2025 Reformulating the Concept of Nusyuz in Malaysian Islamic Family Law: A Mubadalah-Based Gender Justice Analysis in Malaysian Islamic Family Law
Abstrak: Artikel ini mengkaji ulang konstruksi nusyuzdalam Undang-Undang Keluarga Islam Malaysia. Formulasi legal yang berpusat pada ketaatan istri tersebut menimbulkan persoalan serius terkait hierarki gender dan berdampak langsung pada hak perempuan atas nafkah, perlindungan, martabat, dan akses keadilan. Artikelini bertujuan mengevaluasi bias gender dalam definisi serta penerapan nusyuz, sekaligus menawarkan kerangka alternatif menggunakan teori hermeneutika mubadalah, yang menekankan kesalingan, tanggung jawab bersama, dan relasi setara dalam keluarga. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif kualitatif dengan pendekatan komparatif terhadap enakmen hukum keluarga Islam di beberapa negeri di Malaysia, dianalisis berdasarkan teori mubādalah. Kebaruannya terletak pada penerapan mubādalahsebagai kerangka analisis untuk menegaskan prinsip kesalingan dan keadilan dalam hukum keluarga Islam.Hasilpenelitian menemukan bahwa reduksi nusyuzmenjadi kewajiban unilateral perempuan tidak hanya memperkuat relasi kekuasaan yang timpang, tetapi juga melemahkan perlindungan hukum bagi perempuan dalam kasus konflik domestik. Melalui perspektif mubadalah, artikel ini mengusulkan reformulasi nusyuzsebagai kategori hukum bilateral yang berlandaskan kesalingan moral dan legal. Rekomendasi meliputi revisi legislasi, perumusan garis panduan yudisial yang lebih setara, serta integrasi asas kesalingan dalam pembaruan hukum keluarga Islam Malaysia.
| Judul | Reformulating the Concept of Nusyuz in Malaysian Islamic Family Law: A Mubadalah-Based Gender Justice Analysis in Malaysian Islamic Family Law |
|---|---|
| Penulis |
|
| Seri | Vol. 2 No. 2 December (2025) |
Tahun terbit | 2025-12-27 |
| ISSN | 3063-587x |
| DOI | https://doi.org/10.70992/5wj72143 |
| Sumber Original | Journal of Islamic Mubadalah |
| (Download Original) | |
Kata Kunci: Nusyuz,Mubadalah,Hukum Keluarga Islam,Perempuan, Reformasi Hukum
Abstract: This article reexamines the legal construction of nusyuzwithin Malaysian Islamic Family Law. The formulation that positions obedience as a unilateral obligation of the wife generates serious concerns related to gender hierarchy and directly affects women’s rights to maintenance, protection, dignity, and accessto justice. The study aims to evaluate gender bias in both the legal definition and judicial application of nusyuz, while proposing an alternative framework based on the Mubadalah hermeneutical theory, which emphasizes reciprocity, shared responsibility, and egalitarian family relations.This study employs a qualitative normative legal method with a comparative approach to examine Islamic family law enactments across several states in Malaysia, analyzed through the framework of the theory of mubādalah. The novelty of this research lies in the application of the mubādalah perspective as an analytical framework to articulate principles of reciprocity and justice in Islamic family law.The research results found thatreduction of nusyuzinto a one-sided duty imposed on women not only reinforces unequal power relations but also undermines legal protection for women in situations of domestic conflict. Through the Mubadalah perspective, this article proposes the reformulation of nusyuzas a bilateral legal category grounded in moral and legal reciprocity. Recommendations include legislative revision, the development of more equitable judicial guidelines, and the integration of reciprocal principles into future reforms of Malaysian Islamic family law.
Keywords: Nusyuz,Mubadalah,Islamic Family Law,Women, Legal Reform.