk melakukan advokasi menuju perubahan wajah Indonesia yang inklusif, terutama terhadap gender.
Setiap [[tokoh]] memiliki modal yang kuat untuk melakukan perubahan, memengaruhi dan menggerakkan masyarakat. Inayah mencontohkan sosok nyai. Baginya, nyai adalah sebutan untuk alim ulama yang mengetahui ilmu agama. Nyai juga memiliki modal kultural yang kuat, ia juga memiliki [[jaringan]] pesantren yang kuat. Nyai memiliki modal simbolik, yang memberikan mereka kekuasaan yang tidak bisa diukur dengan simbol jabatan. Begitu juga dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti aktivis, atau dosen, lanjut Inayah, mereka memiliki jaringan yang bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan perubahan. Kumpulan tokoh dengan lintas-latar belakang di dalam KUPI itu diyakini Inayah sebagai ''epistemik,'' yang memiliki kekuasaan untuk melakukan advokasi menuju perubahan wajah Indonesia yang inklusif, terutama terhadap gender.


Inayah menyoroti hilangnya perempuan sebagai ulama dalam Islam. Menurutnya, itu disebabkan karena sejarah Islam yang androsentris sehingga perempuan tenggelam dalam proses sejarah. Padahal, perempuan memiliki keulamaan yang kuat, dan secara kualifikasi memenuhi. Inayah menujuk para perempuan yang ada di KUPI adalah representasi orang-orang yang memenuhi kualifikasi ulama, dan mereka sedang menunjukkannya, yaitu menguasai ilmu agama. Kualifikasi lain yang perlu dimiliki ulama perempuan adalah perspektif tentang inklusivitas, sensitivitas gender, membela kemanusiaan, peka terhadap isu yang terjadi di masyarakat, dan ketajaman analisis sosial.  
Inayah menyoroti hilangnya perempuan sebagai ulama dalam Islam. Menurutnya, itu disebabkan karena sejarah Islam yang androsentris sehingga perempuan tenggelam dalam proses sejarah. Padahal, perempuan memiliki keulamaan yang kuat, dan secara kualifikasi memenuhi. Inayah menujuk para perempuan yang ada di KUPI adalah representasi orang-orang yang memenuhi kualifikasi ulama, dan mereka sedang menunjukkannya, yaitu menguasai ilmu agama. Kualifikasi lain yang perlu dimiliki ulama perempuan adalah perspektif tentang inklusivitas, sensitivitas gender, membela kemanusiaan, peka terhadap isu yang terjadi di masyarakat, dan ketajaman analisis sosial.  
Baris 31: Baris 31:
Ada peluang cukup besar bagi keulamaan perempuan, pemerintah juga mendukung. inayah berani mengatakan peluang besar karena adanya (program) moderasi beragama, yang membuat perempuan mampu membangun inklusifitas gender. Di masa yang terbuka ini, KUPI bisa bergerak ikut mewarnai masyarakat nusantara. Namun tantangannya adalah, ''pertama,'' politisasi agama. Seberapa besar pun KUPI memperjuangkan keadilan, tapi kalau politisasi agama masih ada perjuangan itu menjadi berat; apa lagi jika pemerintah, DPR, dan aparat negara lainnya ikut bermain di sana. ''Kedua,'' adalah radikalisasi agama, di mana perempuan selalu menjadi simbol gerakan-gerakan radikal, salah satu cirinya adalah dometifikasi perempuan. ''Ketiga,'' adalah hegemoni patriarki. Inayah menegaskan bahwa hegemoni patriarki bisa menjangkit perempuan, menempatkan dirinya sebagai ''supplementary:'' melayani laki-laki sebagai tuhan-tuhan kecil. Ketika ketiga tantangan itu berkelindan, pasti usaha apa pun akan sangat berat.  
Ada peluang cukup besar bagi keulamaan perempuan, pemerintah juga mendukung. inayah berani mengatakan peluang besar karena adanya (program) moderasi beragama, yang membuat perempuan mampu membangun inklusifitas gender. Di masa yang terbuka ini, KUPI bisa bergerak ikut mewarnai masyarakat nusantara. Namun tantangannya adalah, ''pertama,'' politisasi agama. Seberapa besar pun KUPI memperjuangkan keadilan, tapi kalau politisasi agama masih ada perjuangan itu menjadi berat; apa lagi jika pemerintah, DPR, dan aparat negara lainnya ikut bermain di sana. ''Kedua,'' adalah radikalisasi agama, di mana perempuan selalu menjadi simbol gerakan-gerakan radikal, salah satu cirinya adalah dometifikasi perempuan. ''Ketiga,'' adalah hegemoni patriarki. Inayah menegaskan bahwa hegemoni patriarki bisa menjangkit perempuan, menempatkan dirinya sebagai ''supplementary:'' melayani laki-laki sebagai tuhan-tuhan kecil. Ketika ketiga tantangan itu berkelindan, pasti usaha apa pun akan sangat berat.  


Inayah mendorong KUPI untuk serius mengatasi politisasi agama agar idealisme dapat dicapai bersama-sama.  
Inayah mendorong KUPI untuk serius mengatasi politisasi agama agar idealisme dapat dicapai bersama-sama.              
 
              


== Penghargaan atau Prestasi ==
== Penghargaan atau Prestasi ==
Baris 65: Baris 63:
# Salafism in Asia: History of Salafism in Southeast Asia (the US National Endowment for the Humanities, 2013-2014).
# Salafism in Asia: History of Salafism in Southeast Asia (the US National Endowment for the Humanities, 2013-2014).
# The Impact of Teaching and Learning Process at Ushuluddin Studi Of Religion and Islamic Thought on The Construction of Students’ Understanding of Religion, funded by UIN Sunan Kalijaga Research Center, 2014.
# The Impact of Teaching and Learning Process at Ushuluddin Studi Of Religion and Islamic Thought on The Construction of Students’ Understanding of Religion, funded by UIN Sunan Kalijaga Research Center, 2014.
# Women in Muslim Fundamentalist Movement (Yayasan Rumah Kitab In Collaboration with Oslo Coalition, 2013).
# Women in Muslim Fundamentalist Movement (Yayasan [[Rumah Kitab]] In Collaboration with Oslo Coalition, 2013).