Lompat ke isi

Ijtihad: Perbedaan antara revisi

Husain (bicara | kontrib)
kTidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 13: Baris 13:
Meskipun definisi yang ditawarkan ulama berbeda-beda, pada intinya mereka pada satu tahap kesimpulan soal ijtihad. Bahwa ia adalah sebuah usaha seorang mujtahid untuk menggali hukum syar’i ''amali''.  
Meskipun definisi yang ditawarkan ulama berbeda-beda, pada intinya mereka pada satu tahap kesimpulan soal ijtihad. Bahwa ia adalah sebuah usaha seorang mujtahid untuk menggali hukum syar’i ''amali''.  


Dasar ijithad ada dalam dua sumber utama dalam Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. Dalam al-Qur’an beberapa kali disebut tentang anjuran “merenung”, “berfikir”. Misal firman Allah Swt.:
Dasar ijithad ada dalam dua sumber utama dalam Islam, yaitu [[al-Qur’an]] dan al-Sunnah. Dalam al-Qur’an beberapa kali disebut tentang anjuran “merenung”, “berfikir”. Misal firman Allah Swt.:


إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا
Baris 45: Baris 45:
Dalam menetapkan kriteria-kriteria mujtahid, ulama berbeda pendapat terkait syarat-syarat ijtihad. Ada beberapa nama seperti al-Ghazali, al-Syatibi, al-Amudi dan al-Baydhawi yang memberikan syarat berbeda. Namun, penulis akan merangkum perbedaan tersebut dalam syarat sebagaimana berikut<ref>Wahbah al-Zuhaili, ''Ushul Fiqh al-Islami,'' (Beirut: Dar al-Fikr, 2013), juz 2, halaman 239. </ref>.  
Dalam menetapkan kriteria-kriteria mujtahid, ulama berbeda pendapat terkait syarat-syarat ijtihad. Ada beberapa nama seperti al-Ghazali, al-Syatibi, al-Amudi dan al-Baydhawi yang memberikan syarat berbeda. Namun, penulis akan merangkum perbedaan tersebut dalam syarat sebagaimana berikut<ref>Wahbah al-Zuhaili, ''Ushul Fiqh al-Islami,'' (Beirut: Dar al-Fikr, 2013), juz 2, halaman 239. </ref>.  


1.      Mengetahui makna-makna al-Qur’an baik secara etimologi atau terminologi.  
# Mengetahui makna-makna al-Qur’an baik secara etimologi atau terminologi.  
 
# Mengetahui hadis-hadis yang terkait hukum ''(hadist al-Ahkam)'' secara etimologi dan terminologi.  
2.      Mengetahui hadis-hadis yang terkait hukum ''(hadist al-Ahkam)'' secara etimologi dan terminologi.  
# Mengetahui posisi dan lokasi ayat, hadis yang nasikh-mansukh.  
 
# Mengetahui masalah ijmak dan lokasi-lokasi ijmak.
3.      Mengetahui posisi dan lokasi ayat, hadis yang nasikh-mansukh.  
# Mengetahui mekanisme oprasi kiyas: syarat dan seluk beluk kiyas.  
 
# Mengetahui ilmu gramatika bahasa arab: nahwu, sarraf, ma’ani, bayan dan lain sebagainya.  
4.      Mengetahui masalah ijmak dan lokasi-lokasi ijmak.
# Mengetahui ilmu ushul fiqh.  
 
# Mengetahui ilmu maqashid al-Syariah.
5.      Mengetahui mekanisme oprasi kiyas: syarat dan seluk beluk kiyas.  
 
6.      Mengetahui ilmu gramatika bahasa arab: nahwu, sarraf, ma’ani, bayan dan lain sebagainya.  
 
7.      Mengetahui ilmu ushul fiqh.  
 
8.      Mengetahui ilmu maqashid al-Syariah.


'''Tingkatan Dan Klasifikasi Mujtahid (Orang Yang Berijtihad)'''
'''Tingkatan Dan Klasifikasi Mujtahid (Orang Yang Berijtihad)'''


Ulama membagi mujtahid kepada beberapa tingkatan, yaitu: mujtahid mustaqil, mujtahid mutlaq ghayru al-Mustaqil, mujathahid mazhab, mujtahid murajjih, mujtahid fatwa. Secara lebih rinci, penjelasannya sebagaimana berikut.<ref>Wahbah al-Zuhaili, ''Ushul Fiqh al-Islami,'' (Beirut: Dar al-Fikr, 2013), juz 2, halaman 350.</ref>
Ulama membagi mujtahid kepada beberapa tingkatan, yaitu: mujtahid mustaqil, mujtahid mutlaq ghayru al-Mustaqil, mujathahid mazhab, mujtahid murajjih, mujtahid [[fatwa]]. Secara lebih rinci, penjelasannya sebagaimana berikut.<ref>Wahbah al-Zuhaili, ''Ushul Fiqh al-Islami,'' (Beirut: Dar al-Fikr, 2013), juz 2, halaman 350.</ref>
 
1.      Mujtahid Mustaqil yaitu mujtahid yang telah menerapkan kaidah-kaidah ushuliyah yang ia produksi sendiri untuk menggali hukum Islam. Ini tingkatan paling tinggi dan tak mungkin dijangkau hari ini. masuk dalam kategori ini Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Idris al-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal.
 
2.      Mujtahid Mutlaqh ghayru mustaqil adalah mujtahid yang mengambil metode imamnya dalam menggali hukum tetapi dalam beberapa kesimpulan (furu’) mereka berbeda. Contoh dalam kategori ini seperti Abu Yusuf, al-Muzanni, Zufar dan lain sebagainya.
 
3.      Mujtahid Mazhab adalah mujtahid yang murni mengikuti imamnya dalam ranah ushul dan furu’ tanpa menyelisi apapun dari mereka. Tugas mereka hanya melakukan istinbath hukum terhadap masalaj-masalah yang belum diriwayatkan oleh imamnya.
 
4.      Mujtahid murajjih, sesuai namanya mereka bertugas untuk mengunggulkan beberapa pendapat-pendapat yang diriwayatkan para imam. Alat tarjih yang mereka pakai menggunakan rumusan yang dikeluarkan imam di atasnya,


5.      Mujtahid fatwa adalah mujtahid yang bertugas menyampaikan hasil-hasil ijtihad mujtahid di atasnya tanpa melakukan pentarjihan.  
# Mujtahid Mustaqil yaitu mujtahid yang telah menerapkan kaidah-kaidah ushuliyah yang ia produksi sendiri untuk menggali hukum Islam. Ini tingkatan paling tinggi dan tak mungkin dijangkau hari ini. masuk dalam kategori ini Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Idris al-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal.
# Mujtahid Mutlaqh ghayru mustaqil adalah mujtahid yang mengambil metode imamnya dalam menggali hukum tetapi dalam beberapa kesimpulan (furu’) mereka berbeda. Contoh dalam kategori ini seperti Abu Yusuf, al-Muzanni, Zufar dan lain sebagainya.
# Mujtahid Mazhab adalah mujtahid yang murni mengikuti imamnya dalam ranah ushul dan furu’ tanpa menyelisi apapun dari mereka. Tugas mereka hanya melakukan istinbath hukum terhadap masalaj-masalah yang belum diriwayatkan oleh imamnya.
# Mujtahid murajjih, sesuai namanya mereka bertugas untuk mengunggulkan beberapa pendapat-pendapat yang diriwayatkan para imam. Alat tarjih yang mereka pakai menggunakan rumusan yang dikeluarkan imam di atasnya,
# Mujtahid fatwa adalah mujtahid yang bertugas menyampaikan hasil-hasil ijtihad mujtahid di atasnya tanpa melakukan pentarjihan.  


'''Medan atau ruang Ijtihad'''
'''Medan atau ruang Ijtihad'''