Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 42; Mengurai Konflik, Merangkai Peradaban

Dari Kupipedia

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Mengurai Konflik, Merangkai Peradaban
Penulis : Yulianti Muthmainnah
Editor : -
Seri : Edisi 42, Juli 2013
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 42; Mengurai Konflik, Merangkai Peradaban
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 42
SeriEdisi 42, Juli 2013
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur kita lantunkan ke hadirat Allah swt., Sang Maha Rahman dan Rahima, Penguasa jagat raya. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kita masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan tahun ini dan mengisinya dengan amal ibadah dan berbagai amal kebajikan. Shalawat dan salam, semoga selalu tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad saw. yang telah mengajarkan makna ‘salam’, untuk membangun perdamaian demi kemakmuran peradaban umat manusia. Dalam berbagai inti ajaran maupun perjalanan hidupnya, Nabi Muhammad senantiasa mengajak umatnya untuk menjaga kerukunan, menjauhi permusuhan, dan saling tolong menolong dalam kebaikan.

Pembaca setia Swara Rahima dimanapun Anda berada,

Kali ini Suplemen Edisi 42 Swara Rahima mengangkat topik “Mengurai Konflik, Merajut Peradaban”. Ditulis oleh Yulianti Muthmainnah, peserta program Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) Rahima Angkatan I Wilayah Jawa Barat yang kini bekerja di Komnas Perempuan, sebuah lembaga negara yang berkonsentrasi pada penegakan HAM dan penghapusan berbagai bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan. Pengalamannya selama bekerja melakukan pemantauan atas berbagai pelanggaran HAM dan kekerasan terhadap perempuan, menemukan bahwa perempuan dan anak-anaklah korban terbesar bagi setiap konflik atas nama apa saja, termasuk konflik bernuansakan agama.

Secara panjang lebar tulisannya mengulas bagaimana perempuan berupaya untuk membangun memorabilia atas peristiwa-peristiwa konflik yang terjadi dan belajar untuk keluar dari situasi itu dengan merajut upaya perdamaian di atas tanah tempat tinggal mereka. Mereka menggunakan berbagai media budaya seperti ‘menganyam noken’, seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu di tanah Papua untuk merajut kembali perdamaian atas konflik yang mengakibatkan keluarga, sanak saudara, dan orang-orang mereka cintai tercerai berai.

Para pembaca Swara Rahima yang budiman,

Dalam tulisannya Yuli juga mengulas bagaimana PBB telah menerbitkan Resolusi 1325 untuk mengakhiri konflik yang terjadi. Ia juga menerangkan bahwa dalam Islam, juga cukup banyak teks-teks yang mengajarkan setiap manusia untuk menghindari konflik pertikaian dan permusuhan; serta mengedepankan bagaimana untuk selalu mendapatkan solusi damai untuk mengantisipasi setiap perbedaan.

Yuli juga akan berbagi pengalamannya, ketika sempat berkunjung ke Afrika Selatan. Ke negeri dimana pejuang Anti Apartheid Nelson Mandela, mengeja kata damai, dan merefleksikan bahwa momen-momen pertempuran, konflik, dan peperangan senantiasa membawa kesengsaraan dalam kehidupan masyarakat, terutama anak-anak dan perempuan. Mereka mengabadikan beragam peristiwa melalui monumen-monumen yang dapat bercerita bagaimana upaya mereka mengakhiri penindasan.

Harapan kami, dengan membaca tulisan ini, kita selalu terinspirasi untuk jadi ‘peace maker’ bagi lingkungan sekitar kita. Selain itu, mudah-mudahan sebagai umat manusia dan Khalifah Tuhan di muka bumi, kita semakin sadar akan tugas kita untuk menjaga pwerdamaian dan membangun peradaban.

Mudah-mudahan banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan dari suplemen Swara Rahima edisi 42 ini. Akhirnya kami ucapkan Selamat membaca!

Jakarta, Juli 2013

Redaksi