Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 52; Gerakan Laki-Laki Baru

Dari Kupipedia
Revisi sejak 12 Maret 2026 13.08 oleh Agus Munawir (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Gerakan Laki-Laki Baru
Penulis : Nur Hasyim
Editor : AD. Kusumaningtyas
Seri : Edisi 52, November 2017
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 52; Gerakan Laki-Laki Baru
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 52
SeriEdisi 52, November 2017
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, puji syukur tiada lupa kita haturkan ke hadirat Allah swt., sang Pemilik semesta. Semoga kesadaran untuk senantiasa bersyukur membuat kita menjadi hamba-Nya yang selalu ditambahkan nikmat-Nya. Kesehatan, kesempatan untuk mengisi hidup kita dengan silaturahim dan berbuat kebajikan, menjadi pribadi yang senantiasa berorientasi pada perbaikan diri dan selalu saling mengingatkan. Fabiayyi ala-i rabbikumaa tukadzdzibaan? Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang hendak kamu dustakan?

Shalawat dan salam, semoga tercurah pada Baginda Rasulullah Muhammad saw., atas berbagai pesan moralnya agar kita selalu berbuat baik pada sesama dan tidak melakukan berbagai bentuk kekerasan. Terlebih pada istri atau pasangan kita. Secara khusus, Nabi pernah menyampaikan pesannya saat Haji Wada’,” Dan ingatlah bahwa aku telah berwasiat kepadamu untuk selalu berbuat baik kepada kaum perempuan. Karena mereka seringkali menjadi sasaran pelecehan. Padahal kamu semuanya tidak boleh melakukan tidak kekerasan dan harus memperlakukan mereka hanya dengan kebaikan semata.” Semoga kesadaran ini juga membuat kita sadar tentang pentingnya menciptakan kehidupan yang penuh kedamaian, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Sehingga nantinya akan tercipta keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Pembaca yang mulia,

Adanya ketidakadilan gender yang ditandai dengan relasi yang tidak setara antara lelaki dan perempuan akibat dari konstruksi budaya patriarkhi telah menyebabkan banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan. Karena kekerasan ini terjadi akibat relasi gender yang timpang, maka kasus-kasus kekerasan yang banyak menjadikan perempuan sebagai korban sering pula disebut dengan Kekerasan Berbasis Gender (KBG). Sejumlah data statistik selalu menyebutkan bahwa dalam kasus kekerasan berbasis gender pelakunya adalah kaum laki-laki. Mengingat dalam budaya patriarki diposisikan sebagai pihak yang dominan, mereka sangat potensial untuk menjadi pelaku kekerasan. Namun, perlu diingat bahwa sejatinya kecenderungan ini bukanlah given atau kodrat dari Yang Maha Kuasa. Situasi ini muncul akibat pola didik dan pola asuh yang menekankan pada aspek maskulinitas.

Namun, benarkah maskulinitas mesti diekspresikan menjadi sosok dominan dan pelaku kekerasan? Trend laki-laki sebagai pelaku kekerasan, ternyata oleh sebagian laki-laki dirasakan sebagai ‘label negatif’ yang membuat mereka tak nyaman dalam melakukan interaksi sosial. Bagi gerakan perempuan pun, disadari bahwa mengabaikan laki-laki dalam upaya membangun relasi yang adil dan setara gender juga bukan merupakan pilihan tepat. Oleh karenanya, gerakan pelibatan laki-laki dalam mencegah dan menghapus kekerasan terhadap perempuan mulai berlangsung di berbagai belahan dunia. Studi gender juga mulai berkembang dengan tafsir baru atas maskulinitas. Refleksi pengalaman laki-laki maupun keterlibatan mereka sebagai ayah, sebagai sosok yang menawarkan nilai-nilai kerjasama, persahabatan, dan anti kekerasan juga mulai banyak diperkenalkan.

Melalui Suplemen edisi ke-52 kali ini, Swara Rahima mengangkat tema “Gerakan Laki-laki Baru”. Tulisan ini disajikan berdasarkan refleksi penulisnya, Nur Hasyim, MA., seorang aktivis yang pernah hidup dalam asuhan Feminisme melalui keterlibatannya di Rifka Annisa Yogyakarta, sebuah lembaga pendamping perempuan korban kekerasan. Lelaki yang akrab dipanggil Mas Boim ini kini beraktivitas sebagai salah seorang tenaga pendidik (Dosen) pada FISIP UIN Walisongo Semarang. Ia juga merupakan salah satu penggagas Aliansi Laki-laki Baru, sebuah jejaring laki-laki yang banyak terlibat menjadi aktivis gerakan perempuan yang salah satu upayanya adalah memperkenalkan dan mengkampanyekan kepada publik tentang pentingnya kaum laki-laki terlibat dalam pencegahan maupun penghapusan kekerasan berbasis gender.

Pembaca yang berbahagia,

Melalui penuturannya di rubrik Suplemen, Mas Boim akan bercerita panjang lebar, tak hanya tentang Aliansi Laki-laki Baru, sebuah jejaring yang turut ia dirikan. Namun, jauh sebelumnya, ia akan berefleksi mengapa laki-laki penting untuk terlibat dalam upaya penghapusan tindak kekerasan maupun membangun masyarakat yang adil dan setara gender.

Beragam teori ia ulas, beragam pengalaman di berbagai negara tentang gerakan laki-laki baru yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender serta berupaya menghapus kekerasan berbasis gender ia sajikan, dan tentunya refleksi pengalaman sebagai laki-laki yang menurutnya ‘tumbuh dalam asuhan gerakan perempuan’ maupun harapannya menjadi sosok ayah yang peduli pada pengasuhan anak dan partner yang baik bagi pasangan, juga hendak ia ungkapkan di rubrik ini.

Semua tak lak lain karena kesadaran bahwa “inna an-nisaa’ syaqaa-iq al-rijaal” (sesungguhnya kaum perempuan adalah saudara kandung bagi laki-laki), yang juga diperintahkan agar “tasaa-aluuna bihi wal arhaam” (saling tolong menolong dan saling bersilaturahim) dengan kaum perempuan.

Demikian pengantar dari kami. Semoga semua yang kami sajikan bermanfaat. Dan akhirnya: “Selamat Membaca!”, karena membaca adalah salah satu jendela dunia.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Redaksi