Warkah Al-Basyar Volume I Tahun 2002; Edisi 03 Islamisasi Versus Kristenisasi, Mengapa Takut?

Informasi Buletin:
| Sumber | : | Yayasan Fahmina |
| Nama Buletin | : | Warkah Al-Basyar |
| Seri | : | Volume I Tahun 2002; Edisi 03 |
| Tanggal Terbit | : | 19 Juli 2002 M |
| (8 Jumadil Ula 1423 H) | ||
| Penerbit | : | Fahmina Institute |
| Penulis | : | Bou Dhiya SH. |
| Link Download | : | Download Warkah Al-Basyar |
NGGAK ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba latar keagamaan negeri Cirebon beck terkena genangan air 'petualangan VCD Yesus. Kata sang pengampu budaya: "In kristenisasi bahasa Cirebon, pemantadan di siang bolong". "Pembejatan moralitas umat", gugat aktivis Islam yang kebetulan mahasiswa salah satu PT di Cirebon. Atau 'Ekspansi telanjang oleh sang koboy Amerika', ucap politisi (baca: calon politisi).
Mungkin kita perlu duduk sejenak, merenungkan tiga klausa di atas; kristenisasi bahasa, pembejatan moral dan ekspansi politik musuh. Tentu dalam kaitannya dengan petualangan VCD Nabi Isa al-Masih 'alaihi as-salam (semoga kerahmatan selalu memberkahinya), di jagat negara Cirebon.
Universalitas Bahasa
Orang-orang pesantren selalu diajarkar.; bahwa ada ilmu alat dan ada ilmu maqashid (tujuan). Yang termasuk ilmu magasind adalah aqidah dan al-Qur'an Yang termasuk imu alat itu, nabe, sharaf, dan balaghan. Atau semua yang berkaitan dengan bahasa adalah ilmu alat.
Artinya bahasa itu alat, bukan tujuan. Sebagai sebuah alat, tentu bisa digunakan oleh siapa saja, ubruk apa saja, kapan saja dan di mana saja. Tidak ada bahasa yang beragama Islam. Mungkin yang ada adalah bahasa dengan muatan kosa kata-kosa kaz yang bersumber dari Islam. Yaitu bahas Arab. Terapi ia bukan bahasa Islam.
Babasa Arab digunakan oleh orang-orang kafir dan jahiliyah, sebagaimana juga digunakan oleh Allah untuk firman-Nya: Qur'an. Dilafalkan oleh orang-orang Yahudi, Kristen. Majusi, bahkan oleh orang-orang bejat dan zalim, seperti jug digunakan oleh orang-orang shaleh para sufi.
Bahasa apapun di dunia ini adalah alat. Als untuk berbicara, bertutur kata da menyampaikan sesuatu. Karena itu, ia tlak mengikat dengan waktu tertentu, rempar! tertentu, apalagi againa, bahkan rasan bangsa tertentu. Pelabelan bahasa dengan bangsa tertentu, atau suku tertentu lebih mudah sebenarnya untuk mengidentifikasi dan mengenal. Bukan berarti ia menjadi khusus milik mereka. Tidak juga hanya digunakan oleh mereka. Siapapun boleh belajar bahasa apa saja, untuk kepentingan dirinya. Karena itu Nabi Muhammad Shallahu 'alaihi wa sallam (Semoga senantiasa diberkati dan, dirahmati oleh Allah), menyarankan kepada sahabat Zaid bin Tsabit ra untuk belajar bahasa Qibthi (Mesir), Parsi dan Ibrani.
Bahasa Cirebon juga sama, ia adalah alat Tidak punya jenis kelamin, tempat tinggal apalagi agama. Karena itu, tidak bisa katakan Kristenisasi bahasa Cirebon ketika orang-orang Kristen menggunakannya untuk kepentingan mereka. Sebagaimana juga tidak bisa dikatakan Islamisasi, ketika kita menggunakannya untuk kepentingan da'wah kita.
Orang-orang Islam ketika menggunakan bahasa Jawa untuk dakwah, tidak bisa dikatakan penyelewengan bahasa' atau penyesatan oleh orang-orang Hindu pendahulu mereka. Apalagi pemurtadan. Hal yang sama juga, kepada misi Kristen dengan bahasa Jawa.
Bahasa Cirebon milik orang yang menggunakannya. Dari manapun ia, beragama apapun dan untuk kepentingan apapun. Apakah ketika ada orang Arab berbahasa Cirebon kita anggap sebagai Arabisasi bahasa Cirebon, lalu orang
Cina; Cinaisasi Cirebon. Atau untu kepentingan suatu agama, dianggap sebag Islamisasi bahasa Cirebon yang panta digugat oleh para pendahulu Hindu, ata Kristenisasi yang orang Islam Cirebon haru marah, atau Kongfusianiasi, Kepercaya anisasi, hanya karena ia digunakan dalam ritual pemeluk-pemeluknya? Tidak.
Bahasa apapun adalah alat. Setiap orang berhak menggunakannya. Sekalipun tanpa undang-undang yang menjamin kebebasan untuk menggunakan bahasa. Allah telah menjamin hak tersebut serak lahir. Orang Islam tidak harus berbahasa Arab, jawa, atau yang lain. Juga udak bisa dilarang untuk berbahasa Inggris, Cina, Rusia, atau apapun. Hak yang sama juga melekat dan diberikan secara sengaja oleh Allah SWT kepada seluruh manusia. Agama apapun dia.
Demi Moralitas
VCD Yesus dalam bahasa Jawa Cirebon akan membejatkan moralitas umat. Benarkah? Apakah moralitas itu? Kejujuran, tanggung jawab, kemuliaan, kasih sayang, keibaan, incibantu orang dan berempati kepada rakyat. Apakah di dalam VCD in', Yesus mengajak orang untuk membunuh, curang, dengki, saling hasut, membohongi, manipulasi dan menipu rakyat. Nau'udzu billah.
Yesus adalah manusia agung yang diabadikan oleh al-Qur'an dalam berbagai ayat-ayat. Diagungkan oleh Nabi Muhammad Saw. bahkan baginda menyarankan: "Jangan lebih-lebihkan aku dari saudaraku Isa ibn Maryam, aku malu". Nilai-nilai keagungan Isa al-Masih diabadikan oleh al-Qur'an; meng-apa kita menolaknya, bahkan mengatakannya sebagai kebejatan. Syekh Ahmad Kaftaro, pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah Syria menyatakan: "Sungguh, seorang muslim tidak bisa menjadi muslim sejati sebelum menerima keagungan Isa al-Masih as, Musa as, dan Nabi-Nabi yang lain, di samping Muhammad Saw". Artinya, kita harus banyak belajar tentang keagungan Nabi-nabi, sebagai syarat mutlak keimanan.
Tetapi prakteknya, kita lebih takut untuk tahu, melihat dan mendengar tentang Isa atau Yesus, dari pada tentang lakon-lakon para politisi yang sering menipu, pejabat yang mengibul, bahkan lebih menakutkan daripada VCD-VCD porno yang bertebaran di mana-mana. Mengapa?
Takut anak kita, atau keluarga kita menjadi Kristen. Benarkah karena ketakutan ini, menjadikan kita membabi buta dan sewenang-wenang membuat tuduhan dan cercaan? Adakah inaksud lain, di balik omongan ketakutan dan kekhawatiran ini?
Islam dan Kristen adalah sama-sama agama da'wah dan misi. Islam punya kewajiban da'wah dan Kristen punya keharusan misi. Kita tidak ingin dianggap melakukan pemurtadan atau penyelewengan ketika kita berda'wah di gereja, atau menyampaikan Islam kepada orang-orang Kristen Amerika dengan bahasa Inggris. Orang Kristen juga merasakan dan mengiginkan perlakuan yang sama.
Karena itu, yang diperlukan adalah aturan main yang fair dan adil, yang dibangun atas dasar kebersamaan. Penegakannyapun harus tegas, tidak pandang ia mayoritas, punya uang, dekar dengan kekuasaan, atau didukung kekuatan asing. Harus ada ketegasan aturan yang fair dan adi!
Setiap persoalan yang mencuat, pengusutannya harus dikaitkan dengan aturan main. Bukan atas dasar emosi mayoritas atau kepentingan politik. Aturan ditegakkan kepada semua.
Kebenaran agama, sebagai kebenaran yang nyata (al-rusa al-buni, udak bisa dipaksakan, bahkan tidak boleh dipaksakan (QS, 2:256). Karena itu, sekali lagi yang diperlukan adalah aturan main untuk semua, yang fair, adil dan tegas.
Mentalitas yang hanya lantang untuk penegakan hukum atas orang lain, tetapi membisu atas diri dan kelompoknya, adalah mentalitas pengkhianat, kata al-Qur'an (QS, 4:105). Ketika sudah ada aturan yang fair dan adil, mengapa harus takut dengan Islamisasi atau Kristenisasi. Keragaman agama, ras, bahasa adalah sunnatullah, yang sengaja diciptakan oleh Allah SWT (Q3, 11:118) Lalu, mengapa takut pada keragaman?