Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 48; Mengapresiasi Kedudukan Perempuan Merayakan Kesetaraan

Dari Kupipedia
Revisi sejak 12 Maret 2026 13.07 oleh Agus Munawir (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Mengapresiasi Kedudukan Perempuan Merayakan Kesetaraan
Penulis : Muhyidin Depe
Editor : AD. Kusumaningtyas
Seri : Edisi 48, Maret 2015
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 48; Mengapresiasi Kedudukan Perempuan Merayakan Kesetaraan
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 48
SeriEdisi 48, Maret 2015
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, sebentuk kalimat syukur semoga senantiasa menghiasi lisan maupun langkah kita atas setiap nikmat, keberkahan, dan karunia yang diberikan oleh Allah swt. Tentu, nikmat sehat, iman, dan Islam adalah anugerah yang tak terkira di samping kesempatan untuk senantiasa ber-thalabul ‘ilmi serta melakukan amal saleh di bumi-Nya.

Shalawat dan salam, marilah senantiasa kita haturkan untuk junjungan kita Baginda Rasulullah Muhammad saw. yang diutus oleh Allah swt. Untuk menyempurnakan akhlak manusia. Di antaranya untuk senantiasa menghargai kaum perempuan, melalui sabdanya “ummuka, ummuka, ummuka”, baru kemudian “abuka” (ayahmu) saat ditanya oleh sahabat mengenai kepada siapa seseorang harus terlebih dahulu meletakkan bakti (penghargaan sosialnya). Situasi ini, karena masyarakat jahiliyah pra Islam cenderung merendahkan perempuan, sungguh pun sejatinya mereka tercipta dari dzat yang sama dengan kaum lelaki, yaitu sama-sama diciptakan dari saripati yang berasal dari tanah. Hal ini karena kultur patriarkhis yang kuat di masa itu, sehingga penafsiran atas teks-teks klasik juga banyak dilakukan oleh kaum laki-laki. Akibatnya, banyak interpretasi teks keagamaan yang dipandang ‘bias gender’ akibat dominasi penafsiran pada salah satu jenis kelamin -yakni kaum laki-laki- ini.

Pembaca yang budiman,

Sejatinya, terdapat salah satu hadis Nabi yang menyatakan bahwa sesungguhnya kaum perempuan adalah “syaqaaiq al-rijaal” (saudara kandung kaum lelaki). Berbagai teks dalam Alquran juga secara tegas meletakkan kesetaraan kedudukan manusia baik lelaki dan perempuan, dimana pembeda derajat di antara mereka hanyalah kualitas ketakwaannya semata. Tak perlu diragukan lagi, Allah swt. melalui firman-firmanNya juga mengafirmasi kesetaraan amal saleh kaum perempuan, seperti halnya kaum laki-laki.

Upaya untuk mengkritisi kultur patriarki dan menemukan kembali ajaran-ajaran yang mendukung kesetaraan inilah yang menjadi concern seorang Gus Muhyi –panggilan akrab seorang Muhyidin Depe- seorang pendidik dan Ketua Yayasan Pesantren Mambaul Huda, Krasak, Banyuwangi pesantren yang dibesarkan dalam tradisi keilmuan klasik keagamaan Islam yang kuat untuk menuliskan pikirannya tentang nilai-nilai kesetaraan gender dan kisah-kisah kepemimpinan perempuan dalam khazanah klasik Islam maupun dunia kontemporer. Gagasan dan pemikiran itu tertuang secara komprehensif tersaji dalam suplemen Swara Rahima edisi ke-48 ini dengan judul “Mengapresiasi Kedudukan Perempuan: Merayakan Kesetaraan.”

Selain memberikan argumen bahwa tidak mungkin Allah swt. memiliki sifat misoginis (membenci perempuan) – tentu karena Dia adalah Maha Rahman dan Rahim, Gus Muhyi juga menggali spirit teks-teks ajaran Islam dalam Alquran tentang kesetaran gender serta penghargaan yang sama atas amal saleh yang dilakukan oleh manusia tanpa membedakan jenis kelaminnya, dia juga mengingatkan bahwa pada hakikatnya setiap manusia baik lelaki maupun perempuan adalah sosok yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Perbuatan baik maupun perbuatan buruk yang dilakukan, tentu berimplikasi pada ‘tingkat kesalehannya’ di mata Tuhan; maupun penilaian manusia terhadapnya.

Pembaca yang senantiasa dirahmati oleh Allah swt.

Ternyata, Islam tidak hanya mengajarkan nilainilai kesetaraan melalui doktrin ajaran yang diberikan Allah swt. melalui teks-teks dalam Alquran. Nabi, juga tak hanya melengkapinya dengan hadis-hadisnya baik yang berupa qaulan, fi’lan, taqriiran dan shifatan, namun sejatinya Islam juga mengangkat narasi sejarah perempuan. Ibu Nabi Musa, Maryam putri Imran ibunda Nabi Isa as. Ratu Balqis yang kisahnya terekam dalam Alquran, Khadijah, Aisyah menunjukkan narasi sejarah perempuan ini.

Her story atau narasi sejarah perempuan tersebut tak hanya sampai di sini. Melalui cerita rakyat AndeAnde Lumut yang berkisah tentang perjuangan cinta seorang Kleting Kuning demi menemukan, memilih dan menentukan pujaan hatinya, Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnu Wardhani, Kartini, bahkan hingga Eva Riyanti Hutapea, sang CEO ternama dan Angelique Wijaya sang petenis muda, tak luput dari perhatiannya untuk mengapresiasi dan mendukung perempuan untuk berkiprah seluas-luasnya di berbagai bidang, sepanjang itu untuk kebaikan.

Pembaca yang berbahagia,

Tentu kami juga akan sangat berbahagia bila tulisan panjang namun reflektif yang disajikan oleh Gus Muhyi ini bisa menjadi penyemangat. Kisah-kisah para inspiring women ini mudah-mudahan memperkuat ghirah kita untuk mengabdi pada Allah swt. melalui berbagai peran dan tanggung jawab kemanusiaan.

Akhirnya, kami cukupkan pengantar dari redaksi. Selanjutnya kami ucapkan “Selamat membaca”. Mudahmudahan banyak mutiara hikmah yang anda dapatkan dari setiap kalimat yang dibaca.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Redaksi