Modul Pendidikan Pengaderan Ulama Perempuan Edisi 1
Info Artikel:
| Sumber | : | Swara Rahima |
| Judul Buku | : | Modul Pendidikan Pengaderan Ulama Perempuan |
| Penulis | : | Faqihuddin Abdul Kodir, Nur Rofiah, Pera Soparianti, Nuansa Garini |
| Editor | : | Masruchah, Wanda Roxanne |
| Desain & Layout | : | Ricky Priangga Subastiyan |
| Penerbit | : | Rahima |
| Tahun Terbit | : | Cetakan I: 2024 |
| Halaman dan Dimensi | : | xvi + 230 halaman | 17,6cm x 25cm |
| Akses Buku | : | Download |

Alhamdulillah, rasa syukur yang mendalam atas lahirnya modul Pengaderan Ulama Perempuan (PUP) Rahima yang sudah direvisi dari modul sebelumnya dengan menggunakan pendekatan KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia) baik dari sisi pendekatan, perespektif dan metodologi maupun dari sisi dakwah. Pendekatan, persepektif dan metodologi KUPI yang dimaksud adalah pendekatan makruf, mubadalah dan keadilan hakiki atau yang sering disebut trilogi KUPI untuk sampai pada keadilan dan kemaslahatan bagi perempuan. Trilogi KUPI juga menjadi pendekatan dalam strategi dakwah yang dilakukan baik dakwal secara offline maupun online megisi ruang-ruang di media sosial. Modul ini merupakan salah satu ikhtiar kami dalam proses melahirkan para ulama perempuan yang tidak hanya memiliki wawasan keagamaan yang mendalam, tetapi juga mempunyai perspektif adil gender dan keberpihakan pada perempuan dan kelompok mustad’afin.
Modul yang ada di tangan para pembaca ini, dilatarbelakangi setidaknya oleh dua hal. Pertama, berangkat dari kegelisahan maraknya kampanye khususnya di media sosial dengan menggunakan narasi agama yang menjadikan perempuan sebagai objek. Misalnya, kampanye poligami, nikah muda, dan lain sebagainya merupakan bukti nyata bagaimana objektifikasi perempuan terus dikembangkan dengan menggunakan narasi agama. Kampanye tersebut kebanyakan dilakukan oleh tokoh agama laki-laki dengan dalih menghindari fitnah, menjaga moral perempuan, menghindari zina, dan lain sebagainya tanpa mempertimbangkan dampak negatif bagi kehidupan perempuan.
Situasi tersebut menjadi tantangan sekaligus ancaman besar bagi kami sebagai gerakan yang memperjuangkan Islam yang rahmatan lil alamin sebagai anugerah dan rahmat tidak hanya bagi laki-laki tetapi juga bagi perempuan. Dalam hal ini, Islam menempatkan perempuan sebagai subjek penuh kehidupan sebagaimana laki-laki. Perempuan maupun laki-laki sama-sama sebagai hamba Allah, keduanya mengemban amanah sebagai khalifah fil ardhi untuk mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia termasuk perempuan dan alam semesta. Kehadiran ulama perempuan diproyeksikan tidak hanya mahir berdakwah di komunitas masing-masing namun juga mengisi ruang dakwah di media sosial.
Kedua, adanya kebutuhan yang tidak terelakan lagi melahirkan ulama perempuan untuk menjawab berbagai tantangan dan persoalan yang dihadapi dengan menggunakan pendekatan dan perspektif KUPI. Karena itu, Rahima terus berkomitmen melahirkan ulama perempuan melalui Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) sebagai pendidikan khas Rahima yang telah dikembangkan sejak 2005. Hingga kini, sudah ada tujuh angkatan pendidikan PUP dan telah melahirkan 270 orang ulama perempuan dari enam provinsi di Indonesia yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Aceh dan Sulawesi Selatan.
Modul ini kami rancang dengan memuat lima tema besar yang dituangkan dalam lima tadarus dengan durasi masing-masing tadarus selama empat hari secara offline. Lima tema besar yang diangkat tidak hanya memuat penguatan pengetahuan namun juga penguatan skill para ulama perempuan. Berikut lima tema dari lima tadarus tersebut. Tadrus pertama membahas Orientasi keulamaan, analisis gender, kesehatan reproduksi, dan hak-hak perempuan. Tadarus kedua, membahas Metode kajian Islam pendekatan makruf, Keadilan Hakiki dan Mubadalah pada kajian tafsir AlQur’an, hadis, dan fikih. Tadarus ketiga membahas Metodologi Fatwa KUPI dan Praktik Membuat Fatwa. Tadarus keempat membahas Analisis sosial, Kepemimpinan perempuan, dan pengorganisasian komunitas. Tadarsu kelima Dakwah digital yang membahas metode, strategi, dan keterampilan dalam melakukan dakwah baik secara offline maupun online.
Pendidikan PUP ini menggunakan metode Pendidikan Orang Dewasa (POD) yang menempatkan peserta sebagai subjek dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Dalam metode POD, peran narasumber tidak hanya memberi pengetahuan baru, namun menjadi ruang untuk klarifikasi dari pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki. Peran fasilitator dalam pendidikan menjadi kunci bagi keberhasilan pendidikan. Fasilitator tidak hanya paham pendidikan orang dewasa, tetapi juga mempraktikkannya sehingga semua peserta merasa nyaman, saling menghormati, dan menghargai pendapat antar peserta. Methode pendidikan PUP dilakukan dengan dua cara yakni pendidikan di dalam dan di luar kelas. Pendidikan di dalam kelas yang sifatnya penguatan pengetatahuan dan keterampilan yang diperoleh selama proses di dalam kelas. Sedangkan pendidikan di luar kelas dilakukan dengan turun lapangan yang dilakukan oleh para peserta PUP setelah mengikuti masing-masing tadarus untuk melakukan pengamatan di komunitas dan melakukan kajian sesuai dengan materi yang didapatkan. Hasil pengamatan dan kajian tersebut akan disampaikan oleh peserta di awal tadarus berikutnya.
Secara khusus, modul ini sebagai pegangan fasilitator dalam melakukan pendidikan pengkaderan ulama perempuan, apapun nama kegiatannya baik oleh Rahima maupun oleh alumni peserta PUP sebagai pegangan dalam melakukan pendidikan serupa di komunitasnya masing-masing. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan modul ini juga digunakan oleh siapapun termasuk ulama perempuan lainnya serta lembaga atau organisasi serta praktisi yang mempunyai fokus yang sama dalam memberikan pendidikan bagi ulama perempuan maupun tokoh agama muda di komunitas. Kami menyadari, modul ini masih jauh dari sempurna dan masukan dari para pengguna maupun pembaca sangat penting bagi kami.
Jakarta, 31 Januari 2024
Pera Sopariyanti (Direktur Rahima)